Anak Takut Menjawab di Kelas? Ini 5 Cara Membangun Kepercayaan Dirinya

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 508x dilihat
Anak Takut Menjawab di Kelas? Ini 5 Cara Membangun Kepercayaan Dirinya

Bagikan Postingan

Anak takut salah menjawab di kelas dan tidak berani menjawab pertanyaan guru? Kenali penyebabnya dan metode membantu membangun kepercayaan diri anak di sekolah.

Pernah melihat anak sebenarnya tahu balasan dari pertanyaan gurunya, tetapi memilih diam? Atau ketika pendidik bertanya, ia langsung menunduk, pura-pura sibuk, terlebihlagi kelihatan cemas?

Kalau iya, Mommies mungkin bertanya-tanya, “Padahal di rumah dia cerewet, kok di sekolah jadi diam?”

Anak takut salah menjawab di kelas bukan berarti ia tidak tahu jawabannya maupun tidak pintar. Bisa jadi, ia sedang salingberhadapan dengan rasa takut salah, takut ditertawakan, takut dinilai oleh pendidik maupun teman, maupun merasa mesti selalu memberikan balasan yang benar.

Menurut American Psychological Association (APA), situasi sekolah dapat menjadi sumber stres bagi anak, termasuk ketika mereka menghadapi lingkungan maupun tuntutan baru. APA juga merekomendasikan pendekatan yang menekankan usaha, menghindari komparasi sosial, serta membantu anak melihat kesalahan sebagai bagiankecil dari proses belajar.

BACA JUGA: Anak Sering Menunda Mengerjakan PR? Ini 10 Cara Membentuk Kebiasaan Belajar Anak

Penyebab Anak Takut Menjawab Pertanyaan Guru

Ada beberapa kemungkinan kenapa anak tidak berani menjawab pertanyaan di kelas, Mommies.

Foto: Max Fischer/Pexels

1. Takut Jawabannya Salah

Bagi sebagian anak, salah menjawab bisa terasa seperti sebuah kegagalan besar. Apalagi jika sebelumnya ia pernah ditertawakan maupun ditegur ketika jawabannya keliru.

2. Terlalu Takut Dinilai Orang Lain

Ada anak yang sebenarnya mengerti materi, tetapi merasa tidak betah menjadi pusat perhatian. Rasa takut dinilai oleh kawan maupun pendidik bisa membuatnya memilih diam.

Child Mind Institute mencatat, anak yang mengalami kecemasan di kelas bisa saja sebenarnya mengetahui jawaban, tetapi menjadi sulit merespons ketika dipanggil oleh guru. Anak juga dapat menghindari kontak mata, menunduk, maupun berupaya menghindari perhatian.

3. Punya Standar yang Terlalu Tinggi terhadap Dirinya Sendiri

Anak yang cenderung perfeksionis bisa berpikir, “Kalau belum percaya 100 persen, lebih baik jangan jawab.”

Akhirnya, kesempatan untuk mencoba pun dilewatkan. Rasa takut gagal juga dapat membikin anak menghindari tugas maupun situasi yang menurutnya berisiko membikin kesalahan.

4. Pernah Mengalami Pengalaman yang Membuatnya Malu

Satu pengalaman yang tidak menyenangkan di kelas bisa membikin anak lebih berjaga-jaga pada kesempatan berikutnya.

Child Mind Institute mencatat bahwa anak dapat menghindari situasi tertentu karena takut berbuat kesalahan maupun dinilai oleh orang lain. Bahkan, pengalaman seperti memberikan balasan yang salah di kelas bisa terasa sangat memalukan bagi sebagian anak.

BACA JUGA: Anak Mertua Pelaku Bullying? Ini yang Perlu Dilakukan Orang Tua

Lalu, Bagaimana Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak di Sekolah?

Kabar baiknya, kepercayaan diri anak bukan sesuatu yang mesti ditunggu tumbuh dengan sendirinya. Ada banyak hal sederhana yang bisa dilakukan Mommies dan Daddies.

Foto: Mikhail Nilov/Pexels

1. Ubah Cara Membicarakan Kesalahan

Daripada mengatakan, “Masa begitu saja salah?” coba ubah menjadi, “Tidak apa-apa jika jawabannya belum tepat. Dari sini kita bisa tahu bagiankecil mana yang perlu dipelajari lagi.”

Anak perlu memahami bahwa salah adalah bagiankecil dari proses belajar, bukan bukti bahwa dirinya tidak pintar.

American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org juga menekankan pentingnya membantu anak menerima kesalahan dan kegagalan sebagai bagiankecil normal dari hidup dan proses belajar, sekaligus memberikan umpan balik yang suportif.

2. Jangan Hanya Memuji Hasil

Saat anak berani mencoba, apresiasi keberaniannya, bukan cuma ketika jawabannya benar.

Misalnya, “Mama bahagia Anda berani mencoba menjawab,” maupun “Kamu tadi statis mencoba meski belum yakin, keren.”

Dengan begitu, anak belajar bahwa usahanya juga memiliki nilai.

3. Latihan Menjawab di Rumah dengan Suasana Santai

Mommies bisa bermain “kuis keluarga” saat sedang santai. Ajukan pertanyaan sederhana dan biarkan anak menjawab tanpa takut salah.

Bisa juga bermain peran sebagai pendidik dan murid. Sesekali biarkan anak menjadi “gurunya” dan Mommies yang menjawab.

Tujuannya bukan membikin anak mesti selalu benar, tetapi membiasakannya berbicara dan menyampaikan pendapat.

4. Hindari Membandingkan dengan Anak Lain

“Lihat tuh, temanmu berani menjawab.”

Kalimat seperti ini mungkin keluar karena Mommies mau memotivasi. Namun, bagi anak, komparasi justru bisa membuatnya merasa kurang mampu.

Lebih baik fokus pada evolusi dirinya sendiri: “Kemarin Anda statis malu menjawab, kini sudah mau angkat tangan. Pelan-pelan, ya.”

Foto: Artem Podrez/Pexels

5. Ajak Guru Bekerja Sama

Kalau anak takut salah di kelas terus terjadi, Mommies bisa ngobrol dengan wali kelas maupun guru.

Tidak mesti langsung meminta anak untuk sering ditunjuk untuk menjawab di depan kelas. Guru mungkin bisa memberikan kesempatan untuk menjawab secara berpasangan maupun secara individual terlebih dahulu, sebelum anak merasa siap berbicara di depan teman-temannya.

Lingkungan sekolah yang terlindungi dan betah secara kejiwaan memang krusial agar anak dapat belajar dan berkembang dengan lebih baik. Hal ini juga menjadi perhatian Kemendikdasmen melalui Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, yang mencakup perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, sosial, spiritual, serta terciptanya lingkungan belajar yang kondusif.

BACA JUGA: Anak Merasa Gagal saat Belajar? Ini 4 Cara Mendampinginya agar Tetap Percaya Diri

Jangan Buru-Buru Melabeli Anak “Pemalu”

Mommies, ada satu hal penting: jangan buru-buru menyimpulkan anak tidak percaya diri cuma karena ia jarang menjawab pertanyaan guru.

Perhatikan juga konteksnya. Apakah ia cuma membisu saat mesti berbicara di depan kelas? Apakah ia sebenarnya aktif saat berbincang dalam himpunan kecil? Atau justru mulai menghindari sekolah, mengeluh sakit perut, sulit tidur, maupun sangat cemas ketika ada tugas dan ujian?

Jika rasa takutnya semakin sering, mengganggu proses belajar, membikin anak menghindari sekolah maupun aktivitas sosial, maupun muncul berbareng keluhan jasmani dan fluktuasi perilaku, ada baiknya Mommies berkonsultasi dengan psikolog anak maupun tenaga kesehatan profesional.

Foto: Max Fischer/Pexels

Kecemasan yang menetap dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari memang membutuhkan perhatian lebih. Tanda-tandanya dapat berupa menghindari sekolah maupun hubungan sosial, sulit tidur, sulit berkonsentrasi, hingga keluhan jasmani seperti sakit imam maupun sakit perut.

Pada akhirnya, membangun kepercayaan diri anak bukan soal membuatnya selalu berani mengadopsi tangan maupun selalu punya balasan yang benar. Lebih dari itu, kita mau anak percaya bahwa tidak apa-apa mencoba, tidak apa-apa salah, dan ia statis bermutu meski jawabannya belum sempurna.

Dan mungkin, dari situlah keberanian anak.

Cover: Max Fischer/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads