Apakah Sains Bertentangan Dengan Agama? (bag. 2)

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kedua: Keterbatasan sains

Sebagaimana maksud Al-Qur’an dan derajat validitas sabda bertingkat-tingkat kepastiannya, ada nan betul dan ada nan salah, serta ada nan sahih dan ada nan lemah, begitu pula sains. Tidak semua konklusi sains mendapat predikat aksiomatik alias dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian.

Sains dibangun berasas argumen induktif. Argumen induktif didasarkan pada dugaan bahwa masa depan bakal bertindak serupa dengan masa lalu, nan berfaedah alam semesta mempunyai suatu pola. Ilmuwan sangat bertumpu pada prinsip ini untuk menyimpulkan info nan telah diobservasi. Akan tetapi, lantaran observasi dilakukan terbatas pada sekumpulan data, maka mengambil konklusi berasas info nan terbatas itu tidak bakal mencapai kepastian mutlak. Artinya, selalu ada celah untuk menyatakan suatu konklusi observasi tidak sah alias tidak sejalan dengan realita. Bahkan, konklusi penelitian di masa depan bisa jadi menggagalkan konklusi penelitian sekarang.

Dalam sejarahnya, kesimpulan-kesimpulan sains banyak mengalami perubahan. Sebagai contoh, pada awal abad ke-20, konsensus intelektual fisika sepakat menggunakan model alam semesta Newton. Tidak ada nan membikin konsep tandingan selama 200 tahun, lantaran perihal tersebut dianggap sebagai perihal nan terbukti secara saintifik. Akan tetapi, teori mekanika kuantum dan relativitas umum mengubah teori Newton tersebut. Mekanika Newton mengasumsikan ruang dan waktu sebagai dua perihal nan tak berubah dan stagnan, tetapi Albert Einstein menjelaskan bahwa keduanya berkarakter relatif dan dinamis. Pada akhirnya, setelah beberapa waktu, model alam semesta Einstein menggantikan model alam semesta Newton. Maka dari itu, dengan sedikit menengok sejarah sains, bakal memberikan wawasan kepada kita terhadap keterbatasan sains nan biasa disebut the problem of induction, ialah observasi nan baru selalu berkemungkinan berlawanan dengan konklusi sebelumnya.

Contoh lainnya adalah pemahaman tentang keabadian alam semesta. Sampai sekitar tahun 1950, semua fisikawan, termasuk Einstein, percaya bahwa alam semesta berkarakter kekal berasas observasi pada data-data nan diperoleh. Akan tetapi, konklusi ini bertentangan secara langsung dengan Al-Qur’an, lantaran Al-Qur’an secara gamblang menyatakan alam semesta mempunyai awal dan tidak kekal. Kemudian diadakan penelitian lebih lanjut menggunakan teleskop nan lebih mutakhir. Para fisikawan perlahan meninggalkan model alam semesta kekal (Steady State Model) dan beranjak dengan model alam semesta Ledakan Dahsyat (The Big Bang) nan menyatakan alam semesta mempunyai awal sekitar 13,7 miliar tahun lalu, sehingga sains berubah menjadi sejalan dengan Al-Qur’an.

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa konklusi sains didasarkan pada argumen induktif. Argumen induktif tidak bakal mengantarkan kepada kepastian, sehingga sesuatu nan disebut sebagai sains tidak bisa dianggap sesuatu nan absolut. Akan tetapi, terdapat beberapa perihal nan tidak bisa diragukan lagi, seperti kebulatan bumi, keberadaan gravitasi, dan corak orbit nan melingkar.

Oleh lantaran itu, seseorang tidak perlu panik andaikan sains terlihat bertentangan dengan dalil kepercayaan dalam menjelaskan suatu kejadian alam. Seseorang tidak perlu bingung, kemudian malah menolak ayat alias sabda sahih lantaran tidak sejalan dengan sains. Sebab, dengan begitu, berfaedah dia mengasumsikan konklusi sains selalu betul secara absolut dan tidak bakal berubah. Hal ini tentu saja keliru. Akan tetapi, memahami konsep seperti ini tidak membikin seseorang menjadi antisains. Bayangkan jika intelektual tidak diperkenankan untuk menantang konklusi sebelumnya, maka sains tidak bakal mengalami progres.

Apakah sains nan pasti bisa bertentangan dengan dalil kepercayaan nan pasti?

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa sains dan dalil kepercayaan mempunyai kepastian nan bertingkat-tingkat. Maka, kemungkinan terjadinya pertentangan antara keduanya adalah sebagai berikut:

  1. Sains nan tidak pasti bertentangan dengan dalil nan pasti, maka dimenangkan dalil nan pasti. Sebagaimana pada contoh model alam semesta kekal nan bertentangan dengan beragam ayat Al-Qur’an nan menyatakan Allah adalah pembuat alam semesta, sehingga alam semesta mempunyai awal. Maka, dimenangkan ayat-ayat Al-Qur’an, lantaran konklusi sains tidak pasti dan mengalami perubahan.
  2. Sains nan pasti bertentangan dengan dalil nan tidak pasti, maka dimenangkan sains nan pasti. Sebagaimana pada sabda benarnya ucapan orang nan bersin, nan merupakan sabda sangat lemah alias palsu, sehingga dimenangkan sains. Sebab, observasi sederhana saja sudah dapat menjelaskan bahwa ada orang nan bersin, tetapi tetap berbohong.
  3. Sains nan tidak pasti bertentangan dengan dalil nan tidak pasti, maka diadakan penelitian terhadap keduanya lampau dimenangkan sisi nan paling kuat validitasnya.
  4. Sains nan pasti bertentangan dengan dalil nan pasti, maka perihal ini mustahil terjadi. Hal ini dikarenakan Allah adalah pembuat alam semesta ini, sehingga Allah Ta’ala-lah nan paling mengetahui kondisi alam ini. Maka, tidak mungkin terjadi pertentangan asasi antara suatu kejadian alam dengan ayat Al-Qur’an. Sebab, keduanya merupakan ayat Allah. Alam semesta merupakan ayat kauni, sedangkan Al-Qur’an merupakan ayat syar‘i. Keduanya berasal dari Allah, sehingga tidak mungkin terjadi pertentangan. Bahkan, Al-Qur’an pasti bakal selalu sejalan dan mengonfirmasi sains nan pasti. Misalnya, keberadaan orbit alias garis edar barang langit seperti bulan, bumi, dan mentari dikonfirmasi oleh Al-Qur’an dalam surah Yasin ayat 38-40 berikut,

وَٱلشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّۢ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ  وَٱلْقَمَرَ قَدَّرْنَـٰهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَٱلْعُرْجُونِ ٱلْقَدِيمِ  لَا ٱلشَّمْسُ يَنۢبَغِى لَهَآ أَن تُدْرِكَ ٱلْقَمَرَ وَلَا ٱلَّيْلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِ ۚ وَكُلٌّۭ فِى فَلَكٍۢ يَسْبَحُونَ 

“Dan mentari melangkah di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) nan Mahaperkasa, Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah dia sampai ke tempat peredaran nan terakhir), kembalilah dia seperti corak tandan nan tua. Tidaklah mungkin bagi mentari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin: 38-40)

Kembali ke bagian 1: Apakah Sains Bertentangan dengan Agama? (Bag. 1)

Lanjut ke bagian 3: Bersambung

***

Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho

Artikel: Muslim.or.id

Sumber:

Disarikan dari kitab Zukhruf Al-Qaul bab 8 berjudul Hāẓa Mukhālifun lil-‘Ilmi dan The Divine Reality Chapter 12 berjudul Has Science Disproved God?

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah