Apakah Inti Kebahagiaan Itu?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kebahagiaan seorang hamba, baik ketika di bumi dan di akhirat, merupakan hidayah dan pemberian rabbani. Semua itu hanya berada di tangan Allah. Setiap orang bakal dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk melakukan aktivitas menurut takdir nan telah ditentukan baginya. Seseorang nan telah ditakdirkan meraih kebahagiaan, maka dia bakal dimudahkan dan diberi taufik untuk melakukan kebaikan. Sebaliknya, seseorang nan ditakdirkan sengsara, bakal melakukan aktivitas keburukan. Allah Ta’ala nan bakal memudahkan setiap aktivitas tersebut. Allah-lah Zat nan memberikan pertolongan dan petunjuk, dan juga Dia-lah nan menganugerahkan taufik kepada setiap hamba.

Dari sahabat Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Kami pernah menguburkan jenazah di pemakaman Baqi Al-Gharqad. Tidak berselang lama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mendatangi kami. Beliau duduk, dan kami pun duduk mengelilingi beliau. Setelah itu, Rasulullah memegang sebuah batang kayu pendek dan beliau menggaris-gariskan dan memukul-mukulkannya di atas tanah seraya berkata,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلَّا وَقَدْ كَتَبَ اللَّهُ مَكَانَهَا مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَإِلَّا وَقَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً قَالَ فَقَالَ رَجَلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَمْكُثُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ فَقَالَ مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ  : فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ  ؛ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ  ؛ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ  ؛ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ  ؛ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ  ؛ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ

“Tidaklah seseorang diciptakan melainkan Allah telah menentukan tempatnya, baik di surga ataupun di neraka, serta ditentukan pula apakah dia sengsara alias bahagia.” Ali bin Abi Thalib berkata, “Kemudian seseorang bertanya, ‘Ya Rasulullah, jika begitu apakah sebaiknya kami berdiam diri saja tanpa kudu melakukan apa-apa?’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Siapa saja nan termasuk ke dalam golongan orang-orang nan beruntung, dia pasti bakal mengerjakan kebaikan perbuatan orang-orang nan beruntung. Sebaliknya, siapa saja nan termasuk ke dalam golongan orang-orang nan sengsara, dia pasti bakal mengerjakan kebaikan perbuatan orang-orang nan sengsara.”

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tetaplah beramal! Karena masing-masing telah dipermudah untuk melakukan (sesuai dengan ketentuan terhadap dirinya, sengsara alias bahagia). Orang nan termasuk dalam golongan orang-orang nan berbahagia, maka bakal dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan perbuatan orang-orang nan beruntung. Sedangkan orang nan termasuk dalam golongan orang-orang nan sengsara, maka bakal dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan perbuatan orang-orang nan sengsara.”

Setelah itu, Rasulullah pun membacakan ayat Al-Quran (yang artinya), “Adapun orang nan memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala nan terbaik (surga), maka Kami kelak bakal menyiapkan baginya jalan nan mudah. Dan adapun orang-orang nan bakhil (pelit) dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami bakal menyiapkan baginya (jalan) nan sulit.” (QS. Al-Lail: 5-10)” (HR. Bukhari no. 1362 dan Muslim no. 2647)

Allah Ta’ala memang telah menakdirkan kebahagiaan dan kesengsaraan. Namun, Allah juga telah menjadikan dan menunjukkan sebab-sebab kebahagiaan dan kesengsaraan. Oleh lantaran itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sabda di atas,

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Tetaplah beramal! Karena masing-masing telah dipermudah untuk melakukan (sesuai dengan ketentuan terhadap dirinya, sengsara alias bahagia).”

Sehingga seorang hamba diperintahkan untuk mengerahkan segala daya dan upaya untuk menempuh beragam karena nan bisa mendatangkan kebahagiaan dan menghindarkan dari kesengsaraan. Tentunya, sembari memohon pertolongan dan meminta support kepada Allah Ta’ala.

Kebahagiaan itu hanyalah bisa dicapai dengan melakukan beragam macam kebaikan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan mengikuti petunjuk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ

“Setiap orang nan mengikut petunjuk-Ku, dia tidak bakal sesat dan tidak bakal celaka.” (QS. Thaha: 123)

Allah Ta’ala berfirman,

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِن فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰة طَيِّبَةۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Setiap orang nan mengerjakan kebaikan saleh, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya bakal Kami berikan kepadanya kehidupan nan baik. Dan sesungguhnya bakal Kami beri jawaban kepada mereka dengan pahala nan lebih baik dari apa nan telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Baca juga: Agar Memperoleh Kebahagiaan Abadi

“Kehidupan nan baik” dalam ayat di atas adalah kehidupan nan tidak berisi kedukaan dan kesengsaraan, ialah kehidupan nan terisi dengan keagamaan dan ketaatan. Inilah inti kebahagiaan nan terwujud dengan melakukan tiga perihal krusial dalam hidup seorang hamba. Setiap orang nan memperoleh taufik dan hidayah untuk melakukan tiga perihal ini, niscaya bakal menjadi orang nan berbahagia di bumi dan akhirat. Tiga perkara itu adalah: (1) berterima kasih kepada Allah Ta’ala atas limpahan nikmat-Nya; (2) bersabar terhadap takdir-Nya; dan (3) bertobat kepada-Nya.

Mengapa demikian? Karena dalam kehidupan bumi ini, seorang hamba itu tidak mungkin terlepas dari tiga kondisi berikut ini.

Pertama, dia terus-menerus berada dalam limpahan nikmat dan karunia nan dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Kenikmatan itu tentu menuntut rasa syukur kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيد

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan, “Sesungguhnya jika Anda bersyukur, pasti Kami bakal menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika Anda mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Contoh kecil, Allah Ta’ala bakal rida kepada hamba-Nya, jika dia memuji Allah Ta’ala ketika makan dan minum.

Kedua, dia sedang ditimpa musibah alias kondisi nan sempit. Kewajiban nan kudu dilakukan dalam kondisi semacam ini adalah menghadapi dengan lapang dada dan bersabar atas takdir tersebut sembari mengharapkan karunia dan pemberian-Nya.

Bersabar atas musibah nan menimpa merupakan kedudukan mulia dan tinggi dalam agama. Hanya orang-orang nan memperoleh hidayah dan kelapangan dada dari Allah Ta’ala nan bisa diberi taufik untuk bersabar. Ia menghadapi musibah tersebut dengan menerima takdir Allah Ta’ala berasas pengetahuan dan keimanan. Yaitu, segala sesuatu nan memang telah ditakdirkan menimpanya, niscaya bakal dia alami. Sebaliknya, segala sesuatu nan tidak ditakdirkan menimpanya, niscaya tidak bakal dia alami. Allah Ta’ala berfirman,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيم

“Tidak ada suatu musibah pun nan menimpa seseorang selain dengan ijin Allah. Dan setiap orang nan beragama kepada Allah, niscaya Dia bakal memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)

Perihal ayat ini, Alqamah rahimahullah menuturkan,

هو الرجل تصيبه المصيبة، فيعلم أنّها من عند الله، فيرضى ويسلّم

“Dia adalah seorang nan tertimpa musibah, lampau dia tahu bahwa musibah itu berasal dari Allah. Kemudian dia pun rida dan menerimanya dengan lapang dada.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 9503)

Ketiga, selain itu, dia juga berada dalam kondisi penuh dosa dan kesalahan. Kondisi ini menuntut hamba untuk bertobat dan beristigfar. Istigfar merupakan aktivitas nan mulia dan membuahkan pahala nan melimpah. Dalam suatu hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

“Sangat beruntunglah orang nan kelak menjumpai bahwa catatan amalnya banyak dipenuhi istigfar.” (HR. Ibnu Majah no. 3818, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Manfaat istigfar ini tidak berbilang dan tidak terbatas, dan memerlukan tulisan tersendiri untuk menuliskan semuanya. Namun, cukuplah kami menyebut salah satu manfaatnya di bumi seperti nan difirmankan Allah Ta’ala,

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارا  ؛ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارا  ؛ وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰل وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰت وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرا

“Maka saya katakan kepada mereka, “Mohonlah maaf kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun. Niscaya Dia bakal mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan kekayaan dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan, “Inilah tiga tanda kebahagiaan dan keberuntungan hamba di bumi dan akhirat. Setiap hamba senantiasa bakal berputar pada tiga kondisi ini.” (al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5)

Oleh lantaran itu, hamba nan berterima kasih jika dilimpahi nikmat, bersabar jika ditimpa musibah, dan beristigfar jika melakukan dosa, adalah hamba nan sangat beruntung dan berbahagia. Ketiga perihal ini merupakan inti kebahagiaan, dan terkumpul dalam sebuah atsar nan diriwayatkan dari sahabat nan mulia, Abdullah bin Amru bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, ketika beliau menuturkan,

رْبَعُ خِصَالٍ مَنْ كُنَّ فِيهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ ، مَنْ كَانَ عِصْمَةُ أَمِرْهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَإِذَا أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ قَالَ : إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، وَإِذَا أُعْطِيَ شَيْئًا قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَإِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا قَالَ : أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

“Siapa nan melakukan empat perkara ini, niscaya Allah bakal membangunkan rumah untuknya di surga. Keempat perkara itu adalah: (1) menjadikan kalimat laa ilaaha illallah sebagai perihal nan utama; (2) mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un andaikan ditimpa musibah; (3) mengucapkan alhamdulillah andaikan diberi kenikmatan; dan (4) mengucapkan astaghfirullah andaikan melakukan dosa.” (HR. Ibnu al-Mubarak dalam az-Zuhud hal. 50 [dalam bagian mulhaq], Ibnu Abi ad-Dunya dalam asy-Syukr no. 205, dan Al-Baihaqi dalam al-Iman no. 9692)

Dalam atsar di atas, ketiga inti kebahagiaan tersebut disandingkan dengan perkara pokok dan agung nan menjadi pondasi kepercayaan ini, ialah kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Kebahagiaan dan kesuksesan di bumi dan alambaka hanya bakal tercapai jika melaksanakan kandungannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan, penerapan kandungan kalimat itulah nan menjadi inti kebahagiaan. Sehingga orang nan menerapkan kandungannya adalah orang nan sejatinya berbahagia.

Semoga Allah Ta’ala menetapkan kita semua dalam peribadatan orang-orang nan berbahagia dan meneguhkan kita di jalan kebahagiaan.

Baca juga: Kebahagiaan di Balik Ahli Quran

***

“Menulis adalah corak nasihat untuk diri sendiri.”

@BA, 22 Syawal 1445/ 1 Mei 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 52; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah