Jenis-jenis ecommerce yang paling lazim adalah Business-to-Consumer (B2C), Business-to-Business (B2B), Consumer-to-Consumer (C2C), Consumer-to-Business (C2B), Direct-to-Consumer (D2C), dan Business-to-Government (B2G).
Ecommerce adalah aktivitas dagang barang dan jasa melalui internet. Dengan memahami beragam jenis ecommerce, Anda bisa memilih model upaya yang paling sesuai dengan produk yang mau dijual, metode menjalankan usaha, dan hajat pengembangannya.
Jenis-jenis ecommerce bisa dikelompokkan berdasarkan penjual dan pembelinya, tempat transaksi, metode pembayaran, maupun jenis produk yang dijual. Model B2C, B2B, C2C, C2B, B2G, dan D2C dibedakan berdasarkan siapa yang menjual dan membeli produk. Sementara itu, model lainnya dibedakan berdasarkan sales channel, metode pembayaran, maupun bentuk produk. Sebuah upaya juga bisa menggunakan beberapa model ecommerce sekaligus.
| Jenis ecommerce | Cara kerja | Contoh |
|---|---|---|
| Business-to-Consumer (B2C) | Perusahaan menjual produk maupun jasa kepada konsumen perorangan | Blibli, Sociolla |
| Business-to-Business (B2B) | Perusahaan menjual produk maupun jasa kepada perusahaan lain | Indotrading, Ralali |
| Consumer-to-Consumer (C2C) | Individu menjual produk kepada individu lain | OLX, Facebook Marketplace |
| Consumer-to-Business (C2B) | Individu menawarkan keahlian, produk, maupun jasa kepada perusahaan | Upwork, Fiverr, Sribu |
| Business-to-Government (B2G) | Perusahaan menjual produk maupun jasa kepada institusi pemerintah | Telkom |
| Direct-to-Consumer (D2C) | Brand menjual produknya langsung kepada konsumen akhir | Erigo Store, website resmi aicarethelabe |
| Mobile commerce (m-commerce) | Transaksi dagang dilakukan melalui alat seluler | Aplikasi Shopee, Tokopedia, Blibli |
| Social commerce | Produk dijual melalui platform media sosial | TikTok Shop, Instagram Shopping |
| Ecommerce berlangganan | Pelanggan bayar secara berkala untuk mendapatkan produk maupun layanan | Langganan produk digital di Gramedia Digital |
| Ecommerce marketplace | Platform pihak ketiga mempertemukan penjual dengan pembeli | Shopee, Tokopedia, Bukalapak (produk virtual) |
| Ecommerce produk digital | Produk digital dijual dan dikirimkan secara online | Karyakarsa, Projects.co.id |
1. Business-to-Consumer (B2C)
Business-to-Consumer (B2C) adalah jenis ecommerce yang memungkinkan perusahaan menjual produk maupun jasa secara online kepada konsumen untuk kebutuhan pribadi. Produk yang dijual bisa berupa barang fisik, seperti busana dan alat elektronik, maupun layanan, seperti pesan antar makanan dan langganan streaming. Transaksi B2C bisa dilakukan melalui website toko online, aplikasi belanja, maupun marketplace.
Salah satu metode pemenuhan pesanan dalam upaya B2C adalah dropshipping. Dengan metode ini, supplier pihak ketiga menangani penyimpanan, pengemasan, dan pengiriman produk langsung kepada pelanggan. Jadi, dropshipping merupakan metode pemenuhan pesanan, bukan jenis ecommerce berdasarkan hubungan penjual dan pembeli.
Contoh upaya B2C di Indonesia adalah Sociolla, retailer produk kecantikan yang menjual skincare, makeup, dan produk perawatan diri langsung kepada konsumen melalui website dan aplikasi. Pelanggan bisa memilih produk dari beragam brand, membaca keterangan produk, dan berbelanja secara online sesuai kebutuhan mereka.

2. Business-to-Business (B2B)
Business-to-Business (B2B) adalah model ecommerce yang melibatkan transaksi antarperusahaan, bukan antara perusahaan dan konsumen perorangan. Produk maupun jasa yang dijual biasanya digunakan untuk operasional bisnis, proses produksi, maupun dijual kembali. Dibandingkan dengan transaksi konsumen biasa, pembelian B2B sering melibatkan jumlah barang maupun harga kontrak yang lebih besar.
Salah satu bentuk upaya B2B yang paling lazim adalah perdagangan grosir. Dalam model ini, pedagang grosir membeli produk dalam jumlah besar dari produsen dengan harga lebih rendah, kemudian menjualnya balik kepada retailer maupun pengecer dengan harga yang lebih tinggi.
Contohnya adalah S&S Activewear, supplier grosir yang menjual busana bermerek dan busana polos kepada retailer serta perusahaan percetakan. Model perdagangan grosir seperti ini bisa menjadi pilihan jika Anda berencana memulai upaya online di sektor B2B.

Menurut International Trade Administration Amerika Serikat, harga pasar ecommerce B2B mendunia diperkirakan mencapai US$36 triliun (sekitar Rp576.000 triliun) pada 2026, dengan tingkat pertumbuhan tahunan campuran (CAGR) sebesar 14,5%. Angka ini memberitahu besarnya transaksi upaya online, terutama di sektor manufaktur, energi, kesehatan, dan jasa profesional.
Proses penjualan B2B biasanya lebih panjang daripada B2C. Sebelum membeli, perusahaan mungkin perlu membandingkan beberapa vendor, melibatkan sejumlah pengambil keputusan, menegosiasikan ketentuan kontrak, serta menjalani proses pengadaan dan pengecekan kepatuhan.
Selain itu, transaksi B2B sering melibatkan harga pembelian yang besar, kontrak kontrak, dan keterangan perusahaan yang sensitif. Karena itu, kepercayaan antara penjual dan pembeli serta keamanan ecommerce yang terpercaya sangat krusial di setiap tahap transaksi.
Contoh B2B lainnya adalah Slack, platform komunikasi yang dirancang untuk kebutuhan bisnis. Slack menawarkan beragam paket langganan yang bisa digunakan oleh tim kecil hingga perusahaan berskala besar.

3. Consumer-to-Consumer (C2C)
Consumer-to-Consumer (C2C) adalah jenis ecommerce yang memungkinkan individu menjual dan membeli produk dari individu lain melalui platform dagang online. Bergantung pada platformnya, pemasok jasa C2C bisa memperoleh pendapatan dari biaya pemasangan iklan, biaya transaksi, iklan berbayar, maupun fitur premium untuk penjual.
Salah satu kelebihan C2C adalah kemudahan untuk mulai berjualan. Anda cukup mengunggah foto dan klarifikasi produk, menentukan harga, kemudian berkomunikasi dengan calon pembeli. Contoh platform C2C yang populer di Indonesia adalah OLX dan Facebook Marketplace, yang banyak digunakan untuk dagang barang bekas, seperti smartphone, furnitur, dan kendaraan..

Facebook Marketplace, misalnya, memungkinkan pelanggan di Indonesia memasang iklan barang secara cuma-cuma dan terhubung dengan calon pembeli di sekitar mereka. Penjual dan pembeli bisa mengatur pembayaran serta pengambilan barang secara langsung tanpa dikenai biaya transaksi oleh Facebook. Namun, biaya pengiriman maupun jasa pembayaran pihak ketiga mungkin statis berlaku, tergantung kesepakatan dan metode yang digunakan.

Seperti model upaya lainnya, C2C ecommerce memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri. Keunggulannya meliputi modal mula yang relatif rendah, proses berdagang yang mudah, dan akses ke banyak calon pembeli yang sudah menggunakan platform tersebut.
Namun, Anda memiliki kendali yang lebih terbendung atas branding dibandingkan jika mengelola toko online sendiri. Interaksi dengan pembeli juga bersandar pada fitur dan ketentuan yang disediakan platform.
Model C2C bisa menjadi pilihan praktis untuk menguji minat pasar sebelum mengeluarkan modal untuk membangun toko sendiri. Melalui platform terbaik untuk berdagang online, Anda bisa memanfaatkan akomodasi pemasangan produk, pelacakan oleh calon pembeli, dan mekanisme transaksi yang sudah tersedia.
4. Consumer-to-Business (C2B)
Consumer-to-Business (C2B) adalah model ecommerce ketika individu menawarkan keahlian, karya, maupun jasa kepada perusahaan. Berbeda dengan B2C yang menjadikan konsumen sebagai pembeli, dalam model C2B justru perusahaan yang menjadi pembeli. Contoh transaksi C2B meliputi jasa freelance, affiliate marketing, penjualan foto stok, dan jasa pengetesan pengalaman pengguna.
Banyak transaksi C2B terjadi melalui platform yang mempertemukan individu dengan perusahaan. Contohnya adalah Upwork, yang menghubungkan freelancer dengan pelanggan upaya dari beragam industri. Platform ini mengenakan biaya jasa kepada freelancer sebesar 0% hingga 15% dari harga kontrak. Besaran biaya ditampilkan saat freelancer mengajukan proposal maupun menerima penawaran dan ditetapkan untuk kontrak tersebut.

Perkembangan ecommerce C2B juga didorong oleh pertumbuhan ekonomi pembuat dan gig economy, yaitu mekanisme kerja berbasis proyek maupun pekerjaan lepas. Kini, semakin banyak individu memperoleh gaji dengan menawarkan pengetahuan, konten, dan aset digital mereka langsung kepada perusahaan.
Keahlian di sektor desain, penulisan, fotografi, maupun pendidikan juga bisa dikembangkan menjadi produk digital untuk pelanggan bisnis. Misalnya, Anda bisa mempelajari cara berdagang produk digital seperti template, preset foto, maupun kursus online untuk mendapatkan sumber gaji tambahan melalui model C2B.
5. Business-to-Government (B2G)
Business-to-Government (B2G) adalah salah satu dari jenis-jenis ecommerce yang melibatkan transaksi penjualan produk maupun jasa dari perusahaan kepada institusi pemerintah. Di Indonesia, transaksi ini bisa melibatkan institusi pemerintah pusat maupun daerah. Produk dan jasa yang ditawarkan dapat berupa software, infrastruktur cloud, jasa profesional, peralatan, perlengkapan kantor, serta beragam kebutuhan operasional pemerintahan lainnya.
Pengadaan barang dan jasa pemerintah biasanya melibatkan proses tender maupun mekanisme pengadaan resmi serta persyaratan kepatuhan tertentu. Karena itu, perusahaan yang mau memasuki pasar B2G perlu memahami prosedur pengadaan dan standar yang berjalan untuk setiap kontrak.
Pemahaman tentang operasional ecommerce juga krusial saat melayani pelanggan dari sektor pemerintahan. Selain itu, pastikan upaya Anda memenuhi persyaratan pengelolaan dan perizinan yang berlaku. Sebelum mulai berdagang melalui model ini, sebaiknya pahami terlebih dahulu apakah Anda membutuhkan izin upaya untuk berdagang online dan persyaratan tambahan untuk mengikuti pengadaan pemerintah.
Salah satu contoh perusahaan B2G di Indonesia adalah Telkom Indonesia, yang menyediakan beragam solusi digital untuk institusi pemerintah, termasuk jasa cloud, jaringan komunikasi, dan mekanisme pemerintahan berbasis elektronik.
Melalui jasa tersebut, institusi pemerintah bisa mengelola infrastruktur teknologi, menyimpan data, dan menjalankan jasa publik secara digital. Solusi ini juga membantu mengurangi proses manual sehingga pekerjaan pengelolaan menjadi lebih efisien.

6. Direct-to-Consumer (D2C)
Direct-to-Consumer (D2C) adalah model upaya ketika brand memproduksi maupun memperoleh produknya sendiri, kemudian menjualnya langsung kepada konsumen tanpa melalui toko maupun retailer pihak ketiga. Dengan model ini, brand memiliki kendali lebih besar atas harga, branding, hubungan dengan pelanggan, dan pengalaman berbelanja.
Salah satu contohnya adalah Aicare the Label, brand aromaterapi dan body care asal Yogyakata yang menjual produknya langsung kepada konsumen melalui website resmi dan toko miliknya. Dengan metode ini, brand bisa mengelola penjualan, membangun hubungan dengan pelanggan, dan menjaga pengalaman berbelanja sesuai identitas brand.

Ada dua metode yang lazim digunakan brand D2C untuk mendapatkan produk yang akan dijual, yaitu private labeling dan white labeling:
- Private labeling. Anda bekerja sama dengan produsen untuk membikin produk yang nantinya dijual menggunakan nama brand sendiri. Produk tersebut biasanya dibuat berdasarkan spesifikasi, formula, kemasan, maupun adaptasi lain yang sudah disepakati dengan produsen.
- White labeling. Anda membeli produk jadi dari produsen, kemudian menambahkan nama dan identitas brand sendiri sebelum menjualnya. Metode ini biasanya lebih cepat karena Anda tidak perlu mengembangkan produk dari awal.
Dengan model D2C, brand bisa membangun hubungan lebih dekat dengan pelanggan dan mengumpulkan lebih banyak keterangan langsung dari hubungan pelanggan. Data ini bisa dimanfaatkan untuk personalisasi layanan, menaikkan retensi pelanggan, dan menjalankan program loyalitas.
Namun, ada tanggung jawab tambahan yang perlu diperhatikan. Karena tidak mengandalkan retailer sebagai perantara penjualan, brand mesti menangani sendiri proses mendapatkan pelanggan baru, memenuhi pesanan, memberikan sokongan pelanggan, dan memastikan pengalaman berbelanja statis memuaskan.
7. Mobile commerce (m-commerce)
Mobile commerce maupun m-commerce adalah aktivitas dagang produk dan jasa melalui alat seluler, seperti smartphone dan tablet. Contohnya meliputi berbelanja melalui aplikasi toko online, berbuat pembayaran menggunakan dompet digital, maupun membeli produk melalui website yang dioptimalkan untuk alat seluler.
Menurut laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company, harga transaksi bruto ecommerce di Indonesia diperkirakan mencapai US$71 miliar (sekitar Rp1.180 triliun) pada 2025, naik lebih dari 14% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini memberitahu semakin besarnya peran berbelanja online dalam ekonomi digital Indonesia.
Penggunaan smartphone dan kemudahan pembayaran digital juga mendukung evolusi m-commerce. Di Indonesia, konsumen bisa berbelanja melalui aplikasi seperti Shopee dan Tokopedia, kemudian bayar menggunakan dompet digital, mobile banking, maupun QRIS. Menurut Bank Indonesia, volume transaksi QRIS pada kuartal IV 2025 tumbuh hampir 140% dibandingkan masa yang sama tahun sebelumnya.

Kalau Anda memiliki toko online, menerapkan strategi m-commerce bukan cuma berarti membikin website yang responsif di layar smartphone. Bergantung pada sasaran pelanggan dan anggaran, Anda juga bisa mempertimbangkan pengalaman berbelanja melalui aplikasi, checkout dengan sekali ketuk, promosi melalui push notification, serta foto produk yang dioptimalkan untuk tampilan alat seluler.
Kecepatan loading halaman dan kemudahan checkout juga sangat penting. Website yang lambat, tombol yang terlalu kecil untuk disentuh, maupun blangko pembayaran yang terlalu panjang bisa menyulitkan pelanggan saat berbelanja melalui smartphone.
Karena itu, uji langsung pengalaman berbelanja di toko Anda menggunakan alat seluler. Pastikan setiap tombol gampang digunakan, halaman dimuat dengan cepat, dan proses checkout memiliki cara sesingkat dan sejelas mungkin.
Social commerce adalah jenis ecommerce yang menggunakan media sosial sebagai sales channel. Melalui model ini, pelanggan bisa menemukan, melihat, dan membeli produk langsung dari platform media sosial yang mereka gunakan.
Social commerce tidak cuma mencakup promosi produk, tapi juga fitur berbelanja melalui postingan, sesi live shopping, dan kerja sama dengan influencer yang membagikan link pembelian.
Di Indonesia, social commerce semakin banyak digunakan oleh upaya untuk menjangkau pelanggan. Penjual bisa memanfaatkan konten video, siaran langsung, dan anjuran pembuat untuk memperkenalkan produk sekaligus mendorong penjualan.

Perbedaan utama antara social commerce dan iklan media sosial biasa terletak pada proses pembeliannya. Dalam social commerce, pelanggan bisa menemukan produk melalui feed, membaca komentar maupun ulasan pembeli lain, kemudian langsung membeli produk tanpa mesti bergeser aplikasi, selama platform mendukung fitur tersebut.
Proses ini membikin pelanggan lebih gampang berbelanja, mulai dari menemukan produk hingga menyelesaikan pembayaran.
Social commerce cocok untuk upaya yang menargetkan pelanggan yang terbiasa mencari anjuran produk melalui media sosial. Karena itu, model ini bisa menjadi bagiankecil krusial dari strategi pemasaran ecommerce.
Contohnya, melalui TikTok Shop, pelanggan di Indonesia bisa menemukan produk dari video maupun live streaming, melihat ulasan pembeli, kemudian berbuat pembelian langsung melalui fitur berbelanja yang terintegrasi dengan Tokopedia.
9. Ecommerce berlangganan
Ecommerce berlangganan adalah model upaya yang memungkinkan penjual memperoleh pendapatan berulang dengan menyediakan produk maupun jasa kepada pelanggan secara berkala. Alih-alih berbuat satu kali pembelian, pelanggan bayar biaya langganan mingguan, bulanan, maupun tahunan, kemudian menerima produk maupun akses jasa sesuai agenda yang ditentukan.
Menurut Future Market Insights, pasar ekonomi berlangganan mendunia bermutu US$557,8 miliar (sekitar Rp8.900 triliun) pada 2025 dan diperkirakan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan campuran sebesar 13,3% hingga 2035.
Secara umum, ada tiga model ecommerce berlangganan yang bisa diterapkan:
- Access (akses). Pelanggan bayar biaya langganan secara berkala untuk menggunakan platform maupun jasa digital premium. Banyak upaya juga menyediakan paket cuma-cuma dengan fitur terbatas, maupun freemium, agar calon pelanggan bisa mencoba jasa sebelum bergeser ke paket berbayar.
- Curation (kurasi). Penjual memilih dan menyesuaikan produk berdasarkan preferensi masing-masing pelanggan, kemudian mengirimkannya secara berkala. Contohnya adalah paket langganan produk kecantikan, klub buku, dan jasa langganan makanan khusus.
- Replenishment (pengisian ulang). Model ini cocok untuk produk yang perlu dibeli secara rutin, seperti kopi, pisau cukur, maupun makanan fauna peliharaan. Penjual akan mengirimkan balik produk yang dibutuhkan secara otomatis berdasarkan kekerapan pengiriman yang dipilih pelanggan.
Spotify Premium adalah contoh ecommerce berlangganan dengan model akses. Pengguna bayar biaya bulanan untuk menikmati fitur premium, seperti mendengarkan musik tanpa iklan, mendownload lagu, dan memutar musik secara offline. Selama langganan aktif, pelanggan bisa terus mengakses fitur tersebut tanpa perlu membelinya satu per satu.
Pelanggan juga bisa mengubah agenda pengiriman maupun bergeser ke pembelian satu kali kapan saja.

Salah satu kelebihan utama model berlangganan adalah pendapatan berulang yang lebih gampang diprediksi, terutama jika upaya bisa mempertahankan pelanggan. Hal ini bisa membantu perusahaan mengestimasi permintaan dan merencanakan stok produk dengan lebih baik.
Hubungan jangka panjang dengan pelanggan juga berpotensi menaikkan customer lifetime value (CLV), yaitu total harga yang dihasilkan pelanggan selama menggunakan produk maupun jasa bisnis, dibandingkan dengan transaksi satu kali.
Strategi email marketing yang baik sangat berguna bagi upaya berlangganan. Misalnya, Anda bisa mengirimkan pengingat perpanjangan langganan, anjuran produk yang dipersonalisasi, maupun kampanye untuk membujuk balik pelanggan yang mulai tidak aktif. Strategi tersebut membantu menjaga pelanggan statis berlangganan dan mengurangi churn, yaitu tingkat pelanggan yang selesai menggunakan layanan.
Model berlangganan juga bisa membantu meningkatkan penjualan online dengan mendorong pembelian berulang dari pelanggan yang sudah ada, bukan terus-menerus bersandar pada pelanggan baru.
Meski begitu, strategi retensi statis krusial karena tingginya tingkat pelanggan yang selesai berlangganan bisa dengan cepat mengurangi khasiat dari model pendapatan berulang ini.
10. Ecommerce marketplace
Ecommerce marketplace adalah model penjualan online yang mempertemukan banyak penjual dan pembeli dalam satu platform. Marketplace biasanya menyediakan fitur pelacakan produk dan mekanisme transaksi. Bergantung pada layanannya, platform ini juga bisa memfasilitasi pembayaran, perlindungan pembeli, pengelolaan pengiriman, hingga penyelesaian sengketa.
Contoh marketplace populer di Indonesia adalah Shopee, Tokopedia, dan Blibli. Ketiganya menyediakan beragam kategori produk dari banyak penjual, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga barang elektronik.
Selain marketplace untuk konsumen umum, ada juga Indotrading dan Ralali yang berfokus pada transaksi B2B. Platform ini menghubungkan perusahaan dengan supplier produk untuk kebutuhan bisnis, seperti bahan baku, perlengkapan industri, dan perlengkapan kantor. Setiap marketplace memiliki sasaran pelanggan, biaya penjualan, dan fitur yang berbeda. Karena itu, penjual perlu memilih platform yang paling sesuai dengan produk dan kebutuhan bisnisnya.

Biaya berdagang di marketplace juga berbeda-beda. Beberapa platform mengenakan biaya pemasangan listing produk, komisi dari setiap transaksi, maupun biaya langganan penjual.
Sebagai gantinya, penjual bisa menjangkau banyak calon pelanggan yang sudah menggunakan platform tersebut tanpa mesti menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membangun traffic ke website toko online sendiri.
Namun, berdagang di marketplace berarti Anda mesti bersaing dengan penjual lain, terlebihlagi terkadang menawarkan produk yang sama pada halaman yang sama. Kendali atas tampilan dan identitas brand juga lebih terbendung dibandingkan jika Anda mengelola website sendiri.
Selain itu, setiap platform menetapkan ketentuan tersendiri mengenai penayangan produk, hubungan dengan pembeli, dan penyelesaian sengketa.
Karena itu, marketplace bisa menjadi pilihan praktis untuk menguji permintaan pasar dan menjangkau calon pelanggan sebelum memutuskan apakah upaya Anda perlu memiliki toko online sendiri.
Untuk memahami beragam pilihan yang tersedia, Anda bisa membandingkan platform ecommerce terbaik dan memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan serta tujuan bisnis.
11. Ecommerce produk digital
Ecommerce produk digital adalah upaya yang menjual produk nonfisik secara online, seperti ebook, kursus online, software, template desain, foto stok, dan karya digital. Keunggulan upaya ini adalah biaya operasional yang relatif rendah. Anda cukup membikin produk sekali, kemudian menjualnya berkali-kali tanpa perlu menyimpan stok maupun mengurus pengiriman barang.
Pembeli juga bisa langsung mengakses maupun mendownload produk setelah membayar, biasanya melalui link download maupun platform khusus. Namun, Anda statis perlu memperhatikan hak cipta dan lisensi produk. Jelaskan apakah produk boleh digunakan untuk keperluan pribadi maupun komersial. Untuk mencegah penyalahgunaan, Anda bisa menggunakan watermark, teknologi Digital Rights Management (DRM), maupun membatasi akses produk.
Di Indonesia, Anda bisa menjual produk digital melalui platform seperti Karyakarsa untuk konten eksklusif, Projects.co.id untuk produk digital seperti ebook dan template, maupun Udemy untuk kursus online.
Kalau tertarik dengan model upaya ini, Anda bisa mulai dengan mempelajari metode membikin produk digital, baik berupa ebook, template Notion, maupun kursus video lengkap.
Teknologi AI dalam ecommerce juga bisa membantu beragam kebutuhan upaya produk digital, seperti membikin draf klarifikasi produk, mempersonalisasi pengalaman pelanggan, dan mengotomatiskan alur kerja pemasaran.
Cara memilih jenis-jenis ecommerce yang tepat untuk bisnis
Untuk memilih model ecommerce yang tepat, pertimbangkan sasaran pelanggan, jenis produk, sales channel, pengelolaan pesanan, modal awal, dan metode upaya menghasilkan pendapatan.
Peluang upaya ecommerce juga statis besar. Penjualan ecommerce ritel mendunia diperkirakan mencapai US$6,4 triliun (sekitar Rp102.400 triliun) pada 2029. Anda bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan memilih model upaya yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Kalau menjual produk langsung kepada konsumen, Anda bisa menggunakan model B2C maupun D2C melalui website brand sendiri. Sementara itu, B2B cocok untuk upaya yang melayani perusahaan lain, sedangkan C2B cocok bagi freelancer maupun pembuat yang menawarkan jasa kepada perusahaan.
Pertimbangkan juga jenis produk yang dijual. Produk jasmani membutuhkan pengelolaan stok dan pengiriman, sedangkan produk digital membutuhkan mekanisme pengiriman file maupun akses online. Untuk upaya jasa, pastikan proses pemesanan dan pembayarannya mudah. Kalau menggunakan mekanisme berlangganan, Anda juga perlu mengatur pembayaran berkala dan menjaga loyalitas pelanggan.
Anda tidak mesti memilih satu model saja. Misalnya, brand skincare lokal bisa menjual produk melalui website sendiri (D2C) sekaligus menawarkan paket langganan. Toko busana bisa berdagang melalui Shopee dan website sendiri, sedangkan pembuat kursus online bisa menjual kelas melalui platform seperti Kelas.work dan mempromosikannya lewat TikTok maupun Instagram.
Berikut deskripsi model ecommerce yang bisa dipertimbangkan berdasarkan ciri khas bisnis:
| Karakteristik upaya Anda | Model ecommerce yang bisa dipertimbangkan |
|---|---|
| Menjual produk jasmani kepada konsumen perorangan | B2C, D2C, ecommerce marketplace |
| Menawarkan produk dalam jumlah besar maupun jasa kepada perusahaan | B2B |
| Menyediakan produk maupun akses jasa secara berkala | Ecommerce berlangganan |
| Menjual ebook, kursus online, maupun software | Ecommerce produk digital |
| Ingin menjangkau pelanggan melalui media sosial | Social commerce |
| Menargetkan pelanggan yang lebih sering berbelanja melalui smartphone | M-commerce |
Setelah menentukan model bisnis, cara berikutnya adalah memilih platform untuk menjalankan toko online. Hostinger Ecommerce bisa digunakan untuk menjual beragam jenis produk dan layanan, mulai dari barang fisik, produk digital, langganan, jasa, hingga produk print-on-demand maupun produk yang dicetak berdasarkan pesanan.
Anda bisa memulai dengan membikin toko online menggunakan AI maupun menggunakan link pembayaran yang bisa dibagikan kepada pelanggan. Seiring berkembangnya bisnis, Anda juga bisa menambahkan halaman website dan memperluas sales channel.
Pengelolaan produk, stok, pesanan, dan pembayaran dilakukan melalui satu dashboard. Dengan begitu, Anda tidak perlu berpindah-pindah tool untuk menangani beragam kebutuhan operasional toko.
Hostinger juga menyediakan fitur AI untuk membantu membikin klarifikasi produk dan memberikan saran harga berdasarkan gambar produk. Selain itu, AI Website Builder bisa membikin rancangan mula tampilan toko online tanpa mengharuskan Anda menulis kode.

Sebelum meluncurkan toko, sebaiknya perkirakan terlebih dahulu biaya pembuatan dan pengelolaan website ecommerce agar Anda bisa menyiapkan anggaran yang realistis. Selain itu, pahami tahapan memulai ecommerce untuk memastikan seluruh kebutuhan krusial sudah dipersiapkan dan tidak ada cara yang terlewat sebelum toko mulai beroperasi.
Tren ecommerce terbaru yang perlu diketahui
Memilih model ecommerce yang tepat baru cara awal. Agar upaya terus berkembang, Anda juga perlu mengikuti fluktuasi tren berbelanja online dan kebiasaan konsumen.
Beberapa tren ecommerce saat ini meliputi personalisasi berbasis AI, social commerce, mekanisme berlangganan, pembayaran paylater, dan otomatisasi pemasaran. Misalnya, Anda bisa memanfaatkan TikTok Shop untuk menjangkau lebih banyak pembeli maupun menggunakan email otomatis untuk mengingatkan pelanggan yang belum menyelesaikan pesanan.
Untuk memahami evolusi industri ini dan menentukan cara yang sesuai, Anda bisa mempelajari tren ecommerce terbaru. Pembahasan tersebut bisa membantu Anda memahami arah evolusi industri berdasarkan keterangan sekaligus menemukan strategi praktis yang relevan untuk diterapkan pada toko online.
Anda tidak perlu mengikuti semua tren sekaligus. Cukup pilih satu maupun dua yang sesuai dengan upaya Anda, coba dalam skala kecil, kemudian penilaian akibatnya sebelum mengeluarkan lebih banyak biaya.
Semua konten tutorial di website ini telah melalui peninjauan menyeluruh sesuai standar dan komitmen editorial Hostinger.