Penyakit kardiovaskular statis menjadi salah satu tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat bahwa jumlah serangan jantung di Indonesia diperkirakan mendekati 700.000 kasus setiap tahunnya. Di tengah besarnya beban pandemi kardiovaskular tersebut, gangguan irama jantung maupun aritmia juga perlu dikenali sejak dini.
Salah satu jenis aritmia yang paling lazim adalah fibrilasi atrium maupun Atrial Fibrillation (AF). AF yang tidak terdeteksi dan tidak tertangani dapat menaikkan konsekuensi komplikasi serius seperti stroke maupun gagal jantung dan menaikkan konsekuensi kematian jantung mendadak maupun sudden cardiac death. Di Indonesia, prevalensi AF sebesar 3,2%. Di tahun 2023 ditemukan ada sekitar lebih dari 7 juta orang mengalami artimia.
Melihat kondisi tersebut, Siloam Hospitals TB Simatupang mendorong edukasi dan inovasi awal gangguan irama jantung melalui kampanye “Let’s Check the Beat” yang dimulai sejak 5 Maret 2026. Bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), kampanye ini membujuk penduduk mengenali aritmia dan aspek risikonya, serta berbuat inovasi awal melalui pengecekan elektrokardiogram (EKG).
1 dari 10 orang alami aritmia
Dalam rangka World Heart Day yang diperingati setiap 29 September, Siloam Hospitals TB Simatupang menyampaikan hasil skrining EKG yang dilakukan pada 1.412 peserta berumur 15-64 tahun. Mereka menjalani pengecekan EKG sepanjang 5 Maret hingga 15 September 2026.
“Hingga 15 September 2026, hasil EKG Screening memberitahu ada 164 orang terdeteksi aritmia. Terbanyak di rentang usia 25 – 44 tahun dengan presentase sebesar 51,82%. Meski demikian, komposisi ini tidak membuktikan bahwa himpunan usia produktif memiliki konsekuensi lebih tinggi daripada usia lanjut," ujar Hospital Director Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Dewi Wiguna, M.Sc.
Data tersebut menunjukkan, sekitar satu dari setiap sepuluh orang yang diperiksa memberitahu gejala gangguan ritme jantung, meskipun sebagian besar mungkin tidak menyadari kondisi tersebut. Data ini menjadi pengingat bahwa pengecekan jantung secara berkala berpartisipasi krusial dalam menemukan konsekuensi secara lebih dini, sehingga cara pencegahan dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menyampaikan, Atrial Fibrilasi (AF) adalah gangguan irama jantung yang sering tidak bergejala, tetapi dapat berujung pada stroke, gagal jantung, hingga kematian jantung mendadak. Karena itu, inovasi awal sangat penting.
Deteksi Dini Aritmia
Untuk meneteksi aritmia cukup dengan berbuat pengecekan EKG. Kampanye Let’s Check The Beat menyediakan pengecekan EKG cuma-cuma agar penduduk dapat mengenali irama jantung dan risikonya. dr. Dewi menambahkan, masyarakat yang berbuat EKG screening dalam kampanye tersebut telah mendapatkan edukasi, serta diberikan anjuran cara mula penanganan aritmia seperti konsultasi cuma-cuma dengan tabib ahli jantung, terutama bagi yang terdeteksi aritmia. "Kami percaya cara kecil ini bisa membantu menyehatkan Indonesia. One small step today, for a healthier heart tomorrow," jelasnya.
Skrining jantung melalui pengecekan EKG juga sudah tersedia di puskesmas dalam program Cek Kesehatan Gratis, terutama bagi usia 40 tahun ke atas dengan darah tinggi dan/atau kencing manis melitus. Bila hasil skrining EKG di puskesmas memberitahu hasil yang tidak normal, perlu ditindaklanjuti ke akomodasi pelayanan kesehatan (fasyankes) rujukan agar segera mendapat penanganan lebih lanjut.
Ketua Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), dr. Erika Maharani, Sp.JP(K), dalam sambutannya mengatakan, ”Data memberitahu bahwa insiden pasien aritmia terus meningkat dari waktu ke waktu. Meski penanganannya di Indonesia statis menghadapi beragam tantangan, upaya inovasi awal dan edukasi publik mesti terus kita jalankan secara konsisten.”

Penanganan Aritmia
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dan Kepala Staf Medis Fungsional Bidang Kardiologi Siloam Hospitals TB Simatupang serta ahli aritmia di Indonesia, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan, penduduk yang sudah terdeteksi aritmia bisa menjalani tindakan. Salah satu pilihan tata laksana adalah ablasi kateter, terutama pada AF yang ditangani dalam satu tahun pertama.
“Aritmia, khususnya Atrial Fibrillation (AF), perlu dikenali dan ditangani sedini mungkin. Kebanyakan orang yang belum teredukasi mengenai penanganan aritmia cenderung menunda berbuat ablasi kateter. Padahal berbuat ablasi pada AF awal yaitu kurang dari 1 tahun, terbukti bukan cuma memperbaiki kualitas hidup tetapi juga dapat mencegah stroke dan memperpanjang harapan hidup," ujar dr. Yoga.
Di Siloam Hospitals TB Simatupang sendiri, ablasi tersedia dengan teknologi RFA (Radiofrequency Ablation), CBA (Cryoballoon Ablation), dan PFA (Pulse Field Ablation) sesuai kebutuhan pasien.