Alquran Abadikan Kisah Nabi Ibrahim Ketika Meraba-raba Mencari Tuhan 

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA— Nabi Ibrahim alaihissalam melakukan pencarian kebenaran ketika remaja. 

Dia melakukan pengamatan pertama Nabi Ibrahim tertuju pada bintang-bintang. Tetapi, setelah bintang itu tenggelam dan sirna dari pandangannya, timbul kepercayaan bahwa nan tenggelam dan menghilang tidak bisa dianggap sebagai Tuhan.

Ini sebagai argumen Nabi Ibrahim untuk mematahkan kepercayaan kaumnya, bahwa semua nan mengalami perubahan itu tidak layak dianggap sebagai Tuhan. 

Demikian juga ketika bulan dan mentari nan sedang bersinar. Dan kemudian tenggelam, Allah SWT mengisahkan sindirannya nan lebih tajam ialah pengamatan Nabi Ibrahim terhadap matahari, barang langit nan paling terang cahayanya menurut pandangan mata, nan merupakan rentetan ketiga dari pengamatan-pengamatan Ibrahim nan telah lalu, ialah setelah Ibrahim memandang mentari terbit di ufuk dia pun.

Sindiran ini adalah sindiran nan paling tajam untuk membungkamkan kaumnya agar mereka tidak mengusulkan argumen lain untuk mengingkari kebenaran nan sukses dibuktikan Ibrahim.  Dalam Alquran surat Al Anam ayat 76-78 dijelaskan, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ.فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚفَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ.فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ 

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) memandang sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada nan terbenam.”

Baca juga: Dulu Berpikir Islam Sarang Teroris Juga Biang Poligami, Armina Kini Bersyahadat dan Mualaf 

Kemudian, ketika dia memandang bulan terbit dia berbicara (kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku.” Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah saya termasuk kaum nan sesat.” 

Kemudian, ketika dia memandang mentari terbit dia berbicara (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika mentari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya saya berlepas diri dari nan Anda persekutukan.”

sumber : Harian Republika

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam