Anak Bertanya, Siapakah Iblis?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Di antara pertanyaan anak-anak nan sering kali diutarakan adalah siapakah iblis? Sering kali anak bertanya pada orang tua, paman, guru ngaji, ustadz, alias pembimbing kepercayaan di sekolah adalah “Siapakah iblis?”. Lantas gimana menjawabnya? Berikut kami hadirkan artikelnya. 

 Sudah mafhum, bahwa di dalam pemahaman umat manusia, khususnya kaum Muslimin, sering sekali salah dalam memahami dan mendeskripsikan Jin, Iblis, dan Setan. Bagaimana tidak. Mereka seringkali disebutkan dalam al-Qur’an, apalagi di kebanyakan umat Muslim sudah tidak asing lagi mendengarnya. Tak heran jika eksistensinya sebagai makhluk Allah Swt. Tidak diragukan lagi, berasas al-Qur’an dan as-Sunnah.

Al-Qur’an menggambarkan hantu sebagai makhluk buatan Allah nan terbuat dari api dan ditempatkan di alam ghaib. Sedangkan Iblis adalah makhluk Allah Swt. nan melakukan pembangkangan secara terang-terangan atas perintah Allah ketika dia diperintahkan bersujud kepada Nabi Adam As. Berbeda dengan setan. Ia adalah makhluk nan selalu memperdayakan manusia ke dalam kesesatan.

Syahdan. Umumnya, anak-anak mini nan baru belajar pengetahuan iktikad pasti bakal selalu bertanya siapa itu Jin, Iblis, dan Setan. Bagaimana tidak bertanya, ketiganya sama-sama tak kasat mata. Namun, pengalaman penulis, nan selalu ditanya anak mini adalah Iblis. Kenapa demikian? Karena Iblis sangat terkenal dengan membangkangnya bakal perintah Allah Swt., tak terkecuali dalam perihal perintah untuk bersujud kepada Nabi Adam As. Tak heran jika dia mendapatkan cap dan titel Laknatullah.

Atas dasar ini, layak jika Iblis berkuasa mendapat balasan dari Allah, lantaran dia tetap bersikeras bahwa Adam lebih rendah darinya, lantaran kesombongannya, lantaran dia menentang kebenaran nan telah jelas terlihat dan lantaran dia telah melanggar perintah nan diwajibkan atasnya.

Iblis menentang Allah secara sengaja sebagai corak pembangkangan dan kecongkakan dirinya. Semua itu dilakukan hanya lantaran argumen tabiat dan materi dasar penciptaanya dianggap lebih baik dari Adam. Sebagaimana dalam al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 50:

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْۤا اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ ۗ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ اَمْرِ رَبِّهٖ ۗ اَفَتَـتَّخِذُوْنَهٗ وَذُرِّيَّتَهٗۤ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِيْ وَهُمْ لَـكُمْ عَدُوٌّ ۗ بِئْسَ لِلظّٰلِمِيْنَ بَدَلًا

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah Anda kepada Adam!” Maka mereka pun sujud selain Iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah Anda menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah (Iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang nan zalim.” (QS. Al-Kahf [18]: 50).

Awal permusuhan

Jika anak mini bertanya, gimana awal perseteruan antara Iblis dan Nabi Adam As.? Maka jawabannya adalah, awal permusuhan antara Iblis dan Adam adalah ketika Iblis tidak mentaati perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Iblis merasa bahwa dirinya mempunyai kekuatan nan lebih besar dibandingkan Adam sehingga Iblis merasa sombong.

Hal ini sebenarnya bisa dimenangkan oleh Adam andaikan Adam bisa membentengi dirinya dengan berpegang teguh terhadap perjanjiannya dengan Allah Swt., bakal tetapi Iblis bakal menang andaikan Adam menyerah kepada syahwatnya serta tidak menunaikan perintah Allah. Sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 35:

وَقُلْنَا يٰۤـاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَـنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا ۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

Artinya: “Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) nan ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah Anda dekati pohon ini, kelak Anda termasuk orang-orang nan zalim!” (QS. Al-Baqarah [2]: 35).

Dalam surat di atas menjelaskan bahwasanya Allah memerintahkan Adam beserta istrinya untuk tinggal di surga dan menikmati semua akomodasi nan telah Allah sediakan untuk Adam dan istrinya, bakal tetapi Allah mengecualikan untuk mendekati salah satu pohon ialah pohon khuldi, lantaran andaikan dia mendekati pohon itu dan memakannya justru Allah bakal memasukan Adam kepada orang-orang nan zalim. Allah Swt. berfirman:

فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ وَلَـكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ

Artinya: “Lalu, setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian Anda menjadi musuh bagi nan lain. Dan bagi Anda ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu nan ditentukan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 36).

Permusuhan Iblis terhadap Adam tidak berakhir pada pembangkangan untuk bersujud kepada Adam saja, lantaran Adam diciptakan oleh Allah untuk menjadi Khalifah di bumi maka Iblis melancarkan banyak langkah agar Adam jatuh kepada tipu daya Iblis. Iblis dengan beragam langkah membujuk adam dan istrinya untuk menyantap buah khuldi sehingga tujuan Iblis untuk menggelincirkan Adam dan istrinya dari surga dapat tercapai.

Lalu apa hikmah dari kisah perseteruan Adam dan Iblis ?

Yang jelas, kisah perseteruan Adam dan Iblis merupakan kisah nan memberikan inspirasi dan pelajaran berbobot bagi umat manusia di era saat ini ataupun di masa nan bakal datang. Manusia dituntut untuk merenungi kisah-kisah nan disajikan oleh al-Qur’an sebagai pengantar hubungan terhadap kisah tersebut.

Pertama, menjauhi sifat angkuh. Sebagai seorang muslim nan betul-betul beragama dia tidak bakal bertindak sombong, utamanya terhadap teman, kerabat ataupun tetangga lantaran dia mengetahui bahwasanya Allah tidak menyukai orang-orang nan membanggakan diri, melangkah dengan arogan dan memalingkan muka dihadapan orang lain lantaran sombong. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 37:

وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًا ۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا

Artinya: “Dan janganlah engkau melangkah di bumi ini dengan sombong, lantaran sesungguhnya engkau tidak bakal dapat menembus bumi dan tidak bakal bisa menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’ [17]: 37).

Bahwa, seseorang nan sombong dan merasa dirinya lebih unggul dibandingkan orang lain maka perihal itu bakal menjadi penyakit dalam dirinya. Sombong adalah sifat nan diturunkan oleh setan nan kudu dijauhi oleh manusia lantaran bakal berakibat kepada dirinya nan bakal dijauhi oleh manusia nan lain, lantaran sejatinya manusia tidak bisa hidup sendiri. Banyak sekali contoh kasus seseorang nan mempunyai sifat sombong merasa lebih dari nan lain, merasa lebih kaya, lebih berkuasa, lebih besar pada akhirnya malah dikucilkan.

Kedua, pemaaf. Sikap pemaaf adalah sikap seorang kesatria nan andaikan disakiti selalu memberikan maaf tanpa membalas, tanpa ada rasa tidak suka dan sakit hati walaupun dia bisa membalasnya. Hal ini seperti nan dilakukan oleh Adam dan Hawa saat mereka di keluarkan dari surga, serta menyadari sepenuhnya atas kekhilafan nan telah mereka lakukan.

Sifat pemaaf adalah perihal nan kudu ada dalam diri manusia lantaran orang nan mempunyai sifat pemaaf bakal mendapatkan tempat tinggi di sisi Allah Swt. Sebagaimana Allah mengangkat derajat suatu kaum lantaran sifat pemaaf mereka. Diantara ayat al-Qur’an nan memerintahkan agar umat Islam mempunyai sifat pemaaf adalah pada surat Al-A’raf ayat 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Artinya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan nan makruf, serta jangan pedulikan orang-orang nan bodoh.” (QS. Al-A’raf [7]: 199).Demikian pulalah hendaknya seorang manusia kudu mempunyai sifat pemaaf andaikan dia telah disakiti, dihina dan dicaci maki lantaran karena demikian bakal memunculkan kepribadian baik.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah