Andai Ini Salat Terakhirku

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Bagaimana jika salat nan bakal kita laksanakan setelah ini adalah salat terakhir kita sebagai makhluk nan bernyawa? Anggaplah kita tahu bahwa setelah salat ini nanti, malakul maut akan datang menjemput dan mencabut nyawa kita. Kita bakal berpisah dengan orang-orang tercinta dan bersiap untuk menghadap Allah Ta’ala, serta mempertanggungjawabkan segala kebaikan perbuatan selama hidup di dunia.

Ibadah nan merupakan ibadah pertama dihisab pada hari akhir itu rupanya menjadi persembahan terakhir kita kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا

“Sesungguhnya kebaikan nan pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari hariakhir adalah salat. Maka, jika salatnya baik, sungguh dia telah beruntung dan berhasil. Dan jika salatnya rusak, sungguh dia telah kandas dan rugi. Jika berkurang sedikit dari salat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Lihatlah apakah hamba-Ku mempunyai salat sunah.’ Maka, disempurnakanlah apa nan kurang dari salat wajibnya. Kemudian, begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi no. 413 dan An-Nasa’i no. 466 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sabda ini sahih.)

Barulah kita menyadari bahwa, di dalamnya terdapat waktu mustajabnya angan (ketika sujud). Di mana kita tetap dapat memohon pemaafan dari Allah Ta’ala atas segala dosa selama hidup. Salat di mana kita bertawakal diri kepada Allah Ta’ala, mengakui kebesaran-Nya tatkala mengucap takbiratulihram “Allahu Akbar”.

Kemudian, kita merenungi setiap kalimat dan kata di kala melantunkan surah Al-Fatihah, melakukan rukuk, iktidal, dan sujud dengan begitu tumakninahnya lantaran menyadari bahwa ibadah tersebut merupakan penutup ibadah kita selama hidup di dunia. Tentu, menangislah diri kita sejadi-jadinya berambisi kesempatan terakhir dalam ibadah kepada Allah Ta’ala tersebut. Terbayang dosa-dosa nan pernah dilakukan, rasa resah nan begitu tinggi, serta angan nan besar agar mendapat pembebasan dari Allah Ta’ala sebelum ajal menjemput.

Salat dan prioritas ibadah

Salat merupakan ibadah nan paling esensial dalam Islam. Ibadah salat merupakan sarana di mana seorang hamba berkomunikasi dengan Rabb-Nya. Renungkanlah bacaan-bacaan dalam salat mulai dari takbiratulihram hingga salam. Semua kalimat tersebut merupakan zikir pengagungan kepada Allah Ta’ala dan doa-doa agung nan dipanjatkan oleh seorang hamba kepada Rabbnya.

Bagaimana mungkin sepanjang melantunkan zikir dan angan kepada Allah, kita tidak bisa intens dan betul-betul memahami referensi nan kita ucapkan?

Padahal, sangat jelas bahwa dalam setiap ayat nan kita baca dalam surah Al-Fatihah, Allah Ta’ala menjawab lantunan kita tersebut. Karena pada setiap bacaan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Maka, Allah Ta’ala bakal berfirman,

حَمِدَنِي عَبْدِي

“Hamba-Ku memuji-Ku.”

Adapun dalam setiap bacaan,

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Allah Ta’ala pun menjawab,

أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي

“Hamba-Ku menyanjung-Ku.”

Begitu juga, dalam setiap bacaan,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Maka, Allah juga membalasnya dengan kalimat,

مَجَّدَنِي عَبْدِي

“Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” (HR. Muslim no. 395, Ahmad no. 7291, dan nan lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) 

Namun, kenyataannya, sebagian besar dari kita tetap belum memprioritaskan salat sebagai momen paling berbobot sepanjang kehidupan nan diberikan oleh Allah Ta’ala setiap waktu. Padahal, saat salatlah semestinya kita betul-betul mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah Ta’ala dengan bentuk nan prima, busana terbaik, dan pengetahuan nan mumpuni tentang salat.

Seseorang nan mempunyai bentuk nan prima tentu bakal dengan mudah melakukan rangkaian aktivitas salat dengan baik, tumakninah, dan kesesuaian dengan petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Begitu pula, busana terbaik disertai dengan wewangian terbaik pula sebagai tanda persiapan maksimum sebelum berjumpa dengan Allah Ta’ala dalam salat. Serta, pengetahuan nan mumpuni, dengannya seorang hamba dapat menyempurnakan ibadah salatnya sesuai dengan ketentuan sunah nan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ikhtiar memaksimalkan kekhusyukan

Ditegaskan pula bahwa salat menempati urutan prioritas untuk dipertanggungjawabkan seorang muslim dalam rukun Islam setelah syahadatain. Karena keislaman seseorang tidak bakal utuh tanpa melaksanakan salat sebagai tanggungjawab utamanya sebagai seorang muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada nan berkuasa disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan salat; menunaikan zakat; menunaikan haji (ke Baitullah); dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari no. 8; Muslim no. 16 dari Abdullah bin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma.)

Oleh karenanya, pahami dan sadarilah bahwa kedudukan salat adalah sungguh sangat agung dalam Islam. Persiapkan diri dengan semaksimal mungkin sebelum melaksanakan ibadah mulia ini, seperti:

Pertama: Memohon kemudahan untuk beragama kepada Allah Ta’ala;

Kedua: Membulatkan tekad dan azam untuk memprioritaskan salat dari segala urusan duniawi lainnya;

Ketiga: Senantiasa menambah pengetahuan tentang fikih salat agar wawasan terhadap ibadah mulia ini selalu bertambah dan dapat mendekati kesempurnaan dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan petunjuk sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;

Keempat: Mengatur pengingat 10 menit sebelum waktu salat dengan niat mendapatkan saf pertama di masjid (bagi kaum pria);

Kelima: Menjaga wudu agar selalu siap tatkala masuk waktu salat;

Keenam: Menyiapkan busana salat di tempat tertentu agar mudah mengenakannya alias senantiasa mengenakan busana nan tertutup aurat agar memudahkan diri melaksanakan salat secara tepat waktu;

Ketujuh: Senantiasa menyiapkan wewangian dan siwak agar terjaga dari aroma nan tidak sedap tatkala menghadap Allah Ta’ala;

Kedelapan: Memaksimalkan kekhusyukan setiap melaksanakan salat dan menganggap bahwa salat tersebut adalah ibadah terakhirnya;

Kesembilan: Memahami seluruh kata dan kalimat nan diucapkan dalam salat serta berupaya mentadaburinya;

Kesepuluh: Memutus setiap pikiran dan khayalan nan timbul saat sedang menunaikan ibadah salat.

Baca juga: Keringanan Syariat bagi Orang nan Sakit dalam Bersuci dan Salat

Menyadari kelemahan saat menunaikan salat

Banyak perihal nan dapat menggiring dan menjauhkan kita dari konsentrasi untuk dapat intens setiap kali melaksanakan salat. Di antaranya adalah kesadaran diri dan tembok diri dari setan.

Kadangkala, kita mengalami kurang konsentrasi saat melaksanakan salat. Terpikir hal-hal nan sejatinya tidak terpikirkan ketika sedang tidak salat. Bahkan, ayat-ayat nan dibacakan mungkin betul secara tajwid, tapi satu huruf pun kadang tak bisa direnungi makna dan maksudnya. Wal’iyadzubillah. Padahal, jelas ditegaskan bahwa dalam salat semestinya kita memahami apa nan kita baca. Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكٰرٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ

“Wahai orang nan beriman! Janganlah Anda mendekati salat ketika Anda dalam keadaan mabuk, sampai Anda sadar apa nan Anda ucapkan.” (QS. An-Nisa: 43)

Sering pula, kita diganggu oleh setan dengan beragam cara, mulai dari rasa was-was apakah wudu batal alias tidak, terbayang persoalan duniawi, apalagi referensi Al-Qur’an nan terganggu lantaran pikiran sedang kacau. Maka, segeralah memohon perlindungan kepada Allah dan tiup/meludahlah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali.

Renungkanlah riwayat berikut ini. Dari Abul ‘Ala’ bahwa ‘Utsman bin Abil ‘Ash mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan mengganggu salat dan bacaanku, dia menggodaku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda,

ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزِبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلاَثًا ». قَالَ فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّى.

“Itu adalah setan, dia disebut dengan Khinzib. Jika engkau merasa diganggu, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan tersebut. Kemudian ludahlah ke sebelah kirimu sebanyak tiga kali.” ‘Utsman kemudian melakukan seperti itu, lantas Allah mengusir setan itu darinya. (HR. Muslim no. 2203)

Nikmatnya salat khusyuk

Betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menikmati ibadah salatnya sampai-sampai Nabi berbicara bahwa salat merupakan bagian dari perkara kesenangan duniawinya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

حُبِّبَ إليَّ مِن الدُّنيا النساءُ والطِّيب، وجُعِلَتْ قُرَّةُ عيني في الصلاة

“Diberikan kepadaku dari perkara bumi adalah senang kepada wanita dan minyak wangi. Dan ketentramanku dijadikan ada pada salatku.” (HR. An-Nasa’i no. 3939)

Begitu pula, banyak riwayat nan menceritakan bahwa para sahabat dulu ketika di medan perang tertusuk panah tajam pada tubuhnya. Ia tidak rela untuk dicabut, selain saat sedang melaksanakan salat, saking khusyuknya. Mereka menyadari bahwa orang-orang nan istikamah dan khusuk dalam salatnya adalah mereka orang-orang beragama nan beruntung.

Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang nan beriman, (yaitu) orang-orang nan intens dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2)

Dari Abi Ayyub radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

“Apabila engkau mendirikan salat, maka salatlah seperti salatnya orang nan bakal berpisah.” (Hadis hasan. Dikeluarkan oleh Ahmad, 5: 412; Ibnu Majah no. 417; Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 1: 462; Al-Mizzi, 19: 347; dan Lihat Ash-Shahihah no. 401.)

Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah Ta’ala nan diberikan karunia kekhusyukan dalam salatnya. Menghadirkan emosi bahwa salat tersebut merupakan ibadah terakhir dalam hidup lantaran memang sejatinya tidak ada nan tahu kapan ajal menjemput. Bisa jadi setelah salat tersebut, itu betul-betul waktu ajal kita tiba. Maka, persembahkan kualitas ibadah terbaikmu pada setiap salat-salatmu. Wallahua’lam.

Baca juga: Salat: Bagian dari Zikir nan Paling Utama

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah