Apa Itu Phobia Ketinggian? Kenali Gejala Dan Cara Mengatasinya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

phobia ketinggian—Pernahkah Grameds merasa kaki sedikit geli ketika memandang ke arah bawah di tempat nan tinggi? Rasa geli pada kaki nan Grameds rasakan mungkin menjadi pertanda bahwa Grameds takut lantaran sedang berada di tempat nan tinggi.

Namun, apakah rasa takut ketika berada di tempat tinggi selalu bisa dikategorikan menjadi phobia ketinggian? Tentunya tidak, lantaran phobia merujuk pada rasa takut nan cukup intens apalagi menyebabkan rasa resah dan panik berlebihan.

Salah satu tanda dari phobia ketinggian adalah Grameds merasa resah alias apalagi panik ketika sedang berada di tempat tinggi, resah dan panik ini bisa berupa munculnya sesak napas dan indikasi lain.

Apabila gejala-gejala terhadap phobia ketinggian alias acrophobia muncul pada Grameds, lebih baik masalah ketakutan ini segera diatasi. Tetapi, pastikan bahwa Grameds tidak melakukan self diagnosed ya!

Agar dapat mengenal lebih jauh, simak pengertian tentang phobia ketinggian dan mengenal gejala-gejalanya dalam tulisan berikut ini.

Apa Itu Phobia Ketinggian?

(Sumber foto: www.pexels.com)

Sebenarnya, emosi takut ketika sedang berada di tempat nan tinggi bukanlah suatu perihal nan asing alias apalagi tidak wajar. Perasaan takut tersebut adalah suatu perihal nan wajar, andaikan tidak berlebihan.

Contohnya ketika Grameds bakal menguji adrenalin dengan bermain bungee jumping, sebelum melompat Grameds mungkin bakal merasa gugup alias apalagi pusing terutama ketika memandang ke arah bawah.

Hal ini adalah rasa takut nan wajar, karena ketakutan tersebut tidak menyebabkan munculnya kepanikan alias apalagi mendorong Grameds untuk mengelak dari tempat tinggi.

Rasa takut nan wajar dialami oleh sebagian orang bisa jadi meningkat dalam skala nan ekstrem untuk seseorang nan mengalami phobia ketinggian alias disebut pula sebagai acrophobia. Seseorang nan menderita fobia ketinggian bakal berpikir bahwa menyebrangi jembatan tinggi alias apalagi hanya memandang foto gunung saja membikin rasa kepanikan tersebut muncul.

Perasaan takut dan panik nan muncul pun tidak biasa, biasanya emosi takut dan gugup ini muncul cukup kuat, sehingga dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari dan menganggu. Menurut laman hellosehat.com, fobia bakal ketinggian sebenarnya adalah salah satu fobia nan paling umum dibandingkan jenis fobia lainnya. Munculnya rasa takut bakal ketinggian ini adalah reaksi alami tubuh.

Ketika merasa takut, tubuh bakal membikin reaksi alami sebagai reaksi pertahanan tubuh pada ancaman seperti melompat dari tebing dan lainnya. Tetapi perihal ini bakal menjadi masalah, andaikan hatikecil rasa takut berubah menjadi paranoia nan abnormal.

Namun, rasa ketakutan berlebihan seperti phobia juga bisa menjadi perihal nan menguntungkan serta merugikan. Menguntungkan andaikan rasa phobia menghalangi seseorang melakukan perihal berbahaya. Kendati demikian, phobia bakal ketinggian tentu dapat merugikan lantaran bakal muncul rasa resah berlebihan nan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Rasa takut bisa dikendalikan dengan beragam macam cara, baik itu dengan langkah psikologis melalui rangkaian proses terapi alias dengan langkah renungan melalui membaca doa-doa.

Dengan membaca doa, maka Grameds bisa mendapatkan ketenangan jiwa dan senantiasa rasa takut itu pun bakal hilang. Tetapi gimana caranya? Apakah ada angan unik nan kudu dibaca?

Dalam kitab Doa & Inspirasi Mengatasi Rasa Takut Grameds bakal mendapatkan langkah menenangkan diri dari rasa takut. Buku ini ditulis berasas pengalaman dari penulis nan menjumpai beberapa orang nan sedang dalam kekalutan dan rasa takut.

Doa & Inspirasi Mengatasai Rasa Takut

Munculnya fobia ketinggian nan dialami oleh seseorang tentu bukan tanpa sebab, menurut beberapa penelitian rasa takut bakal ketinggian adalah perihal nan normal tak hanya untuk manusia, tetapi juga hewan.

Seseorang nan mengalami fobia ketinggian kemungkinan mempunyai beberapa pengalaman jelek mengenai ketinggian, contohnya seperti jatuh dari tempat tinggi, memandang orang jatuh dari tempat tinggi dan mengalami kepanikan di tempat tinggi.

Selain disebabkan lantaran pengalaman buruk, fobia ketinggian juga bisa muncul lantaran adanya pengaruh dari aspek genetik serta lingkungan. Artinya, fobia ketinggian ini bisa diturunkan dari personil keluarga.

Fobia ini apalagi pernah diteliti oleh seorang psikolog terkenal berjulukan Eleanor J Gibson dan Richard D Walk di tahun 1960-an dengan melakukan penelitian The Visual Cliff. Eksperimen bakal fobia ketinggian tersebut dilakukan pada bayi manusia nan sudah merangkak berbareng dengan bayi dari beragam macam jenis lainnya selain manusia.

Dari penelitian tersebut, kedua psikolog tersebut mendapatkan hasil bahwa semua bayi dalam penelitian tersebut menolak untuk melintas di atas panel kaca tebal nan menutupi sekitar drop off nan terlihat tajam.

Rasa enggan ini juga tidak dapat mereda alias diselesaikan oleh bayi-bayi tersebut, meskipun ibu dari bayi sebagai subjek penelitian telah memanggil dan meyakinkan bahwa jembatan tersebut aman.

Hasil penelitian nan diterbitkan di tahun 2015 melalui Journal of The History of Psychology membikin para mahir yakin, bahwa acrophobia alias phobia ketinggian telah mendarah daging.

Walaupun begitu, sebagian besar anak-anak dan orang dewasa condong berhati-hati dan tidak terlalu takut terhadap ketinggian. Acrophobia, seperti halnya semua jenis fobia, merupakan respons berlebihan terhadap ketakutan nan normal.

Waspadai Gejala Phobia Ketinggian

Beberapa orang nan tidak mengetahui phobia ketinggian mungkin menganggap  reaksi seseorang bakal ketinggian sebagai sikap lebay, tetapi rasa takut nan diakibatkan oleh phobia ini muncul secara tidak wajar.

Oleh lantaran itu, seseorang nan merasa resah ketika memandang tempat tinggi alias apalagi hanya memandang melalui foto perlu mewaspadai gejala-gejala nan muncul dari phobia ketinggian. Dikutip dari laman orami.co.id, berikut beberapa gejalanya:

  • Gejala Emosional

Penderita phobia ketinggian alias acrophobia mungkin bakal merasa kepanikan ketika sedang berada di tempat nan tinggi. Para penderita acrophobia secara naluriah bakal mulai mencari suatu barang nan dapat dipegang dan kemudian merasa tidak percaya bakal keseimbangan tubuhnya.

Reaksi umum nan kemudian bakal muncul pada penderita phobia ketinggian adalah menyingkir dari tempat tinggi tersebut dengan langkah merangkak, bertimpuh alias apalagi sedikit menurunkan tubuh.

  • Gejala Fisik

Gejala bentuk nan bakal muncul ketika penderita phobia ketinggian merasa ketakutan adalah badan nan mulai berkeringat disertai dengan gemetaran pada tubuh dan jantung nan berdebar kencang.

Beberapa apalagi bakal menangis alias berteriak lantaran merasa sangat takut. Pada kasus tertentu, indikasi vertigo pun dapat muncul, meskipun sebelumnya penderita phobia ketinggian tidak menderita penyakit vertigo. Gejala lainnya adalah penderita bakal merasa sangat ketakutan, susah untuk bergerak serta tidak bisa berpikir dengan jernih.

  • Gejala Kecemasan serta Menghindar

Apabila seseorang mengalami phobia ketinggian, mungkin penderita bakal merasa takut ketika berada dalam situasi nan mengharuskan mereka berada di tempat nan tinggi dan kudu menghabiskan waktu di sana.

Sebagai contoh, penderita phobia ketinggian bisa merasa resah bahwa liburan nan bakal datang bakal membikin mereka menginap di bilik hotel nan berada di lantai paling tinggi alias atas.

Penderita dari acrophobia juga mungkin merasa kudu menunda proyek pembaharuan rumah lantaran takut andaikan kudu menggunakan tangga. Tak hanya itu, mereka mungkin tidak mau berjamu ke rumah kawan alias kerabat nan mempunyai anjungan alias jendela di tingkat atas.

Seseorang bisa menderita beberapa macam phobia secara sekaligus dan tidak hanya satu jenis saja. Kondisi phobia semacam ini tentunya perlu melalui proses pemeriksaan akurat, sehingga dapat ditangani lebih lanjut sesuai prosedur.

Lalu, apa saja metode pengobatan nan bisa dilakukan untuk menyembuhkan phobia? Bagaimana indikasi nan perlu diwaspadai? Simak lebih lanjut dalam kitab Wiki Fobia : Gejala, Penyebab, Dan Cara Mengatasinya.

Wiki Fobia

Cara Mengatasi Phobia Ketinggian alias Acrophobia

Apabila Grameds merasakan beberapa indikasi dari phobia, sebaiknya Grameds segera menemui master untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Selain itu, sebaiknya Grameds tidak melakukan self diagnose.

Segala jenis phobia nan spesifik seperti phobia ketinggian hanya dapat didiagnosis oleh ahli dalam bagian kesehatan mental. Untuk mendapatkan diagnosis, Grameds bisa mengunjungi psikiater alias psikolog.

Psikolog alias psikiater kemudian bakal membantu untuk dapat memastikan pemeriksaan phobia nan Grameds alami. Kemungkinan pemeriksaan bakal dimulai ketika penderita menjelaskan apa nan terjadi ketika berada di ketinggian alias memandang tempat tinggi.

Pastikan pula bahwa Grameds menjelaskan gejala-gejala nan dialami. Contohnya ketika berada di ketinggian muncul keringat dingin, gugup berlebihan alias jantung terasa berdegup dengan sangat kencang.

Agar memudahkan diagnosis, Grameds bisa menjelaskan indikasi dan emosi nan dialami ketika menghadapi ketinggian dengan perincian tanpa menutup-nutupi, sehingga psikolog pun dapat membantu Grameds dengan segera.

Setelah hasil pemeriksaan oleh psikolog alias psikiater didapatkan, ada beberapa pengobatan nan bakal dijalani oleh penderita phobia ketinggian untuk mengatasi rasa takut berlebihan tersebut, berikut beberapa caranya:

  • Melakukan Psikoterapi

Melakukan terapi perilaku secara kognitif merupakan pengobatan utama untuk mengatasi phobia spesifik seperti phobia ketinggian alias acrophobia.

Terapi perilaku ini dilakukan dengan langkah membikin penderita phobia menghadapi situasi alias hal-hal nan ditakuti, baik itu dengan langkah berjenjang alias desensitisasi sistematis alias dengan langkah cepat.

Selain itu, penderita phobia ketinggian juga bakal diajari langkah untuk menghentikan reaksi panik serta mendapatkan kendali emosi ketika rasa takut bakal ketinggian tersebut muncul.

  • Terapi Pemaparan dengan Menggunakan Virtual Reality

Selain melakukan psikoterapi, salah satu langkah mengatasi phobia ketinggian adalah dengan melakukan terapi pemaparan dengan menggunakan virtual reality.

Akan tetapi, menurut sebuah studi di tahun 2017 nan diterbitkan dalam jurnal berjudul Current Psychiatry Reports, menunjukan bahwa media virtual reality (VR) mempunyai tingkat keefektifan nan sama.

Keuntungan dari melakukan perawatan ini adalah dapat menghemat biaya serta waktu, dikarenakan terapi menggunakan VR tidak memerlukan pendamping terapis nan kudu ada di lokasi.

Meskipun begitu, metode terapi menggunakan VR belum umum dipilih dikarenakan peralatan VR cukup mahal. Namun, seiring dengan perkembangan waktu, biaya peralatan pun turun dan kemungkinan bakal lebih mudah diakses.

  • Mengonsumsi Obat-obatan

Kadang-kadang, mengonsumsi obat penenang alias beta-blocker dapat digunakan sebagai salah satu pengganti support sementara dalam situasi-situasi tertentu.

Penggunaan obat dapat membantu, terutama untuk mengurangi rasa panik dan kekhawatiran nan dirasakan, penggunaan obat-obatan tersebut dalam kombinasi dengan terapi perilaku kognitif dapat meningkatkan hasil nan diinginkan.

Akan tetapi, penelitian lebih lanjut mengenai dosis obat-obatan untuk meringankan rasa resah ketika menghadapi fobia serta lama waktu konsumsinya tetap diperlukan.

  • Relaksasi 

Selain terapi dan lainnya, penderita dari phobia spesifik seperti phobia bakal ketinggian juga dapat melakukan yoga, teknik pernapasan dalam, melakukan meditasi alias relaksasi otot.

Melakukan meditasi dan relaksasi otot secara progresif bakal membantu mengatasi stres serta kekhawatiran nan diakibatkan oleh rasa takut berlebihan lantaran phobia ketinggian.

Tak hanya itu saja, melaksanakan olahraga secara rutin pun juga krusial untuk dapat merangsang pelepasan hormon senang alias disebut pula sebagai endorfin.

  • Melakukan Pemulihan Secara Mandiri

Phobia bakal ketinggian dapat diatasi dengan melakukan pemulihan secara mandiri, maka artinya penderita kudu betul-betul mencoba sendiri beragam macam langkah untuk mengurangi rasa takut.

Akan tetapi, solusi untuk mengatasi phobia spesifik seperti acrophobia dengan langkah berdikari jarang berhasil. Namun dengan mencoba melakukan pemulihan mandiri, maka penderita bakal mempunyai rasa tanggung jawab atas kondisi kesehatannya.

  • Menjalani Terapi Pemaparan

Apabila Grameds menduga diri Grameds mengalami phobia ketinggian alias rasa takut berlebihan pada objek, situasi tertentu, maka segera mencari master untuk mendapatkan mahir terapi nan tepat.

Penderita phobia juga bakal disarankan untuk melaksanakan terapi pemaparan dikarenakan terapi ini adalah salah satu jenis terapi nan cukup efektif untuk menangani phobia ketinggian.

Terapi pemaparan merupakan corak terapi kognitif nan bakal melibatkan diri dalam skenario untuk menghadapi phobia.

Biasanya, ada lima langkah nan kudu dijalani oleh penderita phobia untuk dapat mengatasi rasa takut berlebihan ini. Lima langkah tersebut adalah sebagai berikut:

  • Evaluasi: penderita bakal diminta untuk mendeskripsikan ketakutan nan dialami di masa lampau nan berasosiasi dengan phobia bakal ketinggian.
  • Tanggapan: terapis bakal memberikan penawaran pertimbangan terhadap phobia nan dialami oleh penderita serta memberikan usulan terhadap perencanaan pengobatan.
  • Mengembangkan tingkat ketakutan nan dirasakan oleh penderita: penderita serta terapis bakal membikin daftar skenario nan melibatkan ketakutan nan dialami, skenario bakal dibuat lebih intens dari nan terakhir.
  • Eksposur: Grameds bakal diminta untuk mulai membuka diri terhadap setiap skenario dalam daftar tersebut, dimulai dari situasi nan paling tidak menakutkan. Grameds bakal mulai menyadari bahwa kepanikan berkurang dalam waktu beberapa menit saat Grameds menghadapi ketakutan.
  • Tahap lanjutan: ketika telah merasa nyaman pada setiap tahapan skenario nan dibuat, maka penderita bakal diminta beranjak pada skenario dengan situasi nan lebih sulit.

Manusia memang wajar mengalami rasa takut, tak hanya phobia rasa takut umum seperti takut kandas ketika menghadapi ujian alias rasa takut menghadapi masa depan nyaris dirasakan oleh setiap orang.

Rasa takut ini bisa mengganggu dan membikin seseorang merasa terancam. Tentu bakal lebih nyaman jika manusia tidak merasakan ancaman lantaran rasa takut. Tetapi gimana langkah menghadapi dan mengatasinya?

Seperti dalam kitab Hidup Tanpa Rasa Takut Grameds bakal mendapatkan motivasi dan pengarahan untuk menghadapi rasa takut serta mengambil makna dari setiap ketakutan nan dirasakan.

Hidup Tanpa Rasa Takut

Sebagai #SahabatTanpaBatas bakal selalu menyediakan segala jenis kitab untuk Grameds termasuk buku-buku psikologis untuk menghadapi phobia, ketakutan alias apalagi penyakit mental lainnya. Jadi segera beli bukunya hanya di gramedia.com! Membaca banyak kitab dan tulisan tidak bakal pernah merugikan kalian, lantaran Grameds bakal mendapatkan info dan pengetahuan #LebihDenganMembaca.

Penulis: Khansa

Sumber: 

https://www.orami.co.id/magazine/acrophobia#gejala-acrophobia

https://hellosehat.com/mental/gangguan-kecemasan/phobia-ketinggian/

https://www.alodokter.com/inilah-cara-mengatasi-phobia-ketinggian#:~:text=Fobia%20ketinggian%20atau%20akrofobia%20merupakan,fobia%20ketinggian%20sebenarnya%20dapat%20diatasi.

Baca juga:

ePerpus adalah jasa perpustakaan digital masa sekarang nan mengusung konsep B2B. Kami datang untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan kitab dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk memandang laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Ratih

Menekuni bumi SEO writing selama 6 tahun dengan minat terhadap bumi parenting, kuliner, dan style hidup. Berlatarbelakang pendidikan Ilmu Komunikasi, saya mendapatkan insight mengenai beragam jenis penulisan serta diperkaya dengan teknik SEO agar bisa mengembangkan tulisan ke arah digital.

Selengkapnya
Sumber Gramedia Official Blog
Gramedia Official Blog