Apakah Wajib Mandi Setelah Melahirkan?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Di dalam kitab-kitab ustadz Syafi’iyyah, disebutkan ada enam perihal nan mewajibkan seseorang untuk mandi, yaitu:

  1. Masuknya kepala kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan perempuan
  2. Keluarnya air mani
  3. Suci dari haid
  4. Suci dari nifas
  5. Melahirkan
  6. Kematian

Berdasarkan poin di atas, jika seorang wanita selesai melahirkan maka diwajibkan untuk mandi di dalam perspektif ajaran Syafii, dan mandi ini dinamakan mandi wiladah.

Asy-Syathiri dalam kitabnya Nailur Rajaa bi Syarhi Safinatin Najaa, menjelaskan perihal mandi wiladah ini. Mandi wiladah adalah mandi nan disebabkan keluarnya bayi manusia dari rahim seorang perempuan. Baik itu sudah berbentuk manusia, alias janin maupun baru gumpalan daging alias darah. Dan mandi ini juga diwajibkan ketika seorang wanita itu melahirkan meskipun dalam keadaan kering.

Di dalam kitab Al Fiqhiy Al Manhaji ‘ala Manhaji Imam Asy-Syafi’i dijelaskan bahwa kedudukan wanita nan melahirkan pada saat itu adalah seperti orang nan junub, lantaran bayi nan keluar dari rahim wanita tersebut berasal dari air mani dari ibu dan ayahnya. Darah nan keluar ketika melahirkan dianggap darah fasad. Dan darah nan keluar setelah melahirkan disebut darah nifas, dan perihal ini mempunyai penjelasan tersendiri.

Syekh Shalih Al-Munajjid di dalam Islam Sual wal Jawab, ditanya tentang wanita nan melahirkan, bakal tetapi tidak keluar darah. Kasus ini sangat jarang terjadi. Maka, wanita tersebut tidaklah dihukumi seperti wanita nifas, lantaran nifas adalah darah nan keluar lantaran karena melahirkan, dan tetap bertindak atasnya tanggungjawab salat dan puasa. Dan perihal ini selaras dengan perkataan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Al-Mughni (1/429), Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra (1/358) dan selaras pula dengan apa nan terdapat di dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (41/15)

Donasi Operasional YPIA

Ulama berbeda pendapat tentang wajibnya mandi wiladah.

Ada nan berpendapat, tidak wajib mandi, lantaran hukum hanya mewajibkan mandi bagi wanita nan suci dari nifas, dan mandi wiladah ini bukan mandi nifas. Ini adalah pendapatnya ustadz Malikiyyah dan Hanabilah. (Al-Mughni (1/429) dan Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (41/15))

Syekh Ibn ‘Utsaimin rahimahullah memilih pendapat, “Jika seorang wanita nifas, bakal tetapi dia tidak menemukan darahnya, dan ini jarang sekali terjadi, maka selama nifas, janganlah dia duduk. Jika dia melahirkan ketika terbit matahari, kemudian datanglah waktu zuhur, dan dia tetap tidak menemukan darah, maka dia tidak perlu mandi, berwudulah kemudian melaksanakan salat (Syarhul Mumti’ (1/281))

Ada nan beranggapan wajib mandi, alasannya adalah lantaran kelahiran itu menimbulkan persangkaan kuat terjadinya nifas, maka wajib mandi. Ini adalah pendapat ustadz Syafii, dan inilah nan dipilih oleh Lajnah Da-imah lil Ifta’. Mereka mengatakan, “Ulama berbeda pendapat mengenai wajibnya mandi wiladah, ‘Jika wanita mengandung melahirkan dan tidak keluar darah, maka wajib mandi, kemudian salat dan puasa. Dan suaminya boleh berasosiasi badan dengannya setelah istrinya mandi. Karena umumnya kelahiran itu mengeluarkan darah meskipun sedikit ketika kelahiran, maupun akibat dari kelahiran tersebut. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (5/421))

Maka, sikap nan pertengahan adalah mandi setelah melahirkan dalam rangka keluar dari perselisihan ulama.

Baca juga: Berbahagialah Wahai Ibu Hamil!

Penulis: Triani Pradinaputri

Artikel: Muslimah.or.id

Referensi:

  1. Asy-Syathiri, Ahmad bin Umar, 2007 M – 1428 H, Nailur Rajaa bii Syarhi Safinatin Najaa, Cetakan Kedua, Darul Minhaj, Beirut.
  2. Al-Khin, Mustofa dan Musthofa Al-Bugho, 1992 M – 1413 H, Al-Fiqhi Al-Manhaji ‘Ala Manhaji Imam Asy-Syafi’i, Cetakan Keempat, Juz 1, Halaman 82, Maktabah Syamilah.
  3. https://islamqa.info/ar/answers/140621/اذا-ولدت-المراة-ولم-ينزل-منها-دم-او-نزل-وانقطع-قبل-الاربعين
Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id