Jakarta -
Tes Deoxyribonucleic Acid (DNA) sering dianggap sebagai langkah paling pasti untuk mengetahui identitas seseorang. Dari sini, kita bisa tahu asal-usul dan hubungan kita dengan orang tua maupun keluarga.
Namun ternyata, ada kasus yang menunjukkan jika DNA tidak selalu memberikan jawaban yang jelas. Buku berjudul Hidden Guests: Migrating Cells and How the New Science of Microchimerism Is Redefining Human Identity karya Lise Barnéoud menjelaskan mengenai perihal ini.
Dilansir dari laman Live Science, salah satunya dialami oleh seorang Bunda berjulukan Lydia Fairchild. Saat mengurus tunjangan untuk membesarkan kedua anaknya seorang diri, dia diminta untuk menjalani tes DNA.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa minggu kemudian, pihak jasa sosial menuduhnya bukan ibu dari anak-anaknya. Padahal dia jelas sudah melahirkan mereka, dan family serta dokternya membenarkan perihal itu.
DNA anak tidak sesuai, apa yang terjadi?
Awalnya, Lydia Fairchild dicurigai mendusta tentang anak-anaknya. Pihak berkuasa lampau melakukan pemeriksaan dan segera memastikan bahwa memang ada dua anak yang tinggal bersamanya.
Setelah tiga kali melakukan sidang, Fairchild merasa resah dan takut kehilangan anak-anaknya, Bunda.
"Setiap hari rasanya seperti hari terakhir saya bakal memandang mereka," ujarnya.
"Aku menghubungi setiap pengacara di kitab telepon. Tak satu pun dari mereka mempercayaiku. Itu hanya kata-kataku melawan DNA. Itu saya melawan semua orang," tuturnya.
Saat itu, Fairchild sedang mengandung anak ketiganya. Hakim pun meminta agar ibu dan bayinya segera diuji setelah lahir. Hasilnya menunjukkan bahwa anak ketiganya juga secara genetik bukan putranya.
Lebih lanjut, seorang pengacara yang berjulukan Alan Tindell setuju membantunya. Ia menanyakan tentang kehidupan Fairchild, hubungannya dengan keluarga, dan Ayah dari anak-anaknya.
"Berdasarkan jawabannya, saya akhirnya memutuskan untuk mempercayainya," jelas Tindell.
Sampai suatu hari, mereka memeriksa Fairchild lampau ditemukan sel-sel dengan DNA berbeda yang cocok dengan anak-anaknya dan ibunya. Tim menyimpulkan DNA itu berasal dari kerabat kembar yang hilang.
Akhirnya, Fairchild bisa bernapas lega setelah semua terungkap. Ternyata, dugaan bahwa setiap orang hanya mempunyai satu jenis DNA tidak selalu benar, Bunda.
Bukti genetik tak selalu tepat
Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa bukti genetik kerap dianggap paling pasti untuk mengetahui hubungan keluarga. Tapi kenyataannya, bukti ini juga tak selalu benar, Bunda.
Hal ini dibenarkan langsung oleh seorang mahir makulat dan akademisi yang berbasis di Swedia, Margrit Shildrick.
"Asumsi utama dalam keadaan seperti itu adalah orang langsung menganggap ada yang curang, padahal tetap ada bukti lain yang menunjukkan hubungan family itu sebenarnya sah," ungkapnya.
Sering kali, pengetahuan pengetahuan dianggap 'mutlak' dan kebenarannya tidak terbantahkan. Tapi terkadang, kita terlalu sigap percaya dan lupa jika tetap banyak yang belum kita pahami.
Kalau kasus Fairchild tidak muncul lantaran argumen lain, dia mungkin tidak bakal pernah tahu bahwa ada sel selain selnya sendiri di tubuhnya. Anak-anaknya mungkin suatu hari juga mengetahui kebenaran genetik yang berbeda dalam family mereka.
Fenomena ini dikenal sebagai kimerisme garis germinal, di mana beberapa sel tertentu datang dalam jaringan yang membentuk sel telur alias sperma, Bunda.
Dengan semakin banyaknya tes DNA dilakukan, kemungkinan ada orang yang dianggap bukan ayahnya secara salah juga meningkat. Kasus ini menjadi bukti bahwa hasil genetik itu tidak selalu pasti.
Itulah penjelasan komplit mengenai kemungkinan yang terjadi jika hasil tes DNA anak rupanya tidak cocok dengan ibu kandungnya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·