3 Nabi Dan Rasul Yang Diutus Allah Swt Berdakwah Di Mesir Dan Keahlian Mereka

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA- Dalam Alquran, Allah SWT mengutus sebanyak 25 nabi dan rasul. Dari 25 itu, ada tiga orang nabi nan diutus ke wilayah Mesir ini. Ketiga nabi dan rasul tersebut adalah Yusuf, Musa, dan Harun AS.  

Berikut ini, profil singkat para nabi dan rasul nan diutus Allah SWT berceramah di Mesir dengan kelebihan nan mereka miliki: 

1. Nabi Yusuf, ahli ekonomi cerdas

Nabi Yusuf AS adalah putra Nabi Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim AS bin Azar bin Nahor bin Serug bin Rehu bin Peleg bin Eber bin Selah bin Arpakhsad bin Sam bin Nuh. Hal itu dijelaskan Al-Maghluts.

Nabi Yusuf AS adalah kerabat kandung Bunyamin dari istri Ya’qub nan berjulukan Rahel. Sebagaimana diketahui, Ya’kub mempunyai 11 orang kerabat nan berbeda ibu. Menurut riwayat, Yusuf diutus sekitar 1550 SM.

Yusuf terkenal dengan sifat ‘iffah (menjaga kesucian), amanah, hilm (tidak emosional), sabar, dan lapang dada. Namun, saudara-saudara seayah suka memusuhinya. Hal ini disebabkan sang ayah, Ya’qub AS, sangat menyayanginya sehingga menimbulkan kecemburuan dari saudara-saudaranya.

Yusuf dikaruniai oleh Allah SWT dengan wajah nan sangat tampan. Bahkan disebut-sebut, tak ada orang nan setampan Yusuf. Rasul SAW pernah berfirman bahwa sesungguhnya ketampanan Yusuf sangat luar biasa. Ia tampan luar dalam, ialah fisiknya bagus dan hatinya juga baik. Akibatnya, istri amir Mesir nan berjulukan Zulaikha tergoda padanya. 

Allah SWT memberikan sejumlah keistimewaan kepada Yusuf AS. Di antaranya, bisa menafsirkan mimpi dan mempunyai sifat pemaaf. Bahkan, ketika berkuasa pun, dia tidak semena-mena dengan bawahannya.

Karena kepintaran dan kemampuannya dalam menafsirkan mimpi sang raja, Nabi Yusuf diangkat oleh menjadi ahli ekonomi kerajaan Mesir. Pada masa kepemimpinannya, dia mengendalikan kondisi ekonomi Mesir sehingga Mesir selamat dari masa paceklik nan terjadi di beragam wilayah.

Saat masa paceklik itu, Nabi Yusuf memerintah masyarakat Mesir agar bibit gandum nan telah dipetik tetap dipertahankan di tangkainya untuk disimpan. Hal ini kemudian diteliti oleh Prof Dr Abdul Majid Balabid dari Univesitas Wajdah, Maroko. 

Dalam penelitiannya, Prof Abdul Majid menyimpulkan bahwa biji gandum nan dipetik dan tetap berada di tangkainya tidak mengalami perubahan apa pun, baik isi, unsur kandungan, maupun kemampuannya untuk tumbuh, selain hanya sedikit kehilangan kandungan unsur air.

sumber : Harian Republika

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam