Banyak Kasus Perceraian, Ketahui Tata Cara Talak Sesuai Syariah

Sedang Trending 6 hari yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Perkara legal nan dibenci Allah adalah perceraian. Bila suami yang memaklumkan cerai, maka itu disebut sebagai talak. Adapun jika si istri yang menggugat pisah suaminya dengan jalur pengadilan, itu diistilahkan sebagai khulu' (dengan memberikan tebusan) alias fasakh (tanpa tebusan).

Perceraian adalah jalan akhir nan dapat ditempuh jika suami-istri tak lagi meyakini bahwa hubungan mereka dapat bertahan. Karena itu, krusial sekali bagi mereka--terutama pihak suami--agar mempertimbangkan dengan hati-hati keputusan berpisah.

Berikut ini adalah tata cara talak yang sesuai hukum Islam.

Talak Tiga Sekaligus

Jumhur ustadz memang mengatakan bahwa talak tiga bisa jatuh jika suami mengatakannya tiga kali dalam satu majelis. Contohnya, ”Kamu saya talak, Anda saya talak, Anda saya talak.” Maka jatuhlah talak tiga.

Namun pendapat ini bukanlah satu-satunya. Karena ustadz lain mengatakan bahwa lafaz seperti itu tidak menjatuhkan talak tiga tapi hanya talak satu saja. Dasarnya adalah hadits berikut ini.

Dari Mahmud bin Labid berbicara bahwa Nabi Muhammad SAW menceritakan kepada kami tentang seorang nan menceraikan istrinya talak tiga sekaligus. Lalu Rasulullah SAW berdiri sembari marah dan berkata, "Apakah kitabullah dipermainkan, sementara saya tetap berada di antara kamu?” Sampai-sampai ada seorang nan berdiri dan bertanya kepada Rasulullah SAW, ”Ya Rasul, Bolehkah saya membunuh orang itu?” (HR Imam An-Nasa’i)

Selain itu memang dalam Alquran telah disebutkan bahwa talak itu berjenjang. “Talak itu dua kali” sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Baqarah.

Kedua pendapat ini merupakan pilihan nan masing-masingnya mempunyai sejumlah dalil nan kuat.

Talak tak Butuh Saksi

Menalak istri adalah sebuah pernyataan untuk melepaskan hubungan syar'i antara suami dengan istri. Talak dilakukan oleh suami kepada istrinya, tanpa memerlukan saksi alias datang di depan hakim. Cukup dilakukan dengan lafadz, ungkapan alias pernyataan. Ungkapan alias lafaz pisah itu ada dua macam. Pertama lafaz nan sharih (jelas alias eksplisit) dan kedua lafaz nan majazi (tidak jelas alias implisit).  

Lafaz sharih berfaedah lafaz nan jelas. Di dalamnya disebutkan secara jelas kata cerai, talak alias firaq. Jika perihal ini disebutkan, maka meski dilakukan dengan main-main, talaknya tetap jatuh.

Contoh lafaz nan sharih adalah ”aku ceraikan kamu.” Bila itu diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya, maka jatuhlah talak satu. Bahkan, meski ucapannya itu dilakukan dengan main-main.

Rasulullah SAW bersabda, “Tiga perihal nan main-mainnya tetap dianggap serius, ialah nikah, talak dan rujuk.” Dalam lain riwayat disebutkan, “nikah, talak dan membebaskan budak.”

Selanjutnya, lafaz nan berkarakter kina`i. Ini berfaedah lafaz nan tidak secara jelas menyebut pisah alias bisa berarti ganda. Misalnya, seorang suami berbicara kepada istrinya, ”Pulanglah Anda ke rumah orang tuamu.” Dalam kasus seperti ini, maka nan menjadi titik acuannya adalah niat dari suami ketika mengucapkannya alias `urf (kebiasaan) nan terjadi di negeri itu.

Misalnya, kata-kata,”Pulanglah ke rumah orang tuamu.” Apakah lafaz ini berfaedah talak alias bukan? Jawabannya tergantung niat alias kebiasaan nan terjadi di masyarakat. Jika kebiasaannya lafaz itu nan digunakan untuk mencerai istri, maka jatuhlah talak itu. Bila tidak, maka tidak.

Talak kina`i ini tidak menjatuhkan talak selain jika dengan niat dari pihak suami. Jadi tergantung pada niatnya saat melafalkan lafaz kina’i itu.

Istri tak Ditemui saat Talak

nan terpenting istri itu tahu dan mendengar info bahwa dirinya sudah ditalak suaminya. Tidak ada persyaratan bahwa lafaz talak itu kudu diucapkan suami langsung di depan istrinya.

Talak bisa saja disampaikan lewat tulisan alias pesan nan dibawa seseorang kepada istri. Talak itu sudah jatuh terhitung sejak suami mengatakannya, bukan tergantung kapan istri mengetahuinya.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam