Asal Muasal Ide Sapi Merah, Karena Fatwa Kuno Yang Disampaikan Rabi Yahudi?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA -- Terdapat dua kementerian nan paling strategis dan rawan dalam pemerintahan Israel. Dua itu adalah Kementerian Keuangan nan dipimpin Bezalel Smotrich dan Kementerian Keamanan Nasional nan dipimpin Itamar Ben Gvir.

Namun dua kementerian tersebut berada dalam genggaman Zionis, nan mewakili golongan sayap kanan di Israel. Di sisi lain, Zionis Israel nan sedang dalam kondisi terkuatnya juga tidak bisa mengumpulkan lebih dari 2.200 pemukim ekstremis dalam satu hari untuk menyerbu Masjid Al Aqsa.

Mengapa demikian? Kolumnis di laman Aljazeera, Dr Abdullah Ma'ruf menjelaskan, penyebab utamanya adalah sikap golongan Zionis nan mengalah pada pendapat Kepala Rabbi Israel berasas fatwa larangan masuk ke area Masjid Al Aqsa.

Fatwa antik itu didasarkan pada pendapat tentang kenajisan orang mati, dan juga norma nan diadopsi oleh Kepala Rabbi nan mensyaratkan kesucian masyarakat sebelum mereka diizinkan memasuki Masjid Al Aqsa. Ini mereka ungkapkan dengan mengatakan "ash shu'uud ilaa jabal al ma'bad" (kenaikan bukit bait suci).

Hal tersebut mengenai dengan sapi merah. Kelahiran Sapi Merah secara tidak langsung mengenai dengan penghancuran Al Aqsa dan pembangunan Bait Suci, dengan membuka pintu bagi jutaan orang Yahudi di seluruh bumi untuk masuk dan mengubah fatwa larangan masuk itu.

Inilah nan kemudian menimbulkan kegaduhan seputar kehadiran 5 ekor sapi merah dari negara bagian Texas, AS, ke Israel pada November 2022 lampau dan penempatan mereka di sebuah peternakan rahasia. Laman channel 12 Israel mengungkapkan bahwa sapi-sapi itu berada di Lembah Yordan dekat Beit She'an.

Sapi-sapi merah itu ditunggu hingga mencapai usia dua tahun. Kemudian salah satunya disembelih, dan menggunakan abunya dalam proses penyucian umat, lampau memperbolehkan seluruh umat Yahudi di bumi masuk ke Masjid Al Aqsa.

Ide tentang sapi merah sebenarnya kembali pada teks Mishna (penjelasan Taurat) nan merupakan bagian dari kitab Talmud. Teks ini menekankan perlunya kemunculan sapi merah murni nan tidak mempunyai dua helai rambut dengan warna berbeda, nan berfaedah bahwa hanya dua helai inilah nan boleh mempunyai warna berbeda.

Syarat lainnya adalah sapi merah ini tidak pernah digunakan untuk pekerjaan pelayanan apa pun dan tidak ada tali nan dipasang di lehernya. Juga dibesarkan di Tanah Israel.

Lalu ketika mencapai usia dua tahun, sapi merah dapat digunakan dalam proses penyucian nan kudu dilakukan di Bukit Zaitun di Yerusalem di seberang Masjid Al-Aqsa, disembelih di tempat khusus, kemudian dibakar dengan ritual khusus, dan abunya digunakan dalam proses penyucian umat Yahudi.

Hanya dengan langkah itulah manusia dapat naik ke Rumah Tuhan (yakni Masjidil Aqsha), ialah setelah menjadi suci. Hal ini menjelaskan kenapa sapi-sapi ini ditempatkan di peternakan rahasia. Ketika misalnya ada seseorang datang, menungganginya alias mengalungkan tali di lehernya dan menyeretnya, meski hanya satu meter, sapi tersebut menjadi tidak layak untuk menyelesaikan ritual ini.

Legenda tersebut didasarkan pada kebenaran bahwa selama dua ribu tahun, seekor sapi merah dengan spesifikasi seperti ini belum pernah dilahirkan. Kemunculan sapi merah dianggap sebagai tanda ketuhanan bakal segera dibangunnya Kuil Ketiga dan kemunculan Mesias nan diharapkan di antara mereka.

Kelompok kepercayaan sayap kanan di Israel menganggap bahwa kesucian, nan diwakili oleh kehadiran sapi ini dan tata langkah penyembelihan dan pembakarannya, adalah syarat nan memungkinkan semua orang Yahudi memasuki area Temple Mount, nan merujuk pada Masjid Al Aqsa.

Kelahiran Sapi Merah nan mengenai dengan penghancuran Al Aqsa dan pembangunan Bait Suci secara tidak langsung membuka pintu jutaan umat Yahudi di seluruh bumi untuk memasukinya dan mengubah fatwa antik larangan masuk.

Namun, ini bukan pertama kalinya buahpikiran sapi merah muncul di Israel. Kelompok sayap kanan ekstrim sebelumnya merayakan kemunculan sapi merah sekitar satu separuh dasawarsa nan lalu. Saat itu sapi merah dibesarkan dengan sangat hati-hati di sebuah peternakan rahasia di wilayah Negev.

Meski demikian, para rabi mengumumkan bahwa ada beberapa helai rambut hitam nan muncul di sana, sehingga tidak layak digunakan. Hal ini terjadi lagi 10 tahun nan lalu.

Yang asing adalah lima ekor sapi merah nan tiba di Israel pada 2022 lampau dan menyebabkan kehebohan tersebut berasal dari negara bagian Texas, Amerika. Setelah sapi-sapi itu dibiakkan dengan support perseorangan nan mengikuti tren Kristen evangelis nan ketat di Amerika Serikat, nan terjadi justru menimbulkan banyak pertanyaan tentang sejauh mana sapi-sapi ini dihasilkan melalui rekayasa genetika hingga betul-betul berwarna merah.

Ironisnya legenda antik di kalangan Yahudi tidak membuktikan bahwa selama 2000 tahun bakal lahir satu sapi merah. Sebab saat ini ada 5 ekor sapi merah, bukan hanya satu. Hal ini jugalah nan membikin beberapa rabi menolak kebenaran bahwa sapi-sapi itu tidak dilahirkan sejak awal di “Tanah Israel”, meskipun pada akhirnya datang untuk tinggal di Israel hingga mencapai usia dua tahun.

sumber : Aljazeera

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam