9 dari 10 Orang Punya Masalah Gigi, Sebagian Masih Takut ke Dokter Gigi

Tips dan Informasi Kesehatan oleh Waktu baca 4 menit 504x dilihat
9 dari 10 Orang Punya Masalah Gigi, Sebagian Masih Takut ke Dokter Gigi

Bagikan Postingan

Penyakit gigi tidak kenal usia. Masih banyak dijumpai anak-anak hingga dewasa yang mengalami masalah gigi, terutama gigi berlubang. Berdasarkan info Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 90% penduduk Indonesia yang mengalami masalah gigi belum mendapatkan perawatan dari tenaga medis profesional.

Sayangnya, 9 dari 10 orang cenderung membiarkan rasa sakit alias berbuat pengobatan berdikari tanpa diagnosis dokter. Situasi ini diperberat oleh rasio pelayanan medis yang statis berada di angka 1:8.000 serta keberadaan 2.375 puskesmas di Indonesia yang beroperasi tanpa master gigi.

Menjawab kesenjangan aksesibilitas dan kecemasan penduduk terhadap biaya serta rasa sakit saat perawatan, dalam rangka Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN), SATU Dental Group mengundang media untuk mengenal lebih dekat pelayanan gigi yang terintegrasi dan juga edukasi seputar kesehatan gigi pada 15 September 2026.

Menurut Satria Situmorang, CEO SATU Dental Group, ada tiga alasan utama kenapa orang enggak memeriksakan gigi ke klinik gigi yaitu dependensi akses, persepsi biaya mahal yang tidak transparan, serta rasa takut akan aksi medis. "Satu Dental datang sebagai solusi holistik untuk meruntuhkan tiga hambatan utama penduduk dalam merawat gigi," ujar Satria Situmorang

Saat ini belum semua kalangan bisa menjangkau akses pelayanan ke master gigi, terutama di daerah, terutama jasa yang advance. Poli Gigi di Puskesmas memang sudah menyediakan emeriksaan, pengobatan dasar, serta aksi medis gigi dan mulut seperti penambalan, pencabutan, dan pembersihan karang gigi. Tapi untuk aksi yang lebih kompleks, biasanya pasien akan dirujuk ke akomodasi kesehatan gigi yang lebih lengkap.

Jangan Tunggu Sakit Baru ke Dokter Gigi

Kebiasaan penduduk Indonesia kebanyakan akan datang ke master gigi saat sakit gigi. Bisa jadi sudah terlambat. drg. Melissa Delania, Sp.Pros, yang juga VP Medical Affairs Satu Dental Group, menjelaskan, ketika datang ke master gigi karena gigi berlubang yang sudah infeksi, maka tindakannya tidak lagi mudah.

“Sakit gigi tidak datang tiba-tiba, tetapi sudah melalui proses yang panjang. Biasanya wal gigi berlubang tidak terasa sakit, sampai kemudian lubang semakin dalam dan mengenai saraf-saraf gigi dan menyebabkan nyeri. Tapi, jika dibiarkan lama-lama saraf gigi akan mati dan tidak lagi terasa nyeri. Ketika gigi berlubang sudah tidak terasa sakit lagi, artinya saraf sudah mati, dan ini justru menjadi sumber infeksi yang dapat meluas, dan menekan area di sekitar jaringan penyangga, apalagi infeksi bisa menghambur melalui darah sampai menyebabkan kematian,” jelas drg. Della.

Drg. Della melanjutkan, pennyebaran infeksi yang berasal di gigi kadang lebih cepat sehingga aksi yang dilakukan sudah terlambat. Oleh karena itu, pergi ke master gigi rutin sebelum masalah datang sangat disarankan.

“Bagi yang belum pernah ke master gigi karena tidak pernah sakit gigi, pasti ada masalah yang ditemukan, minimal karang giginya perlu dibersihkan untuk mencegah radang gusi. Dalam satu kali kunjungan, paling banyak cuma bisa dilakukan 1-3 aksi pada masalah gigi, sehingga kadang pasien perlu datang berkali-kali. Tapi jika sudah tidak lagi ada masalah gigi, tinggal cek 6 bulan sekali,” ujar drg. Della.

Kebiasaan hidup sehat untuk mencegah gigi berlubang juga perlu dilakukan dengan perawatan alas yaitu sikat gigi pagi setelah sarapan dan menjelang tidur, flossing, dan berkumur. “Jangan lupa mengurangi ngemil, karena ngemil adalah salah satu penyebab gigi gampang berlubang. Ngemil membikin pH di dalam ringga mulut rendah dan ini menjadi lingkungan yang baik buat bakteri berkembang menyebabkan gigi berlubang.”

“Kami ingin membujuk penduduk untuk aktif membangun kebiasaan diagnosis gigi rutin demi senyum masa depan yang lebih sehat, dengan cara inovasi awal sejak awal dan berbuat pembersihan gigi berkala. Dengan begitu kita akan lebih tampil percaya diri, karena kecuali gigi sehat, napas juga senantiasa bugar dan bebas cemas saat berhubung dengan orang lain,” ujar drg. Della.

Mengedepankan Rasa Aman

Untuk membikin pasien semakin betah berbuat perawatan gigi, Satria Situmorang menambahkan bahwa Satu sental menghadirkan ekosistem kesehatan gigi terintegrasi. Ekosistem ini menggabungkan jaringan klinik gigi, distributor e-commerce barang gigi Klik Dental, serta laboratorium berbasis teknologi modern Dua Lab & Tech guna menekan biaya operasional tanpa mengorbankan kualitas layanan.

Dan untuk memastikan rasa aman pasien dan menjamin standarisasi kualitas di seluruh cabang, Satu Dental yang sudah memiliki 57 jaringan klinik, menerapkan kontrol ketat pada tenaga medis. Proses rekrutmen menyaring lulusan terbaik dari universitas terkemuka, dipadukan dengan bimbingan SOP medis yang rutin dan terstruktur.

"Kami ingin mengubah rasa takut pasien menjadi rasa aman. Setiap master gigi di jaringan kami dibekali pelatihan berkepanjangan melalui SATU Dental Academy. Program ini memberikan pembinaan keahlian teknis dan soft keahlian terbaik yang dimentori langsung oleh master senior serta spesialis, sehingga seluruh aksi medis terjamin presisi, higienis, dan minim rasa sakit," pungkas drg. Della.

Artikel Lainnya Tips dan Informasi Kesehatan
Close Right Ads
Close Left Ads