Pendaki gunung (ilustrasi).
Kincai Media, Gunung yang kokoh dan menjulang tinggi rupanya digambarkan Alquran enggan memikul amanah yang ditawarkan Allah SWT lantaran tidak siap dengan risikonya. Bukan lantaran gunung-gunung tidak mempunyai kekuatan, tetapi lantaran cemas tidak sanggup menunaikan tanggung jawab yang menyertainya. Namun, amanah tersebut justru diterima manusia, makhluk yang mempunyai potensi sekaligus kelemahan berupa ambisi dan syahwat.
Dikisahkan awalnya Allah SWT menawarkan petunjuk alias tugas keagamaan kepada bumi, langit dan gunung-gunung. Akan tetapi mereka tidak mau memikul petunjuk tersebut lantaran tidak siap menanggung risikonya. Kemudian, Allah SWT tawarkanlah petunjuk tersebut kepada manusia yang berpotensi dan mau menerimanya.
Maka Alquran telah memberikan dorongan kepada manusia untuk menunaikan amanah. Nabi Muhammad SAW menyampaikan kepada umatnya bahwa tunaikanlah amanah kepada orang yang meletakkan kepercayaan kepada Anda dan jangan berkhianat.
Hal ini dijelaskan dalam Surat Al-Ahzab Ayat 72 yang menjelaskan bahwa gunung-gunung yang kokoh pun cemas tidak sanggup menunaikan petunjuk dari Allah SWT, tapi manusia lantaran kebodohannya mau menanggung petunjuk tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
Innā ‘araḍnal-amānata ‘alas-samāwāti wal-arḍi fa abaina ay yaḥmilnahā wa asyfaqna minhā wa ḥamalahal-insān(u), innahū kāna ẓalūman jahūlā(n).
Sesungguhnya Kami telah menawarkan petunjuk kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul petunjuk itu dan mereka cemas tidak bakal melaksanakannya. Lalu, dipikullah petunjuk itu oleh manusia. Sesungguhnya dia (manusia) sangat kejam lagi sangat bodoh. (QS Al-Ahzab Ayat 72)
Penjelasan tafsir ayat tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah telah menawarkan tugas-tugas keagamaan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Karena ketiganya tidak mempunyai persiapan untuk menerima petunjuk yang berat itu, maka semuanya enggan untuk memikul petunjuk yang ditawarkan Allah SWT itu.
Kemudian petunjuk untuk melaksanakan tugas-tugas keagamaan itu ditawarkan kepada manusia dan mereka menerimanya dengan akibat peralatan siapa yang melaksanakan itu bakal diberi pahala dan dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya, peralatan siapa yang mengkhianatinya bakal disiksa dan dimasukkan ke dalam api neraka.
Walaupun corak badannya lebih mini dibandingkan dengan ketiga makhluk yang lain (langit, bumi, dan gunung-gunung), manusia berani menerima petunjuk tersebut lantaran manusia mempunyai potensi. Tetapi, lantaran pada diri manusia terdapat ambisi dan syahwat yang sering mengelabui mata dan menutup pandangan hatinya, Allah menyifatinya dengan banget kejam dan tolol lantaran kurang memikirkan akibat-akibat dari penerimaan petunjuk itu. (Tafsir Kementerian Agama)