Adab Berkendara Dan Berlalu Lintas Dalam Islam Untuk Mencegah Kecelakaan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA — Tujuh kendaraan terlibat kecelakaan di gerbang Tol Halim pada rabu (27/3/2024). Kecelakaan beruntun tersebut diakibatkan oleh supir truk nan ugal-ugalan hingga kehilangan kendali dan menabrak mobil-mobil di depannya.

Fenomena kecelakaan beruntun bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Acapkali kecelakaan itu terjadi akibat kurangnya kehati-hatian serta pelanggaran lampau lintas. Pelanggaran lampau lintas ini seperti halnya tidak disiplin pada saat berkendara maupun melakukan tindakan saling menyalip dengan pengemudi lain.

Aturan berlalu lintas dalam Islam secara tidak langsung diatur, namun demikian beragam ustadz mengajarkan adab berkendaraan dan melangkah dalam Islam. Salah satu ustadz adalah Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada nan secara rinci menjelaskan etika melangkah dalam kitabnya Mausuu’ul Aadab al Islamiyah. Antara lain melangkah alias berkendara diawali dengan niat nan benar, tidak melangkah untuk suatu nan haram, bersikap tawadhu dan tidak sombong, dan melangkah secara normal.

Imam di Kementerian Wakaf Mesir, Syekh Abdul Wahab Imarah dalam artikelnya berjudul Ishamat Islamiyah fi Hallil Musykilat al-Mururiyyah mengatakan, problematika lampau lintas tak bisa dipisahkan dari prinsip-prinsip kepercayaan Islam. Risalah samawi tersebut juga meletakkan perhatian terhadap pentingnya sikap tertib berlalu lintas. Ini lantaran pada dasarnya, berlalu lintas adalah soal sikap ketidakdisiplinan mengikuti rambu dan peraturan lampau lintas. Islam meluruskan sikap itu agar alim terhadap etika di jalan raya. "Ketika berkendara, juga ada kewenangan nan kudu dipenuhi,” tulisnya.

Ia menjelaskan, ada lima perkara utama nan wajib dijaga dan dipertahankan oleh umat Islam, ialah agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Ini kemudian disebut dengan lima pokok kewenangan asasi tiap manusia (al kuliyyat al khamsah). Maka, petaka nan terjadi di jalanan berakibat fatal pada hilangnya salah satu poin alias apalagi kelima pokok tersebut. Kecelakaan itu bisa mengakibatkan hilangnya nyawa. Ini bisa dilihat dari ayat ke-32 surah Al-Maidah. Dari segi hilangnya keturunan, tragedi di jalan raya menyebabkan hilangnya kepala family nan menghidupi anak-anaknya, istri menjadi janda, anak-anak menjadi yatim, pendidikan anak terbengkalai.

Atas dasar inilah, kepercayaan mendesak urgensi memberikan hukuman bagi mereka nan tidak sengaja telah membunuh, apalagi mereka nan dengan sengaja melakukannya, termasuk soal keteledoran berkendara.

Dalam Al-Isra ayat 33 disebutkan:

“Dan janganlah Anda membunuh jiwa nan diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) nan benar. Dan peralatan siapa dibunuh secara zalim, maka sungguh, Kami telah memberi kekuasaan kepada hali warisnya, tetapi janganlah hali waris itu melampaui pemisah dalam pembunuhan. Sesungguhnya dia adalah orang nan mendapat pertolongan.”

Begitu juga dalam surat Al Ahzab ayat 58:

"Dan orang-orang nan menyakiti orang-orang nan mukmin dan mukminat tanpa kesalahan nan mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul ketidakejujuran dan dosa nan nyata."

Inilah, kata syekh, akibat nan diakibatkan oleh ketidakdisiplinan dan sikap sembrono. Pengendara nan lalai dan tidak memedulikan etika berkendara bakal membahayakan dirinya sendiri dan orang lain. Ia mengusulkan sejumlah saran dan nasihat bagi tegaknya kedisiplinan berlalu lintas.

Di antaranya, tertib patokan lampau lintas. Ini bisa dimulai dengan menaati rambu-rambu dan saling menghormati sesama pengendara. Pihak berkuasa kudu melengkapi prasarana nan membantu tegaknya patokan tersebut. Selain menambah personel, bisa pula memaksimalkan teknologi berupa radar kecepatan maksimum alias kamera pengintai.

Pihak kepolisian juga dapat memperketat pengeluaran surat izin mengendarai mobil alias motor. Langkah ini dinilai bakal membantu memperkecil nomor kecelakaan nan disebabkan oleh rendahnya keahlian berkendara. Karena kecelakaan di gerbang Tol Halim ini diketahui bahwa supir truk tetap berumur 18 tahun dan tidak mempunyai surat izin mengemudi dari kepolisian.

Kemudian, buruknya prasarana jalan raya nan perlu diperbaiki juga kudu menjadi perhatian pemerintah. Misalnya tetap terdapat ruas jalan nan rusak, berlubang hingga dan tak laik pakai.

Serangkat patokan lampau lintas nan telah dibuat pada dasarnya dapat mengantarkan kita pada ketenangan dalam berkendara. Kita juga bisa mengambil hikmah bahwa peraturan lampau lintas pada dasarnya membantu kita menegakkan perintah Allah di muka bumi ini.

Karena peraturan lampau lintas dibuat oleh pemerintah tidak dalam rangka kebatilan, melainkan telah disepakati oleh masyarakat dunia. Peraturan lampau lintas telah terbukti bisa mengurangi akibat keelakaan di jalan, juga terbukti bisa menertibkan kendaraan.

Peraturan lampau lintas ini bakal semakin mendapat dalil legitimasinya jika dilihat dari kaca mata maslahah mursalah. Secara istilah maslahah mursalah adalah "Memelihara tujuan syara" dengan jalan menolak segala sesuatu nan merusakkan makhluk." (As-Siddiqi, 1968: 236)

Oleh karenanya, wajib bagi kita untuk memiliki etika berkendara di mana seseorang mematuhi semua patokan nan telah ditentukan selama proses berkendara, sebelum berkendara pastikan kendaraan dan peralatan berkendara komplit dan sesuai standar, memiiki ijin berkendara, kondisi jasmani rohani kita baik saat berkendara, dan berkendara mengikuti rambu-rambu nan ada, insya Allah dengan ihtiar ini bakal menghantarkan keselamatan dan kenyamanan bagi kita dan bagi masyarakat pada umumnya.

Selain kita memberi contoh dan menjadi teladan dalam berkendara, kita juga bertanggung jawab untuk mengingatkan kepada keluarga, lingkungan, dan masyarakat di sekitar kita agar tertib dalam berlalulintas. Kita juga tidak boleh membiarkan alias memberikan ijin kepada putra-putri kita nan belum cukup umur dan belum mempunyai SIM untuk mengendarai kendaraan, lantaran tindakan tersebut disamping membahayakan putra-putri kita juga bakal membahayakan orang lain.

Sumber:

Buku “Khutbah Jumat Dan Penyempurnaan Akhlak” oleh Abdul Kholik, Furqon Karim, dkk

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam