5 Keutamaan Yang Melekat Pada Dzulqadah, Bulan Ke-11 Tahun Hijriyah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Dzulqadah adalah bulan ke-11 dalam urutan tahun Hijriyah. Bulan ini mempunyai sejumlah keutamaan. 

Keistimewaan Dzulqadah sebagaimana tergambar dalam surat At Taubah ayat 36 sebagai berikut:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) kepercayaan nan lurus, maka janganlah Anda menganiaya diri Anda dalam bulan nan empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi Anda semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang nan bertakwa."

Prof Syihabuddin Qalyubi, mantan pembimbing besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam naskah tulisan nan pernah tayang di Kincaimedia menjelaskan sebagai berikut:

1. Menurut Mazhab Syafii, peralatan siapa melakukan kebaikan di bulan-bulan suci, maka pahalanya dilipatgandakan, dan peralatan siapa melakukan kejelekan di bulan-bulan tersebut, maka dosanya dilipatgandaakan pula. Di samping itu,  pembayaran diyat nan diberikan kepada family terbunuh di bulan-bulan suci kudu diperberat. 

2. Al Thabari, sewaktu menafsirkan At Taubah ayat 36, dia beranggapan bahwa kata ganti fī hinna di ayat itu kembali ke bulan-bulan suci, dan dia menyebut dalil-dalil untuk memperkuat pendapatnya ini.

Jika dikatakan bahwa pendapat ini berfaedah membolehkan untuk melakukan kejam di selain empat bulan suci itu, sudah peralatan tentu pendapat itu tidak betul lantaran perbuatan kejam itu diharamkan kepada kita di setiap waktu dan di setiap tempat.

Hanya saja Allah SWT sangat menekankan keempat bulan tersebut lantaran kemuliaan bulan itu sendiri, sehingga ada penekanan secara unik kepada orang nan bebuat dosa pada bulan-bulan itu, sebagaimana ada penekanan secara unik kepada orang-orang nan memuliakannya. Sebagai padanannya firman Allah SWT:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى

“Peliharalah semua sholat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa.” (QS Al Baqarah: 238).  

Tidak diragukan lagi bahwasanya Allah SWT memerintah kita untuk memelihara (melaksanakan) seluruh sholat-sholat fardhu dan tidak berubah menjadi boleh meninggalkan sholat-sholat itu dikarenakan ada perintah untuk memelihara sholat wustha. Karena perintah memelihara sholat wustha di sana untuk penekanan agar diperhatikan jangan sampai ditinggalkannya. Demikian halnya larangan melakukan zhalim pada keempat bulan suci dalam QS At Taubah: 36 

 3. Bulan Dzulqadah termasuk bulan-bulan haji, sebagaimana firman-Nya: 

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan nan dimaklumi.” (QS Al Baqarah: 197).

Menurut Ibn Umar RA nan dimaksud bulan-bulan haji itu adalah: Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Menurut Ibnu Abbas RA di antara sunnah Rasulullah SAW adalah melaksanakan ihram haji hanya pada bulan-bulan haji tersebut.

Rasulullah SAW melaksanakan ibadah umroh empat kali, tiga kali di antaranya dilaksanakan pada bulan Dzulqadah dan sekali berbareng ibadah haji di bulan Dzulhijjah. 

قَالَ أَنَسٌ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ-: "اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي القَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِنَ الحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ العَامِ المُقْبِلِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الجِعْرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ" متفق عليه 

Anas RA berkata: “Rasulullah SAW melaksanakan ibadah umroh empat kali, semuanya dilaksanakan padan bulan Dzulqadah, selain umroh nan dilaksanakan berbareng ibadah Haji, ialah umroh dari Al Hudaibiyah di bulan Dzulqadah, umroh tahun berikutnya di bulan Dzulqadah, umroh dari Ji’ranah sembari membagikan ghanimah perang Hunain di bulan Dzulqadah, dan umrah sekalian melaksanakan ibadah haji (di bulan Dzulhijjah).” (HR Al Bukhari/1654 dan Muslim/1253).

5. Keistimewaan lainnya dari bulan Dzulqadah, Allah SWT berjanji untuk berbincang kepada Nabi Musa AS selama 30 malam di bulan Dzulqadah, ditambah 10 malam di awal bulan Dzulhijjah, sebagaimana firman Allah SWT:

وَوَٰعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَٰثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu 30 malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan 10 (malam lagi).” (QS Al-A’raf: 142). 

Mayoritas mahir tafsir mengatakan bahwa, “Tiga puluh malam itu adalah di bulan Dzulqadah, sedangkan nan sepuluh malam adalah di bulan Dzulhijjah.” (Tafsir Ibni Katsir II/244)\

sumber : Harian Republika

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam