Ajaran Islam Dalam Menyikapi Kekalahan

Oct 15, 2025 04:08 PM - 5 bulan yang lalu 186585

Kincai Media , BOGOR --Kekalahan adalah perihal yang sangat biasa, yang menjadi tidak biasa adalah langkah menyikapinya. Lalu, gimana langkah menyikapi kekalahan dalam Islam?

Dalam kitab Al Adzkar Al Nawawiyyah, Al Imam Muhyiddin Abi Zakariya Al Nawawi alias yang dikenal sebagai Imam Nawawi mengutip sebuah riwayat yang berasal dari Shahih Muslim. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, suatu ketika Rasulullah SAW bersabda: 

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dibandingkan dengan mukmin yang lemah. Meskipun begitu, keduanya mempunyai kebaikan. Maka, bersemangatlah dalam hal-hal yang berfaedah bagimu dan meminta pertolonganlah kepada Allah dan jangan lemah. Dan jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengatakan: ‘Seandainya saya melakukan ini maka bakal begini dan begitu,’ bakal tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkannya dan apa yang Ia kehendaki telah terjadi.’ Sebab kata ‘seandainya’ bakal membuka ruang bagi setan untuk bekerja.” (HR Muslim).

Hadits di atas memuat banyak sekali pesan yang dipetik oleh orang-orang yang memgalami kekalahan. Pertama, sebagai seorang mukmin sudah semestinya mempunyai jiwa yang kuat dan tahan banting, tidak mudah putus asa hanya dengan kekalahan, lantaran Allah SWT menyukai mukmin yang kuat dibandingkan yang lemah.

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kuat di sini adalah tekad kuat yang ada dalam jiwa dan karakter seseorang dalam mengurusi persoalan-persoalan akhirat. Meski begitu, tidak layak seorang mukmin mempunyai jiwa yang lemah, apalagi hanya lantaran calon yang diusungnya kalah.

Kedua, baik orang yang kuat maupun orang yang lemah sama-sama mempunyai kebaikan. Karena dalam riwayat ini, baik orang yang kuat maupun orang yang lemah keduanya adalah orang yang beriman, maka tentu keduanya mempunyai sisi yang sama-sama baik. Karena itu, tidak ada argumen bagi orang yang merasa dirinya kuat, tiba-tiba menjatuhkan dan mengolok orang yang lemah lantaran keduanya mempunyai kelebihannya masing-masing.

Ketiga, bersungguh-sungguhlah mengerjakan perihal yang bermanfaat. Ada banyak ragam langkah orang melampiaskan kekalahan dan kekecewaan. Ada yang bercakap-cakap kotor, melakukan kekerasan, dan banyak lagi yang lainnya. Maka dalam hadits di atas kita dilarang melakukan hal-hal tersebut dan diperintahkan untuk malakukan hal-hal positif lainnya. Dengan catatan, kita kudu senantiasa meminta pertolongan dari Allah dan jangan lemah untuk mengerjakan perihal positif tersebut.

Keempat, tidak perlu mengatakan ‘seandainya’, bakal tetapi katakanlah ‘takdir Allah telah terjadi’. Seandainya adalah kata yang sering muncul dari mulut orang-orang yang kalah, ini merupakan untaian penyesalan dan bisa juga pertimbangan atas apa yang terjadi. Menurut hadits tersebut, nerandai-andai hanya bakal menambah ruang setan dan ruang penyesalan yang cukup dalam.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW juga bersabda: 

إِنَّ اللَّهَ يَلُومُ عَلَى الْعَجْزِ وَلَكِنْ عَلَيْكَ بِالْكَيْسِ فَإِذَا غَلَبَكَ أَمْرٌ فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Artinya: "Sesungguhnya Allah mencela kelemahan, maka hendaklah kalian bersikap bijaksana. Jika kalian menerima sesuatu yang kalian tidak sukai maka ucapkanlah, hasbiyallahu wa ni'mal wakil." (HR Abu Daud dan Ahmad). 

Hadits tersebut menunjukkan bahwa kelemahan adalah kebalikan dari kebijaksanaan. Bijaksana berfaedah bersikap hati-hati dalam setiap perkara, berpatokan pada tadbir (pengelolaan), kemaslahatan, dan memperhatikan faktor-faktor karena sesuatu terjadi, serta menggunakan logika sehat dalam menghadapi akibat yang diterimanya.

Ketika mengalami kekalahan dari lawan, maka yang patut diucapkan adalah 'hasbiyallahu wa ni'mal wakiil', yang berarti cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Karena Allah SWT tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

sumber : Dok Republika

Selengkapnya