Tidak hanya rumah budaya, UMARATU Foundation juga datang sebagai ruang untuk mengenal, meneliti, dan menjaga kekayaan tradisi Sumba lewat tiga pilar utama ialah sandang, pangan, dan papan.
Kalau bicara soal kain Indonesia, nama Oscar Lawalata tentu sudah nggak asing lagi. Selama 25 tahun, Oscar konsisten membawa kain tradisional Indonesia ke beragam eksplorasi fashion sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya yang ada di baliknya. Kini, memasuki perjalanan 25 tahunnya, Oscar menghadirkan sesuatu yang sedikit berbeda. Bukan sebagai koleksi fashion terbaru, namun sebuah rumah budaya di Sumba Timur berjulukan UMARATU Foundation.
Berlokasi di Maujawa, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, UMARATU datang sebagai corak dedikasi untuk menjaga warisan tradisi Sumba agar tetap dikenal dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Baca juga: Jennie Bikin Adidas Superstar Makin Feminin Lewat Koleksi Balletcore Terbarunya!
Apa makna nama UMARATU?

Nama UMARATU sendiri punya makna yang cukup cantik. “Uma” berfaedah rumah, sedangkan “ratu” mempunyai makna kekhidmatan. Jika digabungkan, UMARATU dimaknai sebagai rumah budaya yang menjadi ruang untuk memberikan info mengenai warisan tradisi Sumba.
Jadi, jangan bayangkan UMARATU hanya sebagai sebuah bangunan. Tempat ini dirancang sebagai ruang untuk mengenal lebih dekat budaya Sumba, mulai dari tradisi, pengetahuan lokal, sampai beragam warisan yang sudah hidup di masyarakat selama bertahun-tahun. Konsep bangunannya pun dibuat selaras dengan lingkungan sekitar. UMARATU sepenuhnya menggunakan bambu, material yang terasa dekat dengan alam sekaligus memberikan karakter tersendiri pada bangunannya.
Baca juga: Intip Gaya Han So Hee dengan Tas Dior, Simple tapi Tetap Elegan!
Berada di Tengah Lima Desa di Sumba Timur
UMARATU berlokasi di Maujawa, Sumba Timur, yang berada di tengah lima desa. Pemilihan letak ini membikin UMARATU nggak terasa seperti ruang budaya yang berdiri sendiri, tetapi justru dekat dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Kehadiran tempat ini diharapkan bisa menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat, budaya, pengetahuan lokal, serta siapa pun yang mau belajar lebih jauh tentang Sumba. Menurut aku, konsep seperti ini menarik lantaran budaya nggak hanya dilihat sebagai sesuatu yang dipajang untuk dinikmati, tetapi juga sebagai pengetahuan yang bisa terus dipelajari dan dikembangkan.
Tiga pilar UMARATU: sandang, pangan, dan papan

Salah satu perihal yang menarik dari UMARATU Foundation adalah fokusnya yang nggak hanya soal kain. Dalam menjalankan pengembangan dan riset, UMARATU mempunyai tiga pilar utama, ialah sandang, pangan, dan papan.
Sandang
Pilar sandang tentunya berangkaian erat dengan kain dan busana tradisional. Di sini, kain nggak hanya dilihat dari sisi estetika, tetapi juga dari proses, teknik, cerita, dan pengetahuan yang ada di kembali pembuatannya.
Hal ini menjadi krusial lantaran setiap kain tradisional punya identitas dan cerita yang berbeda. Dengan adanya riset dan pengembangan, pengetahuan tersebut bisa terus dicatat, dipelajari, dan diperkenalkan kepada generasi selanjutnya.
Pangan
Pilar kedua adalah pangan. Fokusnya berangkaian dengan kekayaan bahan pangan dan pengetahuan lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sumba. Mulai dari hasil alam hingga langkah masyarakat mengolah dan memanfaatkannya, semuanya menjadi bagian dari pengetahuan budaya yang menarik untuk dipelajari.
Papan
Kemudian ada papan yang berangkaian dengan ruang tinggal, arsitektur, serta pemanfaatan material lokal. Penggunaan bambu sebagai material utama gedung UMARATU sendiri menjadi salah satu gambaran gimana material yang dekat dengan lingkungan dapat dimanfaatkan untuk menciptakan ruang yang tetap mempunyai nilai budaya.
Tak hanya melestarikan, tapi juga mengembangkan

Kalau biasanya pelestarian budaya identik dengan menjaga sesuatu agar tetap sama, UMARATU membawa pendekatan yang sedikit lebih luas. Melalui riset dan pengembangan, warisan tradisi nggak hanya dijaga, tetapi juga dipelajari agar bisa terus hidup dan relevan dengan perkembangan zaman. Hal ini juga terasa krusial untuk generasi muda. Apalagi sekarang semakin banyak anak muda yang mulai tertarik dengan kain tradisional, kerajinan lokal, hingga cerita di kembali budaya Indonesia. So, mengenal kain bukan hanya soal tahu motifnya alias memakainya sebagai fashion statement. Ada sejarah, keterampilan, dan pengetahuan masyarakat yang ikut melekat di dalamnya.
25 tahun Oscar Lawalata dan perjalanan kain Indonesia
Setelah 25 tahun mendedikasikan karyanya untuk kain Indonesia, UMARATU Foundation menjadi langkah baru Oscar Lawalata untuk membawa kecintaannya terhadap budaya ke ruang yang lebih luas.
Dari fashion, sekarang berkembang menjadi riset, edukasi, dan pelestarian budaya yang dilakukan langsung di lingkungan tempat tradisi tersebut tumbuh. Lewat UMARATU, kain dan budaya Sumba nggak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai sesuatu yang tetap bisa terus berkembang.
image: dok. Female Daily