Akan Berakhir, Cek Batas Waktu Puasa Syawal 

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA -- Berdasarkan almanak Hijriyah nan dikeluarkan Kementerian Agama (Kemenag) Indonesia tahun 2024, 1 Syawal 1445 Hijriyah jatuh pada 10 April 2024.

Tanggal 30 Syawal 1445 Hijriyah jatuh pada 9 Mei 2024. Artinya umat Islam bisa menjalankan puasa sunah Syawal untuk nan terakhir di tahun ini pada 9 Mei 2024.

Haruskah puasa sunnah Syawal dilakukan berturut-turut? Menjawab pertanyaan tersebut KH Ahmad Sarwat Lc pada laman Rumah Fiqih menjelaskan bahwa para fuqaha (ahli fiqih) berbeda pendapat.

Mengapa berbeda pendapat? Tidak adakah patokan dari Nabi Muhammad SAW tentang tata langkah puasa Syawal?

Jawabnya memang tidak ada aturannya. Oleh lantaran itulah para ustadz berbeda pendapat. Seandainya ada hadits shahih nan menjelaskan bahwa puasa Syawal itu kudu berturut-turut sejak tanggal-tanggal Syawal, maka pastilah semua ustadz berasosiasi dalam satu pendapat.

Namun lantaran tidak ada satu pun dalil qath'i nan sharih dan shahih tentang patokan itu, banget wajar jika perihal itu masuk ke wilayah ijtihad.

Kalau nan berijtihad hanya orang awam seperti kita, mungkin bisa kita abaikan. Akan tetapi kita merujuk kepada orang nan paling tinggi levelnya dalam berijtihad. Mereka adalah para pemimpin ajaran dan pendirinya langsung.

Asy-Syafi'iyah dan sebagian Al-Hanabilah

Al-Imam Asy-Syafi'i dan sebagian fuqaha Al-Hanabilah mengatakan bahwa afdhalnya puasa 6 hari Syawal itu dilakukan secara berturut-turut selepas hari raya Idul Fitri.

Sehingga afdhalnya menurut ajaran ini puasa Syawal dilakukan sejak tanggal 2 hingga tanggal 7 Syawal. Dengan argumen agar jangan sampai timbul halangan jika ditunda-tunda.

Nampaknya pendapat ini didukung oleh beberapa kalangan umat Islam di negeri ini. Misalnya di wilayah Pekalongan, Jawa Tengah. Sebagian masyarakat Muslim di sana punya kebiasaan puasa Syawal 6 hari berturut-turut sejak tanggal 2 Syawal. Sehingga ada lebarang lagi kelak pada tanggal 8 Syawal.

Mazhab Al-Hanabilah

Tetapi kalangan resmi ajaran Al-Hanabilah tidak membedakan apakah kudu berturut-turut alias tidak, sama sekali tidak berpengaruh dari segi keutamaan.

Sehingga dilakukan kapan saja asal tetap di bulan Syawal, silahkan saja. Tidak ada keharusan untuk berturut-turut, juga tidak ada ketentuan kudu sejak tanggal 2 Syawal.

Mereka juga mengatakan bahwa puasa 6 hari Syawal ini hukumnya tidak mustahab jika nan melakukannya adalah orang nan tidak puasa bulan Ramadhan.

Mazhab Al-Hanafiyah

Sedangkan kalangan Al-Hanafiyah nan mendukung kesunnahan puasa 6 hari Syawal mengatakan sebaliknya. Mereka mengatakan bahwa lebih utama jika dilakukan dengan tidak berturut-turut. Mereka menyarankan agar dikerjakan 2 hari dalam satu minggu.

Mazhab Al-Malikiyah

Adapun kalangan fuqaha Al-Malikiyah lebih ekstrim lagi. Mereka mengatakan bahwa puasa itu menjadi makruh jika dikerjakan berdampingan langsung dengan bulan Ramadhan. Hukumnya makruh jika dikerjakan mulai tanggal 2 Syawal selepas hari Idul Fitri.

Bahkan mereka mengatakan bahwa puasa 6 hari itu juga disunnahkan di luar bulan Syawal, seperti 6 hari pada bulan Dzulhijjah.

Demikianlah perbedaan pendapat di kalangan empat mazhab, semua terjadi lantaran tidak ada satu pun nash nan menetapkan puasa Syawal kudu dikerjakan dengan begini alias begitu. Ketiadaan nash ini memberikan kesempatan untuk berijtihad di kalangan fuqaha.

Kita boleh menggunakan pendapat nan mana saja, lantaran semua merupakan hasil ijtihad para fuqaha kawakan. Tentunya mereka sangat mengerti dalil dan hujjah nan mendukung pendapat mereka.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam