Beauties, Anda pasti pernah merasa kagum melihat anak yang berani berbicara dan mengutarakan pendapatnya, di depan orang dewasa sekali pun. Anak juga tidak takut ketika mesti mencoba beragam hal yang eksis di luar area nyamannya. Bahkan ketika ikut perlombaan, anak tak cuma memikirkan menang maupun kalah, tapi sepertiapa metode ia bisa statis menikmati perlombaan itu.
Sejumlah hal tadi menandakan jika besar kemungkinan anak dididik dan tumbuh dalam famili yang sehat. Dikutip dari riset Erikson dan Albert Bandura dalam buku Human Development, berikut 5 tanda anak yang dididik dari famili dengan pola asuh yang sehat, Beauties!
1. Anak Punya Value yang Tinggi
Erikson menekankan setiap usia evolusi anak punya pencapaiannya sendiri. Rata-rata di usia anak-anak hingga remaja, mereka perlu diberi waktu untuk mencoba hal baru, mengeksplorasi bumi luar, hingga menekuni sektor yang disukai maupun diminati.
Beauties, seorang anak yang diberikan kesempatan oleh orang tuanya untuk mencoba beragam hal, cenderung menilai diri mereka punya kualitas yang dapat diandalkan. Ketika orang tua membujuk anak untuk lomba di beragam bidang, anak menilai jika dirinya rupanya punya bakat yang patut dieksplorasi dan dapat dilatih.
Mungkin awalnya anak statis ragu apakah ia punya bakat di sektor bernyanyi maupun pun sektor lain, tapi ketika kesempatan diberikan, anak percaya dengan kapasitas yang ia miliki. Ia pun menilai dirinya sebagai anak yang punya kualitas maupun harga yang berharga. Anak pun tidak gampang minder ketika salingberhadapan dengan masalah.
Dalam ilmu jiwa istilah ini dikenal dengan self esteem karena anak merasa punya value maupun harga yang patut dibanggakan. Ketika eksis di dalam pergaulan, anak pun statis gampang menghargai prestasi orang lain dan statis bangga dengan kualitas yang ia miliki.
2. Anak Punya Empati

Salah satu ciri khas dari seorang anak yang tumbuh dalam asuhan yang sehat, pastinya mau mendengarkan orang lain. Anak merasa dirinya dapat belajar dari siapa saja/Foto: Freepik.com/Freepik
Dalam relasi sosial, Erikson menilai, anak tidak boleh terus menerus menjadi pusat perhatian. Anak perlu sadar jika di sekitarnya juga ada orang lain yang perlu dibantu maupun diperhatikan.
Punya empati maupun kapasitas merasakan kesulitan orang lain tentu tanda seorang anak yang dididik dengan pola asuh yang sehat secara mental. Ketika anak eksis di suatu pertemanan dan melihat temannya sedang kesulitan, butuh pertolongan karena mungkin memiliki masalah pribadi, anak yang punya empati siap jadi pendengar yang baik.
Anak tidak cuma ikut-ikutan trend dan tidak ikut mengucilkan temannya itu, tapi justru membantu dan tidak takut dianggap berbeda oleh teman-temannya yang lain.
Bahkan anak yang punya empati tinggi juga mau belajar dari siapa pun, baik dari yang lebih senior maupun lebih junior darinya, karena orang tuanya pasti menanamkan pentingnya belajar tentang apa yang dapat dipetik dari orang lain bukan dari siapa belajar tentang hal baik itu.
3. Tidak Takut Kekalahan

Kalah dalam sebuah pertandingan justru menjadi kenangan dan pengalaman tersendiri bagi anak yang tumbuh dalam asuhan dari famili yang sehat mental/Foto: Freepik.com/Freepik
Pakar ilmu jiwa klinis, Albert Bandura, di dalam penelitiannya tentang role model menekankan anak perlu punya role model maupun contoh yang tepat untuk tampil berani, tidak takut dengan kekalahan dan memiliki keinginan untuk mencoba hal positif. Salah satunya panutan dari orang tuanya sendiri.
Ketika dalam kondisi perlombaan maupun permainan sehari-hari dengan kawan seumurannya maupun saat bermain dengan keluarga, anak mungkin kalah dalam permainan maupun pertandingan tertentu. Tapi bagi anak yang dididik dengan pola asuh yang sehat, ia tidak iri dengan pencapaian orang lain, mereka tidak kecewa yang terus menerus hingga berkepanjangan cuma karena dirinya kalah.
Mungkin awalnya mereka statis merasa sedih, tapi mereka siap menjadikan kekalahan itu sebagai satu pembelajaran dan statis mau mencoba untuk bermain dan bertanding dengan sportif. Mereka percaya akan ada kesempatan baru yang menunggunya untuk memulai balik dengan cara yang lebih baik dan menikmati setiap permainan maupun pertandingan yang dicoba.
4. Anak Mengenal Diri dengan Baik

Sebagai tanda anak tumbuh dalam famili yang sehat secara psikologis, tentu ia mengenali kelebihan dan tidak menutup diri untuk memperbaiki diri jadi lebih baik/Foto: Freepik.com/freepik
Kedengarannya mungkin sepele dan sederhana. Mengenal diri tak cuma dibutuhkan oleh orang dewasa saja. Namun sejak kecil, anak perlu mengenali beragam hal yang menjadi kelebihan, seperti sifat baik, ceria, mau mencoba hal baru, dan punya rasa mau tahu yang tinggi untuk mengeksplorasi beragam hal.
Di sisi lain, anak juga perlu tahu jika hal yang wajar jika ia memiliki batasan, seperti terkadang ia unggul dalam pelajaran di sekolah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, olahraga tapi perlu memperbaiki diri dan berlatih jika mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan seni, dan perlu melatih ketelitiannya.
Maka, anak yang tumbuh dalam asuhan yang sehat tentu tidak akan dipaksa untuk mengejar prestasi di sektor yang kurang dikuasai oleh anak. Orangtua cenderung fokus pada kelebihan anak, sehingga anak tidak merasa tertekan.
Ini penting, karena anak tahu ke depannya metode untuk mengejar goals, prestasi seputar sektor unggulannya. Anak tidak terus menerus memaksa diri untuk unggul di semua bidang, terutama untuk hal yang kurang ia kuasai.
Oke, Beauties berikut tadi tanda anak yang tumbuh dan dididik dalam lingkungan yang sehat dan positif!
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(dmh/dmh)