Anda Seorang Pendatang? Perhatikan Adabnya Dalam Islam Agar Bisa Rukun Di Masyarakat

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, DEPOK -- Ada kalanya dalam hidup kita merantau untuk menuntut pengetahuan alias mencari rezeki di negeri orang. Bagaimana sebenarnya Islam mengajarkan tentang etika dan tata krama manusia sebagai pendatang atau tamu di negeri orang? Apakah kudu menyesuiakan dengan masyarakat setempat dan norma-norma apa saja nan kudu dipatuhi?

Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Ustadz Fathurrahman Kamal menjelaskan, pendatang hendaknya menyadari bahwa mereka sebagai duta terhormat pengetahuan pengetahuan dan penjaga gawang moralitas publik di tengah-tengah masyarakat. 

"Masyarakat tidak menilai mereka semata dari orasi dan narasi ilmiah nan hebat, tetapi dari sikap, tutur kata, serta prilaku nyata sehari-hari. Jangan runtuhkan kepercayaan (trust), terlebih membikin mereka cuek dengan organisasi terpelajar," ujar Ustadz Fathurrahman kepada Kincaimedia, Kamis (9/4/2024). 

Kedua, lanjut dia, kekerasan atas nama apapun bukanlah jalan baik dalam merespons persoalan sosial di tengah masyarakat nan majemuk. Kekecewaan masyarakat pada tataran tertentu dapat dipahami, namun tidak perlu mengekapresikannya dalam corak kekerasan terlebih jika berhimpitan dengan suasana penyelenggaraan ritual kepercayaan tertentu. 

"Mudaratnya lebih besar dari manfaatnya," ucap dia.

Dalam konteks era sosial media nan tak terbatas apapun saat ini, kata dia, tindakan semacam ini dapat dikapitalisasi oleh oknum dan kepentingan tertentu nan justeru berakibat buruk, dan bertentangan dengan Islam nan mengajarkan kedamaian, toleransi, dan keamanan bersama.

Karena itu, tambah dia, krusial bagi semua pihak untuk menghayati dan melaksanakan secara nyata etika dan etika kehidupan berbareng (ko-eksistensi) sebagai tetangga, pendatang, maupun penduduk masyarakat pada umumnya. 

Menurut Ustadz Fathurrahman, berikut beberapa etika dan tata krama manusia sebagai pendatang nan diajarkan dalam Islam:

1. Islam menjadikan sikap, tutur kata dan perilaku  memuliakan tetangga sebagai bukti nyata atas keimanan; tak semata klaim.

2. Tidak mengganggu tetangga, merusak ketertiban umum apalagi dengan hal-hal nan berkarakter kepentingan pribadi semisal gangguan suara, kegaduhan, membuang sampah sembarangan, sampai menutup akses jalan bersama. Ini termasuk bagian dari sumpah Nabi 'alaihissalam "Demi Allah, demi Allah, demi Allah tidaklah beragama mereka nan tetangganya tidak nyaman dari kebutukannya" (Bukhari dan Muslim);

3. Menjaga kehormatan tetangga, menutup aibnya, tidak mencari-cari kejelekan dan kesalahannya, menjaga kekayaan bendanya di saat kepergian tetangga, berempati serta membantunya jika diterpa musibah alias kesulitan, termasuk menjenguk nan sakit.

4. Menasihati tetangga dengan langkah nan makruf, bermusyawarah, serta menjunjung tinggi kearifan lokal dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

5. Berbagi kegembiraan dengan tetangga semisal memberi makanan, hadiah, dan seterusnya utk menguatkan rekatan emosi sosial dan kebersamaan.

6. Selebihnya bersabar atas segala akibat kehidupan bermasyarakat seperti sabda Nabi, di antara orang nan dicintai Allah adalah seseorang nan disakiti oleh tetangganya lampau dia bersabar atas penderitaan tersebut (HR Ahmad). 

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam