Adakah Hari Baik Itu?

Jan 02, 2026 03:33 PM - 5 bulan yang lalu 147456

Kincai Media , JAKARTA -- Mencari dan menetapkan hari baik untuk melakukan sesuatu barangkali sudah menjadi bagian kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia. Untuk sebuah hari yang baik itu, kadang-kadang orang perlu menunda pekerjaan baik, untuk selanjutnya menunggu berbulan-bulan lamanya.

Tradisi tersebut bukan semata milik masyarakat tradisional kita. Dalam suatu kondisi psikologis tertentu, kalangan terpelajar, akademis, pejabat, dan lain-lain yang sehari-hari apriori dengan hal-hal yang logis mengamalkan tradisi itu juga.

Almarhum KH Ilyas Syarqawi, bapak dari para kyai dan pengasuh Pondok Pesantren An-Nuqoyah Guluk-guluk Sumenep, Madura, misalnya.

Pada suatu kali, Kiai Ilyas kehadiran keponakannya untuk menanyai pendapat beliau tentang kapan sebaiknya berangkat mondok.

Beliau kembali bertanya, ''Kamu sendiri merencanakan kapan berangkat?''

Sang ponakan menjawab hari Senin, tetapi ragu dan hendak berangkat hari Rabu alias Jumat.

''Hari Senin baik. Hari Rabu baik. Jumat juga baik,'' jawab KH Ilyas singkat.

Sang ponakan, rupanya orang cerdik, sembari menyelidik kembali dia menyebut hari-hari lain dan menanyakan pendapat beliau kembali. ''Semua hari baik untuk melakukan kebaikan,'' jelas Kiai Ilyas.

Jawaban beliau tersebut termasuk sikap modern pada zamannya. Lebih-lebih, beliau menyatakannya di lingkungan masyarakat tradisional pada saat Indonesia baru merdeka. Sekali lagi membuktikan, sungguh seorang ustad tradisional yang hidup di lingkungan kampung terpencil bisa menyikapi persoalan secara modern.

Ibnu Abbas, sepupu Rasulullah ketika ditanya tentang hari, bulan, dan pekerjaan yang terbaik, menjawab, ''Hari Jumat, bulan Ramadhan, dan shalat wajib lima waktu.''

sumber : Hikmah Republika oleh Syarqawi Dhofir

Selengkapnya