Apakah Berhubungan Badan Dapat Membatalkan Niat Puasa?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia – Salah satu syarat sah puasa adalah dengan berniat. Dengan demikian niat kudu dilakukan oleh orang nan hendak berpuasa. Namun, terkadang ada seseorang nan telah melakukan niat di malam harinya kemudian melakukan hubungan badan suami istri. Lantas, apakah berasosiasi badan dapat membatalkan niat puasa? 

Dalam literatur kitab fikih, berasas pendapat mu’tamad dalam ajaran Syafi’i, andaikan dalam hati seorang nan berpuasa terbersit niat puasa dengan segala sifat-sifat nan kudu ditunjukkan seperti tidak minum, makan, dan seterusnya, maka sudah mengandung niat untuk berpuasa. Bahkan niat puasa juga bisa dilakukan dengan makan sahur nan bermaksud untuk puasa.

Sebagaimana dalam penjelasan kitab Al-Iqna’ Fi Hilli Alfadi Abi Suja’, juz 1, laman 470 berikut,

وَ المُعْتَمدُ أَنَّهُ لَوْ تَسَحَّرَ ليَصُوْمَ أَوْ شَرِبَ لِدَفْعِ اْلعَطْشِ نَهَاراً أَوِ امْتَنَعَ مِنَ اْلأَكْل أَوِ اْلشُرْبِ أَوِ اْلجِمَاعِ خَوْفَ طُلُوْعِ اْلفَجْرِ كَانَ ذَلِكَ نِيَّةً إِنْ خَطَرَ بِبالِهِ الصَّوْمُ بِالصّفَاتِ الَّتِيْ يُشْتَرَطُ التَّعَرُّض لَهَا لِتَضَمُّنِ كُلٍّ مِنْهَا قَصْدَ الصَّوْمِ.

Artinya : “Menurut pendapat mu’tamad bahwa orang nan makan sahur bermaksud untuk puasa alias minum agar tidak haus di siang hari alias tidak makan, minum, maupun jimak lantaran cemas fajar telah terbit, maka semua perihal tersebut dianggap sebagai niat dengan catatan didalam hatinya terbersit puasa Ramadhan dengan segala sifat-sifat nan kudu ditunjukkan (seperti tidak minum, makan , dst) lantaran hal-hal tersebut diatas sudah mengandung niat untuk berpuasa.”

Niat puasa juga tidak menjadi batal andaikan setelah niat seseorang melakukan makan, minum, dan hubungan badan jika tidak ada tujuan membatalkan niat sebelumnya. Sehingga seseorang nan melakukan makan, minum, dan hubungan badan setelah niat tidak perlu mengulangi niatnya lagi.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Hasyiyah Bujairami ‘Ala al-Khatib, juz 6, laman 424 berikut,

وَلَا يُشْتَرَطُ لِلتَّبْيِيتِ النِّصْفُ الْأَخِيرُ مِنْ اللَّيْلِ ، وَلَا يَضُرُّ الْأَكْلُ وَالْجِمَاعُ بَعْدَهَا وَلَا يَجِبُ تَجْدِيدُهَا إذَا نَامَ بَعْدَهَا ثُمَّ تَنَبَّهَ لَيْلًا.

Artinya : “Dalam ketentuan tabyit (niat malam hari), tidak disyaratkan kudu dilakukan di separuh malam nan terakhir, sehingga makan dan berjimak nan dilakukan setelah niat adalah tidak apa-apa. Dan tidak wajib memperbarui niat ketika dia tidur setelah niat, kemudian terbangun di malam hari.”

Juga selaras dengan penjelasan dalam kitab Ghayah al-Bayan Syarh Zubad, juz 1, laman 318 berikut,

وَلَا يَضُرُّ الْأَكْلُ أَوِ الْجِمَاعُ وَلَا يَجِبُ تَجْدِيْدُهَا إِذَا نَامَ ثُمَّ تَنَبَّهَ قَبْلَ الْفَجْر

Artinya : “Makan, minum, dan bersetubuh tidak apa-apa (tidak membatalkan niat) dan tidak diwajibkan untuk memperbarui niat andaikan tertidur kemudian terbangun sebelum fajar.”

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa niat puasa tidak menjadi batal andaikan setelah niat seseorang melakukan makan, minum, dan hubungan badan jika tidak ada tujuan membatalkan niat sebelumnya. Sehingga seseorang nan melakukan makan, minum, dan hubungan badan setelah niat tidak perlu mengulangi niatnya lagi. 

Demikian penjelasan mengenai apakah berasosiasi badan dapat membatalkan niat puasa? Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. [Baca juga: Bolehkah Berhubungan Badan Sebelum Mandi wajib Pasca Haid?]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah