Amalan Imam Syafi’i Agar Bebas Dari Hisab Hari Kiamat!

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Berikut adalah ibadah Imam Syafi’i agar bebas dari hisab Hari Kiamat! Seperti nan kita ketahui, bahwa fase-fase setelah hariakhir semua manusia mengalami apa nan disebut dengan Yaumul Hisab, artinya hari kalkulasi kebaikan perbuatan manusia.

Terkait peristiwa tersebut Imam Syafi’i sebagai salah ustadz madzab nan masyhur lantaran karyanya mengenai aturan-aturan masalah yuridis dalam bagian norma Islam, pernah memberikan ibadah agar terbebas dari hisab di hari hariakhir kepada para muridnya. 

Beliau ini juga merupakan satu-satunya Imam nan mengenai dengan Nabi Muhammad (SAW) lantaran dia berasal dari suku Quraisy dari Bani Muthalib, nan merupakan kerabat dari suku Bani Hasyim suku Nabi Muhammad (SAW). Maka sudah tidak diragukan lagi segala keilmuan darinya. Lantas bagaimanakah amalan-amalan tersebut?

Sholawat Imam Syafi’i Agar Terhindar dari Hisab di Hari Kiamat

Imam  Al-Ghazali mengutip keistimewaan lafal Shalawat Nabi nan ditulis Imam As-Syafi’i pada karya ushul fiqihnya, Kitab Ar-Risalah. Al-Ghazali mengisahkan perjumpaan Abul Hasan dengan Rasulullah saw dalam mimpinya.

وروي عن أبي الحسن قال رأيت النبي صلى الله عليه و سلم في المنام فقلت يا رسول الله بم جوزي الشافعي عنك حيث يقول في كتابه الرسالة وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وغَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الغَافِلُوْنَ فقال صلى الله عليه و سلم جوزي عني أنه لا يوقف للحساب

Artinya, “Diriwayatkan dari Abul Hasan, dia bercerita, dia mimpi berjumpa Rasulullah saw, ‘Wahai Rasulullah, apa bingkisan besar untuk As-Syafi’i nan bershalawat dalam Kitab Ar-Risalah-nya, ‘Wa shallāllahu ‘alā Muhammadin kullamā dzakarahudz dzākirūna, wa ghafala ‘an dzikrihil ghāfilūna?’ ‘Hadiah besarku untuk As-Syafi’i bahwa dia tidak bakal dihentikan untuk hisab nanti,’’ (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz I, laman 391).

Shalawat Nabi nan ditulis oleh Imam As-Syafi’i dalam Kitab Ar-Risalah adalah sebagai berikut: 

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وغَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الغَافِلُوْنَ

Artinya, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya untuk Nabi Muhammad saw sebilangan orang nan mengingat-Nya dan sebilangan orang nan lalai mengingat-Nya.”

Kemudian mengenai tata langkah melafalkannya, sebenarnya ada banyak langkah untuk membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ada sebagian orang menggunakan lafal shalawat dan salam dengan fi’il madhi. Sebagian orang lainnya menggunakan fi’il amr. Sejauh tetap menggunakan lafal shalawat dan salam, maka itu diperbolehkan untuk para nabi dan rasul.

Dengan kata lain, kita boleh membaca shalawat dan salam untuk para nabi. Kita tidak diperbolehkan untuk membaca selain shalawat dan salam.

ولا يجوز الدعاء للنبي صلى الله عليه وسلم بغير الوارد كرحمه الله بل المناسب واللائق في حق الأنبياء الدعاء بالصلاة والسلام

Artinya, “Tidak boleh mendoakan Nabi Muhammad SAW dengan lafal nan tidak warid seperti lafal ‘Rahimahullāhu’. Tetapi lafal nan sesuai dan layak untuk para nabi dan rasul adalah lafal shalawat dan salam,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Darul Ihya Kutubil Arabiyyah], laman 4).

Dengan kata lain tidak ada ketentuan baku perihal shalawat dan salam untuk nabi lantaran pada prinsipnya shalawat dan salam adalah angan nan dimohon kepada Allah untuk Nabi Muhammad saw alias para nabi dan rasul nan lain.

Demikian ibadah Imam Syafi’i agar bebas dari Hisab Hari Kiamat! Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. [Baca juga: Ini Doa Shalat Taubat Nasuha dari Imam Al-Ghazali]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah