Badabida adalah lulur ketan hitam yang digunakan dalam tradisi perawatan calon pengantin perempuan Kaili di Sulawesi Tengah. Kini, warisan tersebut dikembangkan menjadi body scrub yang lebih praktis, sambil statis melibatkan petani lokal dan memanfaatkan balik sisa produksinya.
Jauh sebelum lulur datang dalam beragam bungkusan modern, perempuan Kaili di Sulawesi Tengah telah menggunakan ketan hitam sebagai bagiankecil dari perawatan menjelang pernikahan. Lulur tersebut dikenal sebagai badabida dan digunakan dalam tradisi nombungu, rangkaian perawatan tubuh dan wajah bagi calon pengantin.
Kini, badabida dikembangkan menjadi body scrub agar lebih praktis digunakan oleh konsumen. Namun, yang dibawa bukan cuma produk perawatannya. Di dalamnya ada ilmu perempuan yang diwariskan dalam keluarga, bahan baku dari petani lokal, serta penggunaan sisa produksi yang statis berguna. Yuk, simak di artikel bawah ini, ya!
Baca juga: Gimana Cara Menjaga Kulit dari Abu Vulkanik? Ini Tips dari Expert!
Badabida, lulur yang dimulai dari tradisi Nombungu

Dalam tradisi nombungu, calon pengantin menjalani rangkaian perawatan tubuh dan wajah menggunakan bahan-bahan alami. Salah satunya adalah ketan hitam yang diolah menjadi lulur maupun masker. “Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi durasi perempuan Kaili,” ujar Nelam Ayu Kusuma, pendiri Nelamayu Tradisional di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Dahulu, badabida dibuat dalam bentuk bedak maupun masker sederhana. Nelam kemudian mengembangkannya menjadi body scrub agar lebih gampang digunakan saat ini. Bagi Nelam, badabida tidak mau cuma dikenal sebagai produk perawatan berbahan alami, tetapi juga membawa cerita tentang perempuan Kaili dan ilmu yang diwariskan di dalam keluarga.
Dari resep famili ke produk yang lebih modern

Pengetahuan tentang perawatan tradisional juga didapat Nelam dari neneknya melalui bada kumba, bedak dingin berbahan beras dan rempah. Sang buyut merupakan suster herbal di kampung pada masa pendudukan Jepang. Ketika obat-obatan sulit diperoleh, ia meracik bedak dari beras, daun basakaling maupun kodombuku, kunyit kayu, kencur, dan sejumlah rempah lainnya untuk digunakan secara turun-temurun dalam keluarga.
Nelam kemudian mempelajari balik bahan dan proses pembuatannya agar ilmu tersebut tidak selesai pada generasinya. Cerita famili itu menjadi alas berdirinya Nelamayu Tradisional pada 2018. Awalnya, produk Nelam banyak digunakan oleh calon pengantin yang statis mengenal tradisi nombungu. Seiring waktu, produknya mulai menjangkau konsumen yang tertarik pada perawatan tubuh berbahan alami dan tradisi kecantikan dari beragam daerah di Indonesia.
Baca juga: Seharian Kena Polusi? 4 Micellar Water Lokal Ini Bisa Jadi First Cleanser Andalan!
Ketan hitamnya dari petani lokal, sisanya nggak langsung dibuang!

Membawa resep famili ke pasar yang lebih luas tidak cukup cuma dengan membikin bungkusan baru. Nelam juga perlu memahami kebersihan dan keamanan produk, pengelompokan yang tepat, perizinan, serta batas klaim khasiat yang dapat digunakan. Perkembangan krusial terjadi ketika Nelamayu Tradisional mengikuti program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari pada 2023. Selama enam bulan, Nelam mendapat pendampingan dalam pengembangan produk, penguatan usaha, pengurusan perizinan, pemasaran, dan akses pasar.
Ketan hitam yang digunakan untuk membikin badabida diperoleh dari petani di Dolo Barat, Kabupaten Sigi. Dalam satu kali pembelian, Nelam dapat menyerap hingga 25 kilogram ketan hitam. Proses produksinya juga berupaya mengurangi bahan yang terbuang. Dedak hasil penggilingan beras dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun disalurkan balik kepada petani, sedangkan abu dari proses sangrai digunakan sebagai abu gesek rumah tangga. Praktik ini mencerminkan ekonomi sirkular berbasis rumah tangga.
Dari tradisi lama, lahirlah cerita baru

Menurut Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi Lestari, pendampingan yang dilakukan berfokus pada hilirisasi berbasis alam. Tujuannya agar produk seperti Nelamayu Tradisional dapat tumbuh secara ekonomi tanpa kehilangan harga adat dan lingkungan. Praktik penggunaan sumber daya secara bijak dan keterlibatan penduduk lokal tersebut juga menjadi bentuk nyata ekonomi restoratif.
Sebagai asosiasi pemerintah kabupaten, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) memiliki visi mewujudkan kemandirian kabupaten melalui model ekonomi restoratif. LTKL mendukung proses yang dijalankan Gampiri sebagai bagiankecil dari upaya kolektif menguatkan ekosistem ekonomi lokal, membangun resiliensi, dan mendorong terwujudnya visi kabupaten lestari di masa depan.
Bagi Nelam, membawa badabida ke pasar yang lebih luas bukan berarti mengubahnya menjadi sekadar produk kecantikan. Dari resep yang dahulu diwariskan seorang buyut di dalam keluarga, badabida dan bada kumba kini menemukan jalan menuju generasi baru, sambil statis membawa cerita tentang perempuan Kaili, tradisi, kesehatan, dan alam.
image: dok. Brand