3 Mitos Pembekuan Sel Telur Dan Embrio Untuk Program Hamil, Bunda Perlu Tahu

Oct 27, 2025 10:10 PM - 5 bulan yang lalu 166129

Jakarta -

Pembekuan sel telur dan embrio dapat dijadikan pilihan bagi suami istri yang mau menjalani program hamil. Sebelum memutuskan untuk melakukan pembekuan sel telur dan embrio, pasangan suami istri perlu memahami dulu kebenaran mengenai kedua prosedur tersebut.

Dilansir UCLA Health, pembekuan sel telur alias egg freezing merupakan proses di mana sel telur wanita (oosit) diekstraksi, dibekukan, dan disimpan. Selain aspek usia, pembekuan sel telur biasanya dilakukan oleh wanita yang bakal menjalani kemoterapi alias operasi yang dapat menyebabkan kerusakan ovarium.

Berbeda dengan egg freezing, pembekuan embrio umumnya dilakukan pada prosedur bayi tabung. Dikutip dari laman John Hopkins Medicine, prosedur ini melibatkan pengambilan sel telur dari ovarium, lampau pembuahannya dilakukan untuk menghasilkan embrio. Nah, embrio yang dibiarkan tumbuh selama beberapa hari lampau dibekukan dan disimpan.

Seperti pembekuan sel telur, pembekuan embrio juga umumnya dipilih oleh wanita yang sedang menjalani terapi hormon, perawatan kanker, alias intervensi medis lain yang memengaruhi kesuburan.

Mitos seputar pembekuan sel telur dan embrio

Melansir dari Times of India, berikut tiga mitos mengenai pembekuan sel telur dan embrio yang perlu Bunda tahu:

1. Membekukan sel telur alias embrio tidak diperlukan pada prosedur IVF

Banyak pasangan suami istri percaya bahwa in vitro fertilization (IVF) alias perogram bayi tabung selalu dapat diandalkan ketika seseorang siap untuk mempunyai anak. Mereka yang menjalani IVF, tak perlu lagi melakukan embrio alias egg freezing.

Faktanya, kesuburan secara alami menurun seiring bertambahnya usia. Pada perempuan, jumlah dan kualitas sel telur bakal menurun seiring bertambahnya usia. Hal tersebut dapat memengaruhi tingkat keberhasilan program bayi tabung, Bunda.

"Bila membekukan sel telur alias embrio di usia yang lebih muda, maka perihal itu bakal meningkatkan kesempatan kehamilan yang sehat di kemudian hari," kata pendiri Baby Soon Fertility and IVF Center, Dr. Jyoti Bali, MBBS, MS.

"Egg freezing seperti polis asuransi, ialah tidak menjamin seseorang bakal membutuhkannya, tetapi bakal lebih nyaman jika mempunyai pilihan tersebut saat diperlukan," sambungnya.

2. Pembekuan sel telur dan embrio  hanya dapat dilakukan oleh wanita lajang

Kesalahpahaman lain tentang pembekuan embrio dan egg freezing adalah bahwa prosedur tersebut hanya dapat dilakukan oleh wanita lajang alias belum menikah. Pada kenyataannya, pembekuan embrio dan egg freezing tersedia untuk siapa saja, dapat dilakukan wanita yang sudah menikah.

Seorang istri mungkin memilih untuk membekukan embrio alias sel telur lantaran mereka memang sedang menunda untuk mempunyai momongan. Ada beragam argumen pasangan menunda momongan, seperti menunggu hingga kehidupan lebih mapan, mau konsentrasi pada karier, alias merasa belum siap.

"Bagi beberapa pasangan, membekukan embrio merupakan pilihan yang strategis lantaran embrio biasanya mempunyai tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi setelah pencairan. Hal tersebut dapat meningkatkan kemungkinan kehamilan yang sukses di masa mendatang. Keputusan yang sangat pribadi ini kudu dibuat setelah pertimbangan yang jeli dan konsultasi dengan ahli fertilitas," ungkap Bali.

3. Membekukan sel telur dan embrio dapat menjamin wanita hamil

Salah satu mitos yang dianggap paling menyesatkan adalah bahwa membekukan sel telur alias embrio dapat menjamin seorang wanita hamil. Meski peluangnya memang tinggi, prosedur embrio dan egg freezing tak dapat menjamin Bunda pasti hamil.

Perlu diketahui, keberhasilan untuk mendapatkan kehamilan di masa mendatang bakal berjuntai pada beberapa faktor, seperti usia saat sel telur dibekukan, kualitasnya, dan kesehatan rahim saat digunakan.

"Penting untuk mendekati proses ini dengan angan yang realistis. Membekukan sel telur dan embrio adalah langkah yang ampuh, tetapi bukan jaminan. Memahami potensi dan keterbatasan proses ini bakal membantu seseorang dalam membikin keputusan terbaik untuk perjalanan kesuburannya," kata Bali.

"Pembekuan sel telur dan embrio telah merevolusi sebagai bagian dari perencanaan keluarga, serta menawarkan elastisitas yang lebih besar bagi wanita dan pasangan. Namun, krusial untuk membedakan antara kebenaran dan mitos. Memahami realitas pilihan-pilihan ini bakal memungkinkan seseorang dalam membikin keputusan yang tepat."

Demikian mitos seputar pembekuan sel telur dan embrio untuk program hamil. Semoga info ini berfaedah ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Selengkapnya