Cari aktivitas stimulasi otak anak di rumah? Coba 10 aktivitas sederhana seperti membaca, bermain musik, tebak-tebakan, hingga menggambar.
Otak anak, terutama pada usia dini, berkembang sangat pesat. Itu sebabnya orang tua perlu memberikan stimulasi melalui beragam aktivitas. Beberapa orang tua mungkin membelikan mainan mahal untuk merangsang stimulasi otak, tapi metode ampuh tak mesti mengorbankan keadaan finansial.
Aktivitas di rumah melalui hubungan sederhana dan permainan simpel bisa menjadi salah satu metode stimulasi otak anak yang super efektif. Mommies bisa memanfaatkan benda-benda sederhana di sekitar kita menjadi sarana stimulasi otak anak.
Merangsang evolusi otak anak punya banyak manfaat. Semuanya itu bisa dilakukan dengan aktivitas simpel berbareng personel famili lainnya. Berbagai riset juga memberitahu bahwa aktivitas jasmani dan hubungan berbareng famili dapat mendukung evolusi anak, termasuk sisi kognitif dan sosial.
BACA JUGA: Stimulasi Otak Sejak Dini, Ini 7 Cara Menumbuhkan Rasa Ingin Tahu Anak
Berikut adalah 10 aktivitas untuk stimulasi otak anak yang bisa dilakukan berbareng si kecil di rumah.
1. Membaca buku bersama

Foto: Pexels
Membaca buku berbareng bisa menjadi salah satu aktivitas edukatif anak yang paling sederhana. Tidak mesti membaca seluruh cerita dengan cepat. Ajak anak melihat gambar, mengutarakan nama barang maupun karakter dan menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aktivitas membaca sambil membujuk anak berbicara dan bertanya juga memberi kesempatan untuk melatih bahasa, perhatian, dan kapasitas mengingat. CDC terlebihlagi merekomendasikan orang tua membacakan buku sambil mengajukan pertanyaan sederhana tentang gambar maupun cerita sesuai usia anak.
2. Permainan sensori yang menggunakan barang-barang di rumah
Perkembangan anak usia awal sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang melibatkan beragam indra. Nggak perlu beli mainan mahal, aktivitas seperti bermain tepung, beras, air, maupun playdough buatan sendiri bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi tekstur, gerakan, dan sebab-akibat. Mommies bisa menyediakan wadah berisi beras kering maupun air, kemudian berikan mangkuk kecil dan sendok. Biarkan anak menuang, meremas, maupun memindahkan benda-benda tersebut.
Catatan: selalu sesuaikan barang dengan usia anak dan dampingi selama bermain, terutama jika menggunakan barang kecil yang berisiko tertelan.
BACA JUGA: 20 Sensory Bag untuk Anak yang Mudah Dibuat di Rumah, Bikin Betah Bermain dan Belajar
3. Bermain musik
Tidak punya alat musik di rumah? Tidak masalah. Putar lagu favorit anak dan ajak mereka bernyanyi, bertepuk tangan maupun menari. Mommies juga bisa membikin permainan freeze dance. Saat musik berhenti, anak mesti ikut selesai bergerak. Permainan ini melatih kapasitas mendengarkan, mengikuti instruksi dan mengendalikan gerakan.
Penelitian yang dimuat di NCBI memberitahu bahwa aktivitas musik pada anak berhubungan dengan beragam sisi perkembangan, termasuk kapasitas kognitif, bahasa, dan emosional. Namun, bukan berarti bermain musik otomatis membikin otak menjadi “lebih pintar”, ya, Mommies.
Simpelnya, bermain musik memberi anak kesempatan untuk belajar mendengarkan, mengikuti pola, bergerak, dan berhubungan dengan orang lain.
4. Membantu pekerjaan rumah

Foto: Pexels
Aktivitas sehari-hari juga bisa menjadi permainan edukatif anak di rumah. Libatkan anak dalam pekerjaan sederhana sesuai usia. Tak perlu pekerjaan bermutu seperti membantu mencuci mobil, ya. Bahkan aktivitas rumahan seperti merapikan mainan, memasukkan busana ke keranjang cucian maupun membantu menyiapkan makanan.
Untuk anak usia prasekolah, aktivitas seperti memilih barang, menghitung bahan dan mengikuti beberapa instruksi sederhana dapat melatih kemandirian, loh.
CDC juga memasukkan pekerjaan rumah sederhana seperti memasukkan busana maupun merapikan barang sebagai aktivitas yang dapat dilakukan anak sesuai usia.
5. Bermain peran
Bermain peran bisa jadi metode terbaik untuk melatih fungsi pelaksana otak anak. Ketika anak berpura-pura menjadi dokter, koki, maupun pemadam kebakaran, mereka sedang menggunakan imajinasi, mengingat ketentuan permainan, dan memecahkan masalah. Tak perlu mengeluarkan duit mahal untuk datang ke salah satu playground agar anak bisa merasakan sehari seperti jurumasak maupun dokter.
Di rumah, gunakan properti sederhana seperti kardus sisa menjadi mobil-mobilan, maupun kain sarung menjadi jubah pahlawan super. Selain membikin mereka kreatif, mereka juga bisa melatih keahlian sosial jika permainan ini juga dimainkan oleh personel famili lainnya.
Pretend play memang termasuk aktivitas yang direkomendasikan untuk mendukung evolusi kapasitas sosial, kognitif, dan peraturan diri anak.
6. Bermain tebak-tebakan
Buat permainan tebak-tebakan sederhana menggunakan barang yang ada di rumah. Mommies bisa memberikan beberapa instruksi dan meminta anak menebak bendanya. Misalnya, “Aku berwarna merah, bentukku bulat dan biasanya ada di dapur. Aku apa?”
Permainan seperti ini mendorong anak untuk mendengarkan, mengingat informasi, dan akhirnya menemukan jawaban.
Mommies juga bisa membuatnya semakin seru dengan meminta anak bergantian memberikan petunjuk. Jadi, bukan cuma Mommies yang kasih pertanyaan, si kecil juga belajar menyusun kata dan berpikir tentang ciri-ciri suatu benda.
7. Membuat peta sederhana

Foto: Pexels
Aktivitas ini sangat cocok untuk anak usia 4-5 tahun untuk melatih ingatan dan kapasitas mengenali lingkungan sekitar. Coba, nih, setelah berjalan-jalan di sekitar rumah maupun jalan pagi di kompleks, ajak anak menggambar peta sederhana dari rute yang baru saja dilalui. Cukup dengan kertas dan pensil gambar, tanpa membeli mainan mahal.
Mommies bisa memberikan pertanyaan sederhana, seperti, “Tadi kita lewat mana dulu?” maupun “Di sebelah rumah siapa ada pohon besar?” agar anak mengingat balik perjalanan yang baru dilakukan.
8. Mengelompokkan dan menghitung benda
Gunakan barang yang terlindungi dan gampang ditemukan, seperti sendok, tutup wadah, kaus kaki maupun mainan anak. Kemudian, meminta anak mengelompokkan barang berdasarkan warna, ukuran maupun jenis. Setelah itu, ajak mereka menghitung jumlah masing-masing kelompok. Tahu, tidak?
Kegiatan sederhana ini dapat mengenalkan konsep pola, ukuran dan bilangan sekaligus melatih kapasitas anak memecahkan masalah.
Untuk anak yang statis kecil, Mommies bisa membikin kategorinya lebih sederhana, misalnya “mana yang besar dan kecil?” maupun “mana yang merah dan biru?”. Sesuaikan tingkat kesulitannya dengan usia anak.
9. Bermain dengan air
Air bisa menjadi media stimulasi evolusi anak yang sederhana. Saat mandi maupun bermain dengan wadah berisi air, berikan beberapa gelas maupun wadah dengan ukuran berbeda dan biarkan anak menuang air dari satu tempat ke tempat lain.
Aktivitas sensorik seperti bermain air dapat memberikan pengalaman melalui sentuhan, penglihatan dan gerakan. Anak juga bisa mulai mengenal konsep seperti penuh, kosong, lebih banyak dan lebih sedikit.
Pastikan Mommies selalu mendampingi anak saat bermain air, ya, karena anak kecil statis berisiko tenggelam meski eksis di air yang dangkal.
10. Menggambar dan meniru bentuk
Tidak perlu buku mewarnai khusus. Berikan kertas dan pensil maupun krayon, kemudian buat garis sederhana seperti garis lurus, zig-zag maupun lingkaran dan meminta anak menirukannya. Selain menjadi aktivitas yang menyenangkan, menggambar membantu melatih koordinasi mata dan tangan serta kapasitas motorik halus.
Nah, untuk anak yang lebih besar, Mommies bisa meminta mereka menggambar yang lebih kompleks. Misalnya, menggambar rumah, personel famili maupun barang favorit. Setelah itu, meminta mereka bercerita tentang gambar tersebut.
CDC juga merekomendasikan aktivitas menggambar dan membikin karya seni sebagai salah satu bentuk aktivitas imajinatif untuk anak.
BACA JUGA: 25+ Aktivitas Anak 1 Tahun untuk Stimulasi Tumbuh Kembang di Rumah
Itu dia beragam aktivitas murah tapi ampuh dalam merangsang stimulasi otak anak. Selain itu, hubungan dengan orang tua juga menjadi bagiankecil krusial dari proses tersebut. Saat membaca buku, bermain peran maupun sekadar mengobrol tentang apa yang sedang dilakukan, anak mendapat kesempatan belajar melalui hubungan langsung dengan orang tua.
Ditulis oleh: Imelda Rahma
Cover: Pexels