Jakarta -
Hubungan dengan kerabat kandung memang bisa terasa sangat dekat, tapi ada juga yang justru terasa biasa saja. Bahkan, tidak sedikit yang hubungannya sering naik turun seiring berjalannya waktu.
Banyak orang tumbuh dengan angan bahwa kerabat kandung kudu selalu akur dan saling mendukung. Padahal dalam kenyataannya, setiap family bisa berbeda-beda, dan tidak semua hubungan melangkah seperti yang dibayangkan.
Seorang terapis family berlisensi yang berbasis di Chicago, Erin Runt, mengatakan bahwa kondisi ini sebenarnya wajar terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Wajar saja jika kerabat laki-laki dan wanita hubungannya terasa seperti kenalan yang akrab, yang kebetulan mempunyai kehidupan yang saling bersinggungan," katanya, dikutip dari laman SELF.
Menurutnya, ada dugaan bahwa seberapa sering seseorang berkomunikasi dengan kerabat mencerminkan seberapa dekat hubungan emosional mereka. Padahal kenyataannya, banyak family yang tidak selalu seperti itu.
Lalu sebenarnya, apa saja yang membikin kerabat kandung bisa sering tidak akur? Simak selengkapnya berikut ini.
Melansir dari SELF, ada beberapa argumen utama yang bisa membikin kerabat kandung sering tidak akur menurut terapis keluarga.
1. Peran orang tua dalam hubungan saudara
Orang tua punya peran besar dalam membentuk hubungan anak-anaknya, Bunda. Mereka bisa mendorong anak-anak untuk saling menjaga satu sama lain sejak kecil.
Misalnya, Bunda mungkin sering membujuk anak-anak bermain berbareng alias kakak mengajari adik berenang, bersepeda, alias perihal lainnya. Pengalaman seperti ini rupanya bisa berpengaruh pada langkah kerabat berinteraksi saat dewasa.
Tapi tidak semua anak mendapatkan perhatian yang sama, Bunda. Ada yang tumbuh merasa dekat dengan saudara, sementara yang lain justru merasa agak jauh alias kurang diperhatikan.
Jadi, langkah orang tua membesarkan anak-anaknya bisa jadi salah satu argumen kenapa hubungan kerabat kandung kadang akur, dan terkadang juga sering tidak sejalan.
2. Perlakuan pilih kasih dalam keluarga
Ternyata, pengalaman kurang menyenangkan di family bisa bikin kerabat kandung jadi agak menjauh, Bunda. Tidak semua hubungan bisa membikin mereka dekat, dan itu jadi perihal yang terjadi di banyak keluarga.
Seorang terapis di Washington, DC, sekaligus penulis kitab Sibling Therapy: The Ghosts that Haunt Your Client's Love and Work, Karen Gail Lewis, setuju dengan perihal ini.
"Perlakuan pilih kasih adalah salah satu dari banyak perihal yang dilakukan orang tua, apalagi jika itu tidak disengaja," kata Lewis.
3. Perbedaan pengalaman hidup
Kalau sejak mini kerabat kandung sering bentrok alias menjauh, kebiasaan itu rupanya bisa terbawa hingga mereka dewasa. Salah satu alasannya adalah mereka belum melewati pengalaman berbareng yang bisa membangun ikatan.
Perbedaan pengalaman hidup ini membikin mereka susah memberi nasihat alias saling mengandalkan satu sama lain. Kondisi ini pun bisa memicu bentrok alias jarak emosional di antara saudara.
Akhirnya, tanpa momen bersama, hubungan kerabat bisa terasa kaku, Bunda. Nah, inilah yang bisa menjadi salah satu argumen utama mereka sering tidak akur.
4. Pengaruh perbedaan usia
Banyak orang sering beranggapan bahwa jarak usia menentukan kedekatan antar saudara. Tapi menurut Gail Lewis, perihal itu tidak selalu betul dan tidak ada patokan pasti soal usia alias jenis kelamin yang bisa memprediksi seberapa akur hubungan mereka.
"Tidak ada pola yang jelas yang memprediksi kedekatan dalam perihal usia, jenis kelamin, alias gender," tuturnya.
Dalam beberapa kasus, selisih usia yang cukup jauh, misalnya enam tahun alias lebih, bisa membikin kerabat merasa susah menemukan kesamaan. Mereka mungkin berada di fase hidup yang berbeda, sehingga susah untuk saling memahami satu sama lain.
Sementara itu, kerabat yang tumbuh dengan selisih usia lebih dekat biasanya bisa menjalin hubungan seperti teman.
5. Perbedaan kepribadian
Selanjutnya, salah satu argumen kerabat kandung tidak akur adalah lantaran perbedaan kepribadian. Tidak semua kerabat punya minat alias langkah berpikir yang sama, sehingga susah untuk selalu sejalan dalam banyak hal.
Perbedaan ini bisa sangat mencolok hingga membikin mereka seolah-olah berada di kehidupan yang berbeda. Jika bukan lantaran tinggal di bawah satu atap, mungkin mereka tidak bakal memilih untuk dekat satu sama lain.
Contohnya, seorang introvert yang lebih nyaman di rumah bakal susah memahami seorang atlet ekstrovert yang selalu mau beraktivitas di luar. Perbedaan ini membikin mereka jarang punya minat yang sama untuk saling berbagi.
Itulah ulasan mengenai beberapa argumen utama kenapa kerabat kandung sering tidak akur menurut terapis keluarga. Semoga menambah pengetahuan baru, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·