5 Kesalahan Ketika Berpuasa Yang Sering Dilakukan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Ramadan adalah bulan umat Islam nan paling mulia. Ia adalah bulan diturunkannya sebuah kitab pedoman hidup seluruh manusia. Bulan ditutupnya pintu-pintu neraka. Bulan dibelenggunya setan-setan nan membisiki keburukan kepada manusia. Bulan nan terdapat suatu malam nan lebih baik daripada seribu bulan. Dan bulan kesempatan bagi kita semua untuk memperbaiki diri, bertobat, bermuhasabah, dan kembali menyegarkan keagamaan kita untuk menyadari bahwasanya kita sedang berada dalam sebuah perjalanan, perjalanan menuju kampung akhirat, tempat kita semua kembali.

Tidak diragukan lagi, orang nan berpuasa di bulan Ramadan dijanjikan beragam keutamaan, seperti dijauhkan dari api neraka [1], dimudahkan jalan menuju surga [2], puasanya menjadi syafaat penolong dirinya di hari hariakhir [3], dan penghapus dosa nan telah dilakukan [4].

Namun, untuk meraih beragam keistimewaan tersebut, kita perlu menghindari beberapa kesalahan nan dilakukan sebagian orang. nan dapat membikin kita tidak mendapatkan bermacam keistimewaan tersebut dan dapat membikin bulan Ramadan kandas menjadi madrasah pendidikan bagi diri kita. Sehingga, kita tidak mendapatkan faedah dari atmosfer ibadah pada bulan Ramadan.

Kesalahan pertama: Masih melakukan hal-hal haram

Sebagian orang berpuasa dari makan, minum, dan berasosiasi biologis, tetapi tidak berpuasa dari hal-hal nan haram. Seperti gibah, mengadu domba, berbicara kata-kata kotor, berbohong, mencela dan merendahkan orang, menipu, iri hati kepada nikmat orang lain, dan ucapan serta perbuatan haram lainnya.

Jika kita tetap melakukan hal-hal haram tersebut, walaupun kita menahan diri dari hal-hal nan membatalkan puasa, kita bakal kehilangan hikmah serta konsep puasa itu sendiri. Sebab, puasa merupakan pendidikan bagi pelakunya. Maka, tidak masuk logika jika Allah menyuruh kita menahan diri dari perihal nan mubah, seperti makan dan minum, tetapi malah kita terjang hal-hal nan haram.

Bahkan, beberapa ustadz beranggapan melakukan hal-hal haram bisa membatalkan puasa. Di antaranya Ibnu Hazm [5] rahimahullah, nan beralasan menggunakan sabda riwayat Ahmad no. 22545 tentang dua orang wanita nan Nabi ﷺ katakan puasanya batal karena melakukan perihal haram. Tetapi, nan tepat adalah sabda tersebut hukumnya lemah, menurut pendapat Syaikh Al-Albani [6], sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Sehingga, nan betul adalah melakukan hal-hal nan haram tidak membatalkan puasa, namun dapat menghilangkan pahala puasa.

Intinya, meskipun tidak membatalkan puasa, melakukan hal-hal haram saat berpuasa menghilangkan pahala puasa pelakunya. Sehingga, nan dia dapatkan hanya lapar dan haus. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

من لم يدعْ قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشراب

“Siapa nan berpuasa, namun tidak meninggalkan dan tetap mengucapkan ketidakejujuran dan tuduhan nan tidak benar, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minum.” [7]

Kesalahan kedua: Berakhlak buruk

Sebagian orang nan berpuasa menjadi temperamen, sigap emosi, dan mudah tersinggung. Menjadi galak terhadap keluarganya, sering mengumpat kepada orang lain, serta perilakunya keras dan kasar. Maka, ini semua bertentangan dengan hikmah dilaksanakannya puasa. Sebagaimana nan Nabi ﷺ sabdakan,

والصيام جُنَّة، فإذا كان يوم صوم أحدِكُم فلا يَرْفُثْ ولا يَصْخَبْ فإن سَابَّهُ أحَدٌ أو قَاتَلَهُ فليَقل: إنِّي صائم

“Puasa adalah perisai. Maka, pada hari salah seorang kalian berpuasa, janganlah dia bicara kotor dan jangan teriak-teriak (memancing keributan). Jika seseorang mencela alias memusuhinya, hendaknya dia mengatakan, ‘Aku sedang puasa.’” [8]

Baca juga: Bimbingan Islam dalam Menyikapi Kesalahan Orang Lain

Kesalahan ketiga: Bermalas-malasan di siang hari Ramadan

Sebagian orang menjadikan bulan Ramadan sebagai kesempatan untuk bermalas-malasan dengan argumen lemas dan kurang energi. Padahal, orang-orang nan pertama masuk Islam tidaklah demikian. Bahkan, kebanyakan peperangan nan terjadi di awal-awal dakwah Islam terjadi di bulan Ramadan, seperti perang Badr (2 H), Fathu Makkah (8 H), perang Al-Qadisiyyah (15 H), dan lainnya.

Sebagian orang juga menjadikan Ramadan sebagai kesempatan untuk tidur sepanjang hari, dengan beralasan menggunakan hadis,

نوم الصائم عبادة

“Tidurnya orang nan puasa adalah ibadah.” [9]

Padahal, sabda ini adalah sabda lemah [10], tidak bisa digunakan sebagai dalil. Maka, orang nan puasa semestinya memanfaatkan Ramadan sebagai penambah kebaikan saleh nan dilakukan dengan semangat.

Kesalahan keempat: Banyak makan dan minum

Betapa banyak dari kita nan sibuk mencoba jenis-jenis makanan nan tidak muncul, selain pada bulan Ramadan. Sore hari nan harusnya digunakan untuk membaca Al-Qur’an, berzikir, mengingat Allah, malah digunakan sebagai waktu berburu makanan. Kemudian, pada waktu buka puasa, dia makan sekenyang-kenyangnya, sehingga salat Magrib, Isya, dan Tarawih menjadi terasa berat. Maka, tentunya sibuk berburu kuliner dan banyak makan menafikan hikmah berpuasa.

Kesalahan kelima: Kendur beragama di akhir Ramadan

Banyak di antara kita nan menghidupkan awal hari bulan Ramadan, tetapi mulai kendur semangatnya di hari-hari terakhir. Bisa kita lihat, masjid pasti penuh ketika hari pertama Ramadan, kemudian berkurang pada hari kedua, dan seterusnya hingga 10 hari terakhir Ramadan nan harusnya momen paling krusial, malah paling sepi. Padahal, salah satu karena kenapa kita kudu semangat beragama di bulan Ramadan adalah lantaran ada malam lailatul qadar. Sedangkan malam itu ada di sepuluh malam terakhir, tetapi sepuluh malam terakhir malah momen paling sunyi saat Ramadan. Maka, ini merupakan gambaran ketidakpahaman kita terhadap keistimewaan bulan Ramadan. Kebanyakan kita hanya ikut arus. Jika orang-orang sibuk siap-siap lebaran, kita ikut. Jika orang-orang sibuk pulang kampung, kita juga ikut repot pulang kampung. Bukan berfaedah maksudnya kita tidak boleh memeriahkan Lebaran dan silaturahim kepada sanak family di kampung. Maka, sepatutnya kita tetap semangat hingga akhir bulan Ramadan, apalagi kudu semakin meningkat. Sehingga, ketika kita keluar bulan Ramadan, kita senantiasa istikamah melaksanakan kebiasaan baik nan telah terbentuk di bulan Ramadan.

Baca juga: Kesalahan nan Dijumpai pada Saat Salat Tarawih

***

Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho

Artikel: Muslim.or.id

Sumber:

Disarikan dari Kitab Durūs Ramadān Waqafāt li-Shā’imīn, hal. 30-32 dengan beberapa tambahan.

Catatan kaki:

[1] HR. Bukhari no. 2685 dan Muslim no. 1153.

[2] HR. Bukhari no. 1797.

[3] HR. Ahmad no. 6626 dan Al-Hakim no. 2036, hasan.

[4] HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 60.

[5] Al-Muhalla bil Atsar, hal. 306, cet. Dar Al-Fikr, Beirut.

[6] Al-Silsilah Al-Dha’ifah, no. 519.

[7] HR. Bukhari no. 1903.

[8] HR. Bukhari no. 1894.

[9] HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 3: 1437.

[10] Al-Silsilah Al-Dha’ifah, no. 4696.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah