Amal Bukan Diukur Jumlahnya, Tapi Hatinya Tamak Atau Zuhud

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA -- Di bumi mungkin bakal dapat disaksikan orang kaya kekayaan nan melakukan kebaikan dengan jumlah nan besar. Tapi orang tersebut sikapnya cinta bumi dan condong serakah alias serakah. Kadang kala melakukan kebaikan dengan hati nan terkontaminasi bangga nan condong sombong dan mau mendapat perhatian alias pujian orang lain.

Namun, ada juga orang nan beramal dan jumlahnya sedikit. Tapi orang tersebut zuhud alias tidak cinta bumi dan tidak tamak. Amalnya secara sembunyi-sembunyi, jika amalnya dilakukan secara terang-terangannya tujuannya untuk dakwah memberi contoh nan baik, bukan untuk mendapat pujian. Saat beramal juga tidak bangga nan condong sombong, lantaran orang zuhud menyadari kemampuannya beramal atas izin serta kehendak Allah nan memampukannya beramal.

Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam menjelaskan, ibadah nan berasal dari hati nan zuhud ialah hati nan tidak cinta dunia, tidak bisa dikatakan sebagai ibadah nan sedikit. Sebaliknya, ibadah nan bersumer dari hati nan tamak, tidak bisa disebut banyak.

Maksud Syekh Ibnu Athaillah tersebut, kebaikan bukan dilihat dari banyak dan sedikitnya, tapi dilihat dari niatnya, keikhlasannya dan kesesuaiannya dengan aliran Nabi Muhammad SAW.

"Amalan nan berasal dari hati nan zuhud tidak dapat disebut sedikit. Amalan nan berasal dari hati nan serakah tidak dapat disebut banyak." (Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam)

Walaupun ibadah nan Anda lakukan itu sedikit, namun dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan jauh dari nilai-nilai kesyirikan. Maka pada hakikatnya Anda telah melakukan sesuatu nan besar dengan pahala nan besar juga.

Nilai sebuah ibadah adalah kualitasnya, bukan kuantitasnya. Berapa banyak orang nan beragama siang dan malam, namun tidak ada pahala nan didapatkan, lantaran semua itu dilakukan dengan tidak tulus dan jauh dari nilai-nilai ketuhanan.

Walaupun ibadah nan Anda lakukan itu banyak, namun tidak tulus dan mengandung nilai-nilai kesyirikan. Maka pahala nan Anda dapatkan adalah nol besar, sia-sia belaka.

Ibadah nan Anda lakukan untuk selain-Nya, maka Dia berlepas diri darinya. Ibadah itu sesuai niatnya. Jika niatnya untuk Allah SWT, maka Dia bakal membalasnya. Jika niatnya untuk bumi maka dia bakal mendapatkannya, dan tentunya atas seizin-Nya.

Banyaknya ibadah belum tentu menunjukkan banyaknya pahala. Sedikitnya ibadah belum tentu menunjukkan sedikitnya pahala. Timbangannya adalah keikhlasan dan kesesuaian dengan tuntutan Rasulullah SAW.

Hal ini dijelaskan Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam dengan penjelasan tambahan oleh Penyusun dan Penerjemah Al-Hikam, D A Pakih Sati Lc dalam kitab Kitab Al-Hikam dan Penjelasannya nan diterbitkan penerbit Noktah tahun 2017.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam