Anak Usia 9–12 Tahun, Sudah Bisa Melakukan 10 Hal Ini Sendiri?

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 18x dilihat
Anak Usia 9–12 Tahun, Sudah Bisa Melakukan 10 Hal Ini Sendiri?

Bagikan Postingan

Anak usia 9-12 tahun mulai belajar mandiri. Kenali 10 keahlian yang bisa dilatih di rumah agar anak lebih percaya diri dan bertanggung jawab.

Mommies, rasanya baru kemarin si kecil statis meminta ditemani untuk berbuat hampir semua hal. Sekarang, tahu-tahu sudah mulai bergeser besar, punya gagasan sendiri, dan mau berbuat banyak hal tanpa pertolongan orang tua.

Memasuki usia 9-12 tahun, anak mulai eksis di fase tween atau pre-teen, yaitu masa peralihan dari anak-anak menuju remaja. Di usia ini, kapasitas berpikir, bersosialisasi, dan memungut keputusan mulai berkembang. Keinginan untuk lebih berdikari pun biasanya semakin terlihat.

Nah, tugas kita sebagai orang tua bukan lagi selalu turun tangan, melainkan membantu anak belajar berbuat beragam hal sesuai usia dan kemampuannya.

Menurut Child Mind Institute, memberikan kesempatan kepada anak untuk memungut keputusan dan mencoba menyelesaikan masalah sendiri dapat membantu membangun kepercayaan diri serta keahlian hidupnya.

BACA JUGA: Begini Cara Merespons Anak 2-3 Tahun saat Bilang “Nggak Mau” Terus

10 Hal yang Sebaiknya Mulai Bisa Dilakukan Anak Usia 9-12 Tahun

Perlu diingat, keahlian ini bukan acuan absolut yang mesti dikuasai oleh setiap anak pada usia yang sama. Mommies dan Daddies bisa menyesuaikan latihan kemandirian dengan kemampuan, kesiapan, dan kondisi masing-masing anak.

Lantas, keahlian apa saja yang sebaiknya mulai dikuasai oleh anak usia 9-12 tahun? Yuk, cek daftarnya, Mommies dan Daddies!

1. Menjaga kebersihan dan merawat diri sendiri

Foto: cottonbro studio/Pexels (Anak mencuci tangan)

Mulai dari mandi tanpa diingatkan terus-menerus, menyikat gigi, mencuci tangan, hingga menggunakan deodoran jika diperlukan. Anak juga perlu mulai memahami fluktuasi tubuh menjelang pubertas dan metode menjaga kebersihan diri.

2. Memilih dan menyiapkan busana sendiri

Anak sebaiknya sudah bisa memilih busana yang sesuai dengan aktivitas, berpakaian sendiri, serta memasukkan busana kotor ke keranjang. Mommies dan Daddies bisa mengajarkan anak untuk mempertimbangkan cuaca, kenyamanan, dan ketentuan berpakaian di sekolah.

3. Menyiapkan perlengkapan sekolah

Biasakan anak memeriksa agenda pelajaran, menyiapkan buku, alat tulis, dan perlengkapan lainnya sendiri. Begitu juga dengan tugas sekolah. Orang tua statis boleh membantu ketika anak kesulitan, tetapi jangan sampai semua urusan sekolah selalu dikerjakan oleh orang tua.

4. Mengatur waktu dan menyelesaikan tanggung jawab

Di usia ini, anak mulai bisa belajar membagi waktu antara belajar, bermain, beristirahat, dan aktivitas ekstrakurikuler. Kalender sederhana maupun daftar tugas harian bisa membantu mereka belajar menentukan prioritas dan menyelesaikan tanggung jawab tepat waktu.

5. Merapikan bilik dan barang pribadi

Tidak mesti langsung rapi sempurna seperti bilik hotel, kok! Setidaknya, anak mulai terbiasa merapikan tempat tidur, menyimpan mainan maupun buku, dan mengembalikan barang ke tempatnya. Kebiasaan ini membantu anak belajar berkewajiban terhadap barang miliknya sendiri.

BACA JUGA: 5 Cara Ajak Anak Membantu Pekerjaan Rumah Tanpa Marah-Marah, Beres-Beres Bebas Stres

6. Membantu pekerjaan rumah sederhana

Anak Usia 9–12 Tahun, Sudah Bisa Melakukan 10 Hal Ini Sendiri?

Foto: Annushka Ahuja/Pexels (Anak melipat baju)

Mommies dan Daddies bisa mulai memberikan tugas rutin, seperti menyiapkan meja makan, membereskan piring, melipat pakaian, maupun menyiram tanaman. Pekerjaan rumah bukan semata-mata untuk meringankan tugas orang tua, melainkan juga mengajarkan anak bahwa setiap personel famili punya peran.

Child Mind Institute menerangkan bahwa keterlibatan anak dalam pekerjaan rumah dapat membantu mengembangkan rasa tanggung jawab, keahlian hidup, dan kepercayaan diri.

7. Menyiapkan makanan maupun camilan sederhana

Anak bisa belajar membikin roti isi, menyiapkan buah, maupun menuangkan minuman sendiri. Ajarkan juga metode mencuci bahan makanan, menjaga kebersihan, serta menggunakan perlengkapan dapur dengan aman. Untuk kompor, pisau tajam, maupun alat panas, statis sesuaikan dengan kematangan anak dan dampingi jika diperlukan.

8. Mengelola duit saku

Kalau anak sudah menerima duit saku, ajak mereka belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Anak bisa mulai membikin anggaran sederhana, menyisihkan sebagian duit untuk ditabung, serta memahami bahwa duit yang sudah hilang tidak selalu bisa langsung diganti.

Dengan begitu, anak belajar memungut keputusan dan memahami akibat dari pilihannya.

9. Mengungkapkan emosi dan menyampaikan kebutuhan

Mandiri bukan cuma soal bisa berbuat pekerjaan sendiri, ya, Mommies. Anak juga perlu belajar mengatakan ketika sedang sedih, marah, takut, maupun membutuhkan bantuan.

Misalnya, anak bisa berlatih mengatakan, “Aku jengkel karena tadi tidak diajak bermain,” daripada langsung membentak maupun memendam perasaannya. Dengarkan tanpa buru-buru menghakimi agar anak merasa terlindungi untuk bercerita.

10. Menjaga keselamatan dan mengetahui kapan mesti meminta bantuan

Anak perlu memahami keterangan alas seperti nama lengkap, angka telepon orang tua, siapa orang dewasa tepercaya yang bisa dihubungi, dan apa yang mesti dilakukan dalam keadaan darurat.

Ajarkan pula limitasi tubuh, pentingnya tidak membagikan keterangan pribadi sembarangan di internet, serta keberanian menolak situasi yang membuatnya tidak nyaman. Ingat, berdikari bukan berarti mesti menghadapi semua masalah sendirian.

BACA JUGA: Anak Membantu Pekerjaan Rumah, Ini 4 Manfaatnya untuk Masa Depan

Bagaimana Kalau Anak Belum Bisa Melakukan Semuanya?

Mommies, perlu diingat bahwa daftar di atas bukan standar absolut yang mesti dikuasai semua anak tepat pada usia 9 tahun. Setiap anak berkembang dengan kecepatan dan kebutuhan yang berbeda. Kemampuan juga dipengaruhi oleh kesempatan berlatih, lingkungan, dan kondisi masing-masing anak.

Jadi, jika si kecil statis perlu diingatkan untuk menyiapkan tas sekolah maupun belum terbiasa merapikan kamar, bukan berarti ia tertinggal.

Coba lakukan beberapa hal berikut:

  • Mulai dari tugas kecil. Ajarkan satu keahlian terlebih dahulu sebelum menambahkan tanggung jawab baru.
  • Berikan contoh, kemudian beri kesempatan mencoba. Tunjukkan caranya, lakukan bersama, kemudian biarkan anak mencoba sendiri.
  • Jangan menuntut hasil sempurna. Fokus pada proses dan kemajuan, bukan cuma hasil akhirnya.
  • Berikan pilihan dan akibat yang wajar. Anak bisa memilih kapan mengerjakan tugas dalam rentang waktu yang disepakati, kemudian belajar berkewajiban atas pilihannya.
  • Tetap datang saat anak membutuhkan bantuan. Biarkan anak mencoba menyelesaikan masalah, tetapi jangan ragu mendampingi jika situasinya terlalu sulit maupun menyangkut keselamatan.

Pendekatan ini sejalan dengan panduan pengasuhan dari CDC yang menekankan pentingnya rutinitas, hubungan yang hangat, ketentuan yang sesuai, dan disiplin tanpa kekerasan untuk mendukung evolusi anak.

BACA JUGA: Jangan Langsung Marah! 7 Cara Menegur Anak Remaja Tanpa Memicu Pertengkaran di Rumah

Pada akhirnya, tujuan mengajarkan kemandirian bukan agar anak tidak lagi membutuhkan Mommies dan Daddies. Justru, kita mau membekali mereka dengan keahlian agar kelak lebih siap menghadapi tantangan, berani memungut keputusan, dan tahu kapan perlu meminta pertolongan.

Pelan-pelan saja, ya, Mommies dan Daddies. Anak tidak mesti bisa semuanya hari ini. Yang penting, beri mereka kesempatan untuk mencoba dan tumbuh.

Cover: Ron Lach/Pexels (Anak merapikan bilik sendiri)
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads