Bantahan Terhadap Syubhat: ‘yang Pentingkan Hatinya Baik’

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Dewasa ini kita memandang keanehan dari sebagian orang nan mencukupkan diri dengan hati nan ‘baik’, lantas meninggalkan tanggungjawab nan Allah perintahkan kepadanya.

Seperti para wanita nan menanggalkan hijabnya, berkilah dengan perkataan ‘yang pentingkan hatinya baik’.

Mereka seakan berbesar hati ketika melakukan kemaksiatan kepada Allah ta’ala.

Padahal, dalam kenyataannya hati nan baik adalah hati nan dihiasi oleh keagamaan sehingga menuntun pemiliknya untuk alim kepada RabbNya. Ia mencintaiNya, penuh minta dan takut terhadapNya. Perbuatan nan dilakukan adalah gambaran dari kondisi di dalam hatinya.

Mengenal Qalbun Salim (Hati nan Bersih)

Dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim, segala sesuatunya haruslah dilihat dan ditimbang menurut pandangan syariat. Karena jika standar ukuran tersebut dikembalikan kepada selain dari syariat, porak-porandalah segala urusan. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

Donasi Operasional YPIA

وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلْحَقُّ أَهْوَآءَهُمْ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua nan ada di dalamnya” (QS. Al-Mu’minun: 71)

Mengenai hati nan bersih, Allah ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ • إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) di hari kekayaan dan anak-anak laki-laki tidak berguna, selain orang-orang nan menghadap Allah dengan hati nan bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,” Orang-orang berbeda pendapat tentang makna qalbun salim. Sedang nan merangkum beragam pendapat itu adalah nan mengatakan: qalbun salim yaitu hati nan bersih dan selamat dari beragam syahwat nan menyalahi perintah dan larangan Allah, bersih dan selamat dari beragam syubhat nan bertentangan dengan beritaNya. Ia selamat dari melakukan penghambaan kepada selainNya, selamat dari pemutusan norma oleh selain RasulNya. Maka dia selamat dalam mencintai Allah dan dalam berhukum kepada RasulNya, bersih dalam ketakutan dan berpengharapan padaNya, dalam bertawakal kepadaNya, dalam kembali kepadaNya, dalam menghinakan diri di hadapanNya, dalam mengutamakan mencari ridaNya di segala keadaan dan dalam menjauhi kemurkaanNya dalam setiap kondisi. Dan inilah prinsip penghambaan nan tidak boleh ditujukan selain kepada Allah semata.

Jadi, qalbun salim adalah hati nan selamat dari menjadikan sekutu untuk Allah dengan argumen apa pun. Bahkan dia hanya mengikhlaskan penghambaan dan ibadah kepada Allah semata, baik dalam kehendak, cinta, tawakkal, inabah (kembali), merendahkan diri, khasyyah (takut), raja’ (pengharapan), dan dia mengikhlaskan amalnya untuk Allah semata.

Jika dia mencintai, maka dia mencintai lantaran Allah. Jika dia membenci, maka dia membenci lantaran Allah. Jika dia memberi, maka dia memberi lantaran Allah. Jika dia menolak, maka dia menolak lantaran Allah. Dan ini tidak cukup selain dia kudu selamat dari ketundukan serta berhukum kepada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia kudu mengikat hatinya kuat-kuat dengan beliau untuk mengikuti dan tunduk dengannya semata, tidak kepada ucapan alias perbuatan siapa pun juga:

  • Dari ucapan hati, nan berupa kepercayaan
  • Ucapan lisan, ialah buletin tentang apa nan ada di dalam hati
  • Perbuatan hati, ialah keinginan, cinta dan kebencian serta perihal lain nan berangkaian dengannya
  • Perbuatan personil badan

Sehingga dialah nan menjadi pengadil bagi dirinya dalam segala hal, dalam masalah besar maupun nan sepele. Dia adalah apa nan dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tidak mendahuluinya, baik dalam kepercayaan, ucapan maupun perbuatan, sebagaimana firman Allah ta’ala:

 الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا نُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Hai orang-orang nan beriman, janganlah Anda mendahului Allah dan RasulNya.” (QS. Al-Hujurat: 1)

Artinya, janganlah engkau berbicara sebelum dia (Rasul) mengatakannya, janganlah melakukan sebelum dia memerintahkannya. (Ighatsatul Lahfan (Terjemahan), hal. 1-2)

Baca juga: Menjawab Syubhat Tentang Masuk Gereja

Tanda-Tanda Hati nan Bersih

Hati nan bersih mempunyai tanda-tanda diantaranya,

  • Hati tersebut jauh dari dunia, tidak terpedaya dengannya. Ia menyadari bahwa bumi adalah tempat nan fana sehingga konsentrasi orientasinya hanyalah akhirat.
  • Tujuannya hanya satu: mencari keridaan Allah dan menjauh dari kemurkaanNya.
  • Ia antusias dan berjuang untuk bersih dari maksiat, dosa, bid’ah dan perbuatan-perbuatan haram lainnya.
  • Perhatiannya terhadap kualitas kebaikan lebih besar daripada jumlah kebaikan itu sendiri.

Kita memohon kepada Allah karuniaNya berupa hati nan bersih, nan membuahkan kebaikan saleh dan ketaatan kepada Allah dan menjauhi laranganNya. Hati nan mengantarkan kita kepada keridaanNya dan surga nan penuh dengan kenikmatan. Di antara angan nan shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

“Ya Allah, berikanlah ketakwaan pada jiwaku, bersihkanlah jiwaku, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik Dzat nan membersihkan jiwaku, Engkau adalah walinya dan penolongnya.” (HR. Muslim, no. 2722)

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبَاً سَلِيمَاً، وَلِسَانَاً صَادِقَاً، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

“Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepadaMu keteguhan dalam segala urusanku, dan saya memohon kepadaMu tekat nan kuat dalam melakukan lurus, dan saya memohon kepadaMu hal-hal nan mendatangkan rahmatMu, dan hal-hal nan mendatangkan pembebasan Mu, dan saya memohon kepadaMu untuk mensyukuri nikmatMu, baiknya saya dalam beragama kepadaMu, dan saya memohon kepadaMu hati nan selamat, dan lidah nan benar. Dan saya memohon kepadaMu bakal kebaikan nan Engkau ketahui, dan saya berlindung kepadaMu dari kejahatan nan Engkau ketahui, dan saya memohon maaf terhadap dosa nan Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bakal segala nan ghaib.” (HR. Ibnu Hibban dalam Sahihnya (no. 935) dan disahihkan Al-Albani dalam Silsilah As-Shahihah Al-Albani no. 3228)

Hanya kepada Allah lah kita memohon taufik.

Baca juga: Kalau Anak Saya Berhijab Syar’i, Bagaimana Dia Akan Dapat Jodoh?

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Ahadits Ishlahul Qulub, Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al Badr
  • Manajemen Qalbu Ighatsatul Lahfan (Terjemahan), Darul Falah
  • Ebook Doa-doa dan dzikir-dzikir dari Al-Quran dan As-Sunnah Ash-Shahihah dibaca di ‘Arafah dan selainnya – Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr (Terjemah oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy)
Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id