Anak Bertanya; Di Mana Allah Berada?

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Kincaimedia– Tak bisa dipungkiri terkadang pertanyaan anak-anak ada nan mudah untuk kita jawab dan jelaskan secara memadai. Namun, ada juga pertanyaan nan kadang mengganggu kita. Atau, kita tidak siap menjawabnya lantaran ada kekhawatiran tertentu. Nah berikut tulisan tentang anak bertanya di mana Allah berada?

Pertanyaan nan demikian, biasanya berangkaian dengan masalah akidah. Di antara contoh perkataan mengenai iktikad misalnya tentang surga dan neraka, pahala dan dosa, alam kubur dan hari kiamat, hantu dan malaikat. Dan pertanyaan iktikad nan paling susah adalah tentang ketuhanan. Misalnya di mana Allah Swt berada? Apakah Dia mempunyai istri, anak dan lainnya?

Syahdan. Jika anak-anak bertanya di mana Tuhan? Hanya Allah sendiri nan Maha Mengetahui di mana diri-Nya berada. Allah tidak terikat dan terhukumi oleh ruang dan waktu. Di mana zat-Nya berdomisili tak seorang hamba pun nan dapat memastikannya. Sekali lagi, bahwa Tuhan nan Maha Esa itu ada dan tidak dibatasi oleh waktu alias dibatasi oleh ruang. Kenapa demikian? Karena Dialah Pencipta ruang dan waktu dan tidak memerlukan satu pun dari keduanya.

Bukankah dalam konsep Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, Allah Swt. tidak diserupai oleh seorang pun dari makhluk-Nya. Ini sebagaimana nan termaktub dalam surat al-Syura ayat 11, Allah Swt. berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 

Artinya: “Tidak ada sesuatupun nan serupa dengan Dia, dan Dia-lah nan Maha Mendengar dan Melihat”. (QS. Asy-Syura (42): 11).

Tak berakhir disini, sebagian para ajaran menyakini bahwa Allah Swt. berdomisili di atas Arasy. Dalam al-Qur’an dinyatakan, Allah Swt. berfirman:

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى. لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرٰى

Artinya: “(yaitu) nan Maha Pengasih, nan berdomisili di atas Arsy. Milik-Nyalah apa nan ada di langit, apa nan ada di Bumi, apa nan ada di antara keduanya, dan apa nan ada di bawah tanah.” (QS. Ta-Ha 20: 5-6).

Rasulullah Saw. juga pernah bersabda:

لما خلق الله الخلق كتب في كتابه، فهو عنده فوق العرش: إن رحمتي تغلب غضبي

Artinya: “Ketika Allah telah selesai menciptakan semua makhluk, Dia menulis dalam kitab-Nya nan berada di atas Arasy di sisi-Nya; bahwa rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku..” (HR Bukhari dan Muslim).

Dimana Allah Berada sebelum pembuatan tempat itu?

Yang jelas, kehadiran-Nya, nan Maha Kuasa, tidak memerlukan tempat. Karena nan memerlukan tempat keberadaannya adalah jasad (materi), dan Tuhan nan Maha Esa bukanlah jasad. Penglihatan itu tidak dapat melihat, dan segala sesuatu nan terlintas dalam pikiran kita tentunya berbeda dengan Tuhan. Ini sesuai dengan kata-kata Ibnu Abbas: “Pikirkan segalanya dan jangan memikirkan Tuhan.”

Siapa nan menciptakan Tuhan?

Bukan hanya dikalangan anak-anak, kadang apalagi merata pertanyaan ini muncul di akal sebagian orang nan sudah beriman, baik nan tua dan muda. Tentu saja, masalah beragama kepada Tuhan nan Maha Pencipta segala sesuatu artinya Dia nan Maha Esa dan tidak ada apa-apa dihadapan-Nya. Tuhan nan Maha Esa itu ada dengan sendirinya dan tidak memerlukan siapapun untuk menciptakan-Nya makhluk. Karenanya, maka tidaklah logis jika kita bertanya siapa nan menciptakan Dia.

Prof. Quraish Shihab pernah mengatakan, bahwa Allah bukan makhluk seperti halnya manusia, melainkan Allah adalah khaliq (Sang Pencipta) dan tidak ada pencipta-Nya. Sebab, jika diciptakan, maka dia berfaedah manusia.

Itu sebabnya, kata Quraish Shihab, Nabi pernah berpesan agar pertanyaan-pertanyaan tentang siapa pembuat kudu dihentikan andaikan sudah mengarah pada Allah Swt. Karena pertanyaan nan demikian itu sejatinya muncul lantaran ulah setan nan hendak menyesatkan manusia. Allah Swt. berfirman:

قَالَ فَبِمَاۤ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ. ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ

Artinya: “(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, pasti saya bakal selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu nan lurus. Kemudian pasti saya bakal mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak bakal mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf [7]: 16-17).

Namun, apa boleh buat jika anak mini nan bertanya, maka orang tua alias pembimbing kudu memberikan pemahaman nan bagus dan mudah dipahami, serta tidak menyesatkan. Dalam perihal ini, kita tidak bisa membatasi keluguan pikiran anak-anak. nan bisa kita lakukan adalah mengarahkan dan memberikan jawaban nan tepat. Ajarkanlah mereka anak-anak untuk selalu melihat, memikirkan dan merenungkan buatan Allah Swt. nan ada di bumi ini. 

Wallahu a’lam bisshawaab.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah