7 Daftar Ulama Timur Tengah Selain Syekh Yusuf Qaradhawi Yang Halalkan Musik

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA— Pro kontra norma musik selalu muncul dalam setiap masa. Tidak hanya pada masa klasik Islam tetapi juga era modern. 

Perbedaan ini pun sah-sah saja, selama tetap menjunjung tinggi nilai-nilai penghormatan terhadap perbedaan. Kincaimedia, menginventarisasi ustadz kontemporer dari wilayah Timur Tengah nan memperbolehkan musik ialah sebagai berikut: 

Pertama, Syekh Sayyid Sabiq pengarang kitab Fiqh as-Sunnah. Dia mengatakan: 

الغناء في مواضعه جائز , والذي يقصد به فائدة مباحة حلال وسماعه مباح , وبهذا يكون منفعة شرعية يجوز بيع آلته وشرائها لأنها متقومة) إنتهى 

"Nanyian dalam beberapa konteksnya boleh, dan nan dimaksud faedahnya boleh legal dan mendengarkannya boleh, dengan demikian pemanfaatannya menurut syari juga boleh seperti memperjualbelikan perangkat musik lantaran merujuk pada norma boleh itu." (Fiqh as-Sunnah, jilad ketiga laman 217, Bab Jual Beli Alat Musik). 

Kedua, Syekh Salman bin Fahd al-Audah, cerdas pandai Muslim Arab Saudi

مسألة حكم الغناء والمعازف من المسائل الفرعية التي وقع فيها خلاف بين الفقهاء ...وهذا ينسحب من باب أولى على الأناشيد الإسلامية التي تصحبها الإيقاعات الموسيقية, فهي من المسائل التي يسوغ فيها الخلاف وليست من الاصول التي يناط بها الولاء والبراء فلاينبغي الإيغال فيها لتصبحهم الشباب وحديثهم في المجالس والمنتديات وكأنه لامشكلة لدينا اليوم سوى منعها أو إباحتها كما لايسوغ أن تكون سببا للفرقة وإختلاف القلوب بل الواجب أن يبقى للنفوس صفائها وللصدور سلامتها, وتبقى المودة والالفة بين المسلمين حتى لو إختلفوا في ذلك) إنتهى

“Persoalan nanyian dan musik adalah persoalan bagian nan diperselisihkan ulama. Dan ini tentunya keluar dari kategori ini lagu-lag Islami nan diiringi dengan nada musik, ini perkara nan diperdebatkan, dan bukan termasuk ushul nan kudu dilandasi prinsip al-wala wal bara, tidak perlu diperuncing lagi hingga melibatkan para pemuda dan membujuk mereka membincangkan rumor ini di majelis-majelis, dan perkumpulan-perkumpulan, seakan-akan tidak ada persoalan lain dalam kepercayaan kita hari ini, selain melarang alias membolehkannya, dan tidak boleh diperuncing sampai menjadi biang perpecahan dan perselisihan hati, bakal tetapi justru wajib hati tetap bersih, kasih sayang dan kelembutan antara sesama Muslim meski mereka berbeda pendapat soal musik.” (Pusat Ilmiah Islam Today, al-Qashim, 16 Jumadil Awal 1428 Hijriyah). 

Ketiga, Syekh Rasyid Ridha Mesir

فصلنا القول في سماع آلات الملاهي تفصيلاً فذكرنا أحاديث الحظر التي يستدل بها المحرمون مع تخريجها ، وأدلة الإباحة مع تخريجها ، وخلاف العلماء في الغناء والمعازف(آلات الطرب) وأدلتهم. ثم بحثنا في السماع من جهة القياس الفقهي ومن جهات أخرى ، وكان حاصل الجواب:-إنه لم يرد نص في الكتاب ولا في السنة في تحريم سماع الغناء وآلات اللهو يحتج به . -ورد في الصحيح أن النبي صلى الله عليه وسلم وكبار أصحابه سمعوا أصوات الجواري والدفوف بلا نكير . - الأصل في الأشياء الإباحة . - ورد نص القرآن بإحلال الطيبات والزينة وتحريم الخبائث . -لم يرد نص –صريح - عن الأئمة الأربعة في تحريم سماع الآلات . -كل ضار في الدين والعقل أو النفس أو المال أو العرض ، فهو من المحرم ولا محرم غير ضار . -من يعلم أو يظن أن السماع يغريه بمحرم حرم عليه . -إن الله يحب أن تؤتى رخصه كما يحب أن تؤتى عزائمه .-إن تتبع الرخص والإسراف فيها مذموم شرعًا وعقلاً .-إذا وصل الإسراف في اللهو المباح إلى حد التشبه بالفساق ، كان مكروهًا أو محرمًا .والله اعلم 

“Sudah kita jelaskan pendapat mendengarkan perangkat musik secara detail, kita jabarkan hadits-hadits larangan nan dijadikan dalil pihak nan melarang komplit dengan takhrijnya, dan dalil-dalil nan memperbolehkan berikut takhrijnya, serta perbedaan pendapat ustadz tentang nyanyian dan perangkat musik beserta dalil mereka. Kemudian kita telaah pula norma mendengarkan melalui qiyas fikih dan aspek lainnya, dan kesimpulannya adalah: Belum ada nash dalam Alquran dan sunnah mengharamkan mendengarkan lagu dan perangkat musik nan bisa dijadikan dalil. Bahkan ada dalil sahih Nabi SAW dan pembesar sahabat mendengarkan bunyi para budak dan rebana, tanpa ragu lagi. Prinsip dalam norma adalah boleh. Ada nash Alquran membolehkan perkara nan baik, perhiasan, dan perkara nan keji. Belum ada nashinash dari pemimpin empat madzhab mengharamkan perangkat musi. Segala nan membahayakan agama, akal, jiwa, harta, alias kehormatan maka dia diharamkan dan tidaklah haram jika tidak membahayakan. Barang siapa mendengkarkan musik merasa menipunya dengan perkara haram ya jangan dengarkan. Sesungguhnya Allah mencintai agar keringanannya diambil sebagaimana perintahnya dijalankan. Jika keringanan itu di diambil dan berlebihan tentu tercara menurut hukum dan akal. Jika permainan nan boleh telah melewati pemisah sampai level kefasikan tentu ini makruh dan haram. Wallahu a’lam.” (Kitab Fatwa Syekh Muhammad Rasyid Ridha).  

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam