Antara Tauhid Dan Talbiyah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Di antara perkara nan sangat disayangkan dari sebagian kaum muslimin di masa sekarang adalah keterasingan mereka dengan tauhid nan benar. Banyak di antara kerabat semuslim kita nan mengaku beragama kepada Allah Ta’ala, namun tetap melakukan perbuatan-perbuatan nan mengandung kesyirikan, perbuatan-perbuatan nan bakal mengurangi alias apalagi melunturkan keagamaan seorang hamba kepada Allah Ta’ala.

Banyak di antara mereka nan tetap berjuntai kepada selain Allah Ta’ala, meminta kepada kuburan, hal-hal nan dikeramatkan, dan nan lain sebagainya. Banyak juga di antara mereka nan tetap menggantungkan nasibnya kepada ramalan serta mempunyai dugaan apes terhadap waktu tertentu. Tidak mengherankan juga, di antara mereka ada nan mendatangi ‘orang pintar’ untuk mencari kesembuhan alias melariskan dagangan nan mereka miliki.

Wahai saudaraku, sesungguhnya semua itu mencoreng makna keimanan, keislaman, dan ketauhidan seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Padahal, tauhid adalah perkara pertama dan terakhir nan didakwahkan oleh para Nabi. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berkuasa disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Bahkan, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal berceramah tiga belas tahun lamanya di Makkah hanya untuk menyeru manusia kepada jalan tauhid nan betul serta membujuk mereka untuk untuk menyembah Allah Ta’ala semata serta meninggalkan peribadatan kepada berhala.

Semua ini menunjukkan kepada kita bahwa tauhid semestinya menjadi prioritas seorang muslim. Tidaklah sempurna keagamaan dan keislaman mereka, selain andaikan tauhid mereka telah sesuai dengan apa nan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibadah haji dan bukti bahwa tauhid adalah prioritas

Mukmin nan jujur dengan keimanannya pastilah mempunyai angan untuk bisa melaksanakan haji ke baitullah. Berbagai langkah mereka tempuh untuk bisa menabung dan berangkat haji. Sayangnya sebagian dari mereka lupa alias tidak tahu bahwa prinsip dari ibadah haji nan sesungguhnya adalah mentauhidkan Allah Ta’ala.

Tidaklah ada satu rangkaian dalam penyelenggaraan ibadah haji, selain di dalamnya mengandung unsur tauhid. Tawaf nan kita lakukan, sa’i nan kita kerjakan, semuanya merupakan corak perwujudan tauhid kita kepada Allah Ta’ala.

Bahkan, kalimat talbiyah, kalimat pertama nan diucapkan oleh seorang muslim nan berhaji adalah salah satu kalimat tauhid nan paling utama. Kalimat tauhid nan Nabi ajarkan kepada umatnya untuk senantiasa dilantunkan setelah berihram sampai dengan penyelenggaraan lempar jamrah di tanggal sepuluh Zulhijah. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,

فَأَهَلَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّوْحِيدِ لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَأَهَلَّ النَّاسُ بِهَذَا الَّذِي يُهِلُّونَ بِهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا مِنْهُ وَلَزِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَلْبِيَتَهُ

“Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertalbiyah dengan kalimat tauhid, ‘Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulka la syarika laka.’ (Ya Allah, saya memenuhi seruan-Mu, saya memenuhi seruan-Mu, saya memenuhi seruan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, saya memenuhi seruan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kenikmatan, dan seluruh kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu). Dan orang-orang bertalbiyah dengan talbiyah nan mereka ucapan ini. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menolak sedikit pun dari perihal tersebut. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terus mengucapkan talbiyahnya.” (HR. Muslim no. 1218.)

Dengan kalimat tersebut, seorang muslim nan sedang berhaji melantunkan dan mengeraskannya hingga dia memandang langsung Ka’bah. Dengan kalimat tersebut, dia tawaf mengelilingninya. Dengan kalimat tersebut pula, dia bakal sa’i dan menyempurnakan ibadah hajinya hingga datang tanggal kesepuluh dan dia melaksanakan lempar jamrah.

Sebuah kalimat nan mengandung makna tauhid dan pengesaan Allah Ta’ala dalam setiap kebaikan ibadah nan kita lakukan. Karena dengan melantunkannya, dia mengakui bahwa Allahlah satu-satunya nan berkuasa memberikan nikmat dan pemberian. Tidak ada sekutu bagi-Nya  dalam perihal apa pun.

Tujuan utama dari kalimat tersebut andaikan diucapkan dengan penuh kejujuran dan keagamaan adalah ketauhidan nan sempurna. Orang nan melantunkannya dengan jujur dan penuh keyakinan, maka tidak bakal bermohon kepada selain Allah Ta’ala, tidak bakal meminta kepada selain-Nya, tidak bakal berjuntai selain kepada Allah Ta’ala, tidak menyembelih dan bernazar selain untuk Allah Ta’ala, serta tidak melakukan ibadah selain untuk-Nya. Inilah tujuan utama dari talbiyah nan diucapkan oleh seorang muslim serta tujuan utama dari ibadah haji nan didambakan dan diimpikan oleh setiap muslim. Allah Ta’ala berfirman mengenai perihal tersebut,

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ ، لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ، ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ،  ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ، حُنَفَاء لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاء فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka bakal datang kepadamu dengan melangkah kaki, dan mengendarai unta nan kurus nan datang dari segenap penjuru nan jauh. Supaya mereka menyaksikan beragam faedah bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari nan telah ditentukan atas rezeki nan Allah telah berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka, makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang nan sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran nan ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan tawaf sekeliling rumah nan tua itu (Baitullah). Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa nan terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi Anda semua hewan ternak, terkecuali nan diterangkan kepadamu keharamannya. Maka, jauhilah olehmu berhala-berhala nan najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. Dengan tulus kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka dia seolah-olah jatuh dari langit lampau disambar oleh burung, alias diterbangkan angin ke tempat nan jauh.” (QS. Al-Hajj: 27-31)

Baca juga: Makna Tauhid di Balik Kalimat Talbiyah Haji

Renungan tauhid bagi nan telah berhaji alias bakal berhaji

Wajib hukumnya bagi siapa pun nan melantunkan kalimat talbiyah dan kalimat tauhid ini untuk memahami dan mengetahui kandungan dan makna dari kalimat tersebut. Menghadirkan makna-makna tersebut di dalam hati dan merealisasikannya di kehidupan nyata. Dengan begitu, dia termasuk orang orang nan jujur dalam setiap kalimatnya, menjadi seorang muslim nan berpegang teguh dengan tauhid serta menjauhkan diri dari apa-apa nan dapat merusak dan mengotori kesuciannya.

Tatkala dia mengucapkan, “Labbaika la syarika laka.” (Aku memenuhi seruan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu), maka dia betul-betul menghindarkan diri dari kesyirikan kepada Allah Ta’ala, tidak berjuntai selain kepada Allah, serta tidak meminta apa pun dari kenikmatan ataupun meminta dihindarkan dari marabahaya, selain kepada-Nya. Tidak bermohon dan meminta kepada kuburan, wali, barang meninggal ataupun nan semisalnya.

Tatkala dia mengucapkan, “Innal hamda wan ni’mata laka wal mulka.” (Sesungguhnya segala puji, kenikmatan, dan seluruh kerajaan adalah milik-Mu), maka dia tidak bakal memuji dan menyanjung sesuatu melampaui sanjungannya kepada Allah Ta’ala, tidak mengkultuskan dan mensucikan seseorang melampaui penghormatannya kepada Allah Ta’ala. Tidak mengharapkan lancarnya rezeki alias terhindarkan dari marabahaya kepada selain Allah dan hanya menyandarkannya kepada Allah Ta’ala.

Itulah saudaraku, prinsip dari ibadah haji nan Allah syariatkan, bukan justru sebagai arena berbesar hati diri, bukan juga agar kita mendapatkan gelar “haji” dan seakan terlahir kembali sehingga menyombongkan diri. Allah mau agar setiap hamba nan melaksanakan haji alias telah mengetahui esensinya menjadi hamba-hamba Allah nan betul-betul bertauhid dan mengesakan-Nya, tidak beragama selain kepada-Nya, dan tidak berjuntai kepada selain-Nya.

Wallahu A’lam bisshawab.

Baca juga: Selepas Haji, Apa nan Harus Kita Lakukan?

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah