6 Faedah Ilmu Seputar Puasa Ramadan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Pertama: Hukum orang nan meninggalkan puasa

Orang nan meninggalkan puasa lantaran meremehkan dan malas tidaklah menjadi kafir. Hal itu dikarenakan orang itu tetap dihukumi pada asalnya muslim sampai tegaknya dalil nan membuktikan bahwa dia telah keluar dari Islam. Sementara tidak tegaknya dalil nan menunjukkan bahwa orang nan tidak berpuasa keluar dari Islam selama dia meninggalkan puasa itu lantaran meremehkan alias malas.

Berbeda halnya dengan salat. Karena untuk masalah salat, telah terdapat dalil-dalil dari Kitabullah, Sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan perkataan para sahabat radhiyallahu ’anhum nan menunjukkan bahwa orang nan meninggalkan salat dihukumi sebagai kafir nan dia meninggalkan salat lantaran meremehkan dan malas. Abdullah bin Syaqiq berkata, “Adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memandang suatu perkara nan andaikan ditinggalkan menjadikan pelakunya kafir, selain salat.”

Meskipun demikian, orang ini (yang tidak mau puasa lantaran meremehkan dan malas) semestinya diajak untuk berpuasa. Dan andaikan rupanya dia enggan, semestinya dia diberikan ta’zir/hukuman pelajaran sampai dia mau menjalankan puasa.

(Sumber : Fatwa Syekh Al-‘Utsaimin nan dikumpulkan dalam Min Fatawa Al-‘Ulama’ fi Ash-Shiyam wa Al-Qiyam, hal. 41-42, penerbit Baitul Afkar Ad-Dauliyah, cet I/1420 H)

Kedua: Keistimewaan puasa

Syekh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah pernah ditanya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman dalam sabda nan diriwayatkan olehnya dari Rabbnya (hadis qudsi),

كل عمل ابن آدم له إلا الصيام؛ فإنه لي وأنا أجزي به

‘Setiap kebaikan anak Adam untuknya, selain puasa. Karena puasa itu untuk-Ku dan Akulah nan bakal membalasnya.‘ Suatu perihal nan dimaklumi bahwa semua ibadah itu untuk Allah dan diberikan pahala, tetapi gimana Allah memberikan kekhususan bahwa puasa itu untuk-Nya saja?”

Beliau menjawab,

“Keistimewaan nan terkandung di dalamnya adalah bahwa puasa merupakan ibadah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya. Karena, bisa saja seorang menampakkan diri bahwa dia sedang berpuasa, tetapi andaikan dia pulang ke rumahnya alias ke tempat sepi, lampau dia pun makan. Ini menunjukkan bahwa puasa mengandung suatu kelebihan dan keistimewaan khusus.

Begitu pula, setiap kebaikan itu mempunyai nilai lebih dan kemuliaannya. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan sebagaimana dalam sabda Abu Umamah nan menuturkan kepada beliau, ‘Tunjukkanlah kepadaku suatu ibadah untuk saya kerjakan, wahai Rasulullah.’ Beliau menjawab,

عليك بالصوم، فإنه لا مثل له

‘Hendaklah Anda berpuasa. Sesungguhnya tidak ada kebaikan lain nan serupa dengannya.’

Bukanlah artinya puasa menjadi lebih utama daripada salat. Akan tetapi, maksudnya adalah bahwa puasa itu mempunyai suatu keistimewaan tersendiri dan dia menunjukkan kepada keikhlasan.”

(Sumber : https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=4254)

Ketiga: Perusak puasa Ramadan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

“Barangsiapa nan tidak meninggalkan ucapan bohong dan tindakan bohong serta perilaku bodoh, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud. Lafaz ini milik Abu Dawud)

Imam Ash-Shan’ani rahimahullah menjelaskan bahwa sabda ini merupakan dalil diharamkannya bercakap-cakap bohong dan bertindak bohong serta diharamkannya bertindak bodoh/dungu bagi orang nan berpuasa. Dan kedua corak perbuatan ini juga diharamkan bagi orang nan sedang tidak berpuasa. Hanya saja pengharaman perbuatan itu bagi orang nan berpuasa lebih ditekankan lagi, seperti halnya pengharaman zina atas orang nan sudah tua renta dan diharamkannya kesombongan bagi orang nan miskin. (Lihat Subul As-Salam, 2:876)

Syekh Abdul Aziz Ar-Rajihi hafizhahullah menerangkan bahwa maksud sabda ini adalah orang nan melakukan perbuatan semacam itu tidak bakal bisa memetik faedah dari puasanya dan tidak bakal memperoleh pahala atas puasanya andaikan dia tidak meninggalkan ucapan dusta, tindakan bohong, serta perbuatan dungu. Dan perihal ini mengandung peringatan keras terhadap segala corak kemaksiatan, seperti berbohong, caci-maki, suap, berinteraksi dengan riba, melanggar hak-hak orang lain dalam perihal darah, harta, alias kehormatannya. Bagaimana mungkin orang mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan hal-hal nan pada asalnya mubah sementara di saat nan sama dia justru bergelimang dengan keharaman nan dilarang sepanjang waktu. Nilai apa nan bisa diraih dari puasa semacam ini?! Puasa nan lemah seperti ini tidak bisa menghapus dosa-dosa dan tidak mengangkat derajat pelakunya. (Lihat Minhatul Malik Al-Jalil, 4:147)

Syekh Abdullah Al-Bassam rahimahullah menjelaskan bahwa istilah al-qaul az-zur (perkataan dusta) di dalam sabda ini mencakup segala ucapan nan menyimpang dari kebenaran, tercakup di dalamnya ketidakejujuran dan fitnah. Termasuk nan paling parah adalah persaksian tiruan dalam rangka mengambil sesuatu dengan langkah nan batil alias menggugurkan hak. Termasuk di dalamnya adalah gibah/menggunjing, namimah/adu domba, mengumpat, dan sebagainya. Adapun nan dimaksud tindakan tolol adalah ucapan nan kotor/keji. Hadis ini menunjukkan bahwa puasanya orang nan melakukan perbuatan semacam itu menjadi berkurang maknanya dan sedikit pahalanya lantaran dia bukan puasa nan sempurna. (Lihat Taudhih Al-Ahkam, 3:482-483)

Baca juga: 8 Faedah dari Ketegasan Sikap Nabi Ibrahim

Keempat: Berkumur-kumur ketika puasa

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah betul pendapat nan menyatakan bahwasanya berkumur-kumur dalam wudu tidak wajib bagi orang nan sedang melakukan puasa di siang hari Ramadan?”

Beliau menjawab,

“Ini tidak benar. Berkumur-kumur di dalam wudu adalah salah satu tanggungjawab di dalam berwudu. Sama saja, apakah perihal itu pada siang hari Ramadan alias di waktu lainnya, untuk orang nan sedang puasa ataupun selainnya. Hal itu berasas keumuman firman Allah Ta’ala,

فَٱمۡسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمۡ

‘Maka, cucilah wajah-wajah kalian.’ (QS. Al-Ma’idah: 6)

Meskipun demikian, tidak selayaknya berlebih-lebihan dalam berkumur-kumur dan istinsyaq (menghirup air ke hidung) dalam keadaan dia sedang berpuasa. Hal ini berasas sabda Laqith bin Shabirah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman kepadanya, ‘Sempurnakanlah wudu, sela-selailah antara jari-jemari, dan bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq, selain andaikan Anda sedang berpuasa.’ (HR. Tirmidzi dan Nasa’i Disahihkan Al-Albani.)”

(Sumber : Tsamaniyah wal Arba’una Su’alan fish Shiyam, hal. 58.)

Kelima: Niat puasa Ramadan

Suatu saat, Syekh Muqbil ditanya, “Apakah wajib niat puasa Ramadan itu (dilakukan setiap hari, pent), ataukah cukup beriktikad puasa untuk sebulan penuh dengan sekali niat di awal? Dan kapankah berniatnya?”

Beliau menjawab,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

‘Sesungguhnya setiap kebaikan itu dinilai dengan niatnya. Dan setiap orang nan beramal bakal dibalas sesuai dengan apa nan dia niatkan.’ Ini adalah dalil nan menunjukkan wajibnya beriktikad dalam seluruh kebaikan nan hendak dilakukan.

Maka, nan lebih tampak kuat (bagi kami) adalah setiap orang wajib beriktikad di setiap hari. Namun, itu bukanlah berfaedah dia mengucapkan ‘nawaitu an ashuma yauma kadza wa kadza’ (saya beriktikad untuk puasa pada hari ini dan itu di bulan Ramadan). Akan tetapi, nan dimaksud niat itu adalah keinginan/maksud dan kesengajaan. Sehingga, ketika Anda bangun untuk makan sahur, ini pun sudah dianggap niat. Ketika Anda menyengaja menahan makan dan minum, ini pun sudah termasuk niat.

Adapun sabda ‘Barangsiapa nan tidak meniatkan puasa sejak malam, maka tiada puasa baginya.’, ini adalah sabda nan lemah dan mudhthorrib/goncang, meskipun sabda ini dinilai hasan oleh sebagian ulama. Akan tetapi, pendapat nan benar/lebih kuat adalah sabda ini mengandung kegoncangan/idhthirrab.”

(Sumber : http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=3321)

Keenam: Rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كل عمل ابن آدم له إلا الصيام؛ فإنه لي وأنا أجزي به،…والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك

“Allah ‘Azza Wajalla berfirman, ‘Setiap kebaikan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri, selain puasa. Puasa itu adalah untuk-Ku. Dan Akulah nan bakal membalasnya… Demi Tuhan nan jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aroma mulut orang nan berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada semerbak minyak kasturi.'” (HR. Muslim)

Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya. Tidak ada nan mengetahui dengan sebenarnya prinsip puasa seorang hamba, selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bisa saja seorang insan secara sembunyi-sembunyi makan dan minum, sementara tidak ada orang lain nan mengetahuinya. Akan tetapi, lantaran dia percaya bahwasanya Allah memandang dan mengawasinya, maka perihal itu pun tidak dilakukannya. (Lihat keterangan Syekh Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah dalam Al-‘Ibrah fi Syahri Shaum sebagaimana tercantum dalam Kutub wa Rasa’il, 6:209)

Pelajaran alias ibrah nan bisa dipetik dari perihal ini adalah bahwasanya andaikan seorang hamba takut kepada Allah kalau-kalau puasanya rusak/cacat, maka semestinya seorang insan juga takut kepada Allah andaikan salat, zakat, dan kewajiban-kewajiban lainnya mengalami kerusakan/cacat. Karena sesungguhnya nan mewajibkan puasa sama dengan nan mewajibkan salat. Terlebih lagi, salat adalah rukun Islam nan paling agung setelah dua kalimat syahadat. Begitu besarnya keistimewaan salat, sehingga Allah pun mewajibkannya kepada Nabi dengan mengangkat beliau ke langit. Apabila seorang muslim merasakan bahwa kerusakan pada puasanya adalah perkara nan sangat besar dan membahayakan, maka semestinya dia juga bisa merasakan bahwa rusaknya salat nan dia lakukan lebih besar dan lebih membahayakan. Inilah salah satu kegunaan dan pelajaran paling agung nan semestinya dipetik oleh setiap muslim dari bulan puasa. (Lihat keterangan Syekh Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah dalam Kutub wa Rasa’il, 6:209-210)

Baca juga: Sekilas tentang Keutamaan dan Faedah Surat Al-Fatihah

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah