Basmalah Dalam ‘aqidatul Awam: Fondasi Untuk Memulai Segala Kebaikan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Kitab ‘Aqidatul Awam merupakan salah satu kitab nan terkenal dalam kalangan umat Islam, khususnya dalam mempelajari dasar-dasar akidah. Salah satu aliran krusial nan diuraikan dalam kitab ini adalah pentingnya memulai setiap perkara baik dengan membaca Basmalah, ialah “Bismillahirrahmanirrahim.”

Membaca Basmalah tidak hanya merupakan sunnah Rasulullah SAW, tetapi juga mengandung makna nan dalam tentang keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT. Basmalah mengingatkan setiap Muslim untuk senantiasa berjuntai kepada kekuatan dan kasih sayang Allah, lantaran segala sesuatu nan dilakukan tanpa menyebut nama-Nya seringkali tidak mendatangkan faedah dan berkah.

أَبۡـدَأُ بِاسۡمِ ٱللهِ وَٱلرَّحۡـمَنِ * وَبِالرَّحِيمِ دَائـِمِ ٱلۡإِحۡسَانِ

Saya Memulai dengan Menyebut Nama Allah;

Yang Maha Pengasih serta Penyayang juga terus-menerusnya Kebaikan

             Sesuatu nan baik selayaknya disandingkan dengan sesuatu nan baik pula, sebagaimana pengarang kitab ‘Aqidatul Awam memulai karangannya tersebut dengan kalimat basmalah. Hal ini bukan tanpa alasan, ada beberapa dasar nan mendorong pengarang kitab tersebut untuk memulai anggitannya dengan basmalah.

         Meminta keberkahan dan pertolongan kepada Allah tentu menjadi argumen utama untuk perampungan syairan nan dikarangan oleh sang pengarang. Syeikh al-Marzuki dalam mengarang nadhom ‘Aqidatul Awam mengikuti alur tulisan sebagaimana dalam al-Qur’an al-Karim ialah segala surat dalam kalamullah tersebut dimulai dengan kalimat basmalah, demikian dalam anggitannya nan beliau beri nama ‘Aqidatul Awam. Hal ini selaras dengan awal mula turunnya ayat al-Qur’an nan berbunyi:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu nan menciptakan!”. (Surat al-‘Alaq: 01/30)

         Segala aktivitas baik semestinya selalu dimulai dengan menyebut nama Allah nan Maha Kuasa, baik membaca, menulis, berbincang dan sebagainya. Karena tanpa kehendak dari Allah segala aktivitas manusia tidak bakal melangkah sempurna. Oleh lantaran itu menjadi krusial (bahkan sangat dianjurkan) memulai segala perihal baik dengan menyebut nama Allah (basmalah). Hal ini juga sebagai corak pengamalan terhadap sabda Rasulullah Shallawahu ‘Alaihi wa Sallam nan berbunyi:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أجذم أو أقطع

Artinya: “Setiap perkara baik, jika tidak didahului dengan (membaca) basmalah, maka (hal itu menjadi) sesuatu nan terpotong alias terputus (keberkahannya)”. (Umdatul Qori, Hal. 102 Juz 1)

Hadis di atas menegaskan bahwa memulai segala perkara baik dengan mengucapkan basmalah adalah perihal nan sangat penting. Hal ini agar keberkahan dari Allah SWT senantiasa menyertai setiap aktivitas kita.

Imam ad-Dau’ani memberikan penjelasan menarik bahwa aktivitas apa pun nan tidak diawali dengan basmalah, meskipun secara kasat mata tampak selesai, sebetulnya kurang sempurna dan berkurang keberkahannya. Perkara baik nan dimaksud di sini adalah segala sesuatu nan dianggap krusial oleh hukum dan tidak melanggar patokan syariat.

Membiasakan diri mengucapkan basmalah sebelum memulai aktivitas merupakan langkah mini nan berakibat besar dalam meraih keberkahan dari Allah SWT. Mari kita mulai membiasakan diri untuk selalu mengucapkan basmalah dalam setiap aktivitas kita.

         والمعنى ناقص وقليل البركة، وهو وإن تم معنى لا يتم حساً. والأمر ذو البال هو كل ما يُهتم به شرعاً، فعلا كان كالتأليف، أو قولاً كالقراءة، شريطة أن لا يكون محرماً لذاته، أو مكروهاً لذاته، أو ذكراً محضاً، أو مما جعل له الشارع مبدأ غير البسملة كالأذان، أو لا يكون من سفاسف الأمور ككنس زبل ونحوه.

Artinya: “Maksudnya: berkurang dan sedikitnya barokah, sekalipun secara makna telah sempurna, namun sejatinya tidak. Adapun setiap perkara baik adalah segala sesuatu nan dianggap krusial oleh syariat, seperti aktivitas mengarang, membaca, dengan syarat perkara tersebut bukan termasuk perkara nan haram, makruh alias berupa dzikir alias segala aktivitas (sekalipun baik) nan tidak dianjurkan untuk dimulai dengan basmalah, seperti: adzan, alias beberapa perkara nan kotoran, seperti: membersihkan kotoran alias semacamnya”. (Mujizu al-Kalam Syarh Aqidatul Awam, Hal. 9)

Keunikan Lafadz-lafadz Basmalah

Lafadz-lafadz pada basmalah mempunyai beberapa keunikan. Keunikan nan dimaksud adalah beberapa lafadz nan ada mempunyai makna khusus, apalagi huruf ba’ nan berapa di awal kalimat tersebut mempunyai makna filosofis. Sebagaimana nan ditulis oleh Imam ad-Dau’ani dalam kitabnya bahwa huruf ba’ pada lafadz بسم الله mempunyai makna untuk membersamai (mushahabah) beserta berambisi barokah (tabarruk).

 Dikasrahkan huruf ba’ pada lafadz basmalah bukan tanpa alasan, ada makna filosofis nan terkandung di dalamnya. Hal tersebut sebagai edukasi bagi seorang hamba nan mau “sampai” (wushul) kepada Allah dengan langkah merundukkan dadanya dan dengan penuh ketundukan hati serta dengan penuh kesederhaan bakal penghambaan kepada Allah. (Mujizu al-Kalam Syarh Aqidatul Awam, Hal. 10)

Sedangkan pada lafadz Allah ustadz berbeda pendapat,

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ustadz tentang asal usul lafadz Allah. sebagian menyebut bahwa lafdzu al-jalalah tersebut berasal dari satu kata kerja, namun sebagian nan lain menolaknya. Berikut perinciannya:

Pendapat Pertama. Beberapa ustadz beranggapan bahwa lafadz Allah berasal dari kata kerja “وَلِهَ” (wa-la-ha) nan berfaedah “membuat tercengang”. Huruf “wawu” kemudian diubah menjadi hamzah, dan ditambahkan alif dan lam. Argumen mereka adalah bahwa Allah SWT mempunyai sifat-sifat nan begitu agung dan sempurna sehingga membikin pikiran manusia tercengang saat mencoba memahaminya.

Pendapat Kedua. Pendapat lain mengatakan bahwa lafadz Allah berasal dari kata “أَلِهَ” (ali-ha) nan berfaedah “ketenangan hati seorang hamba”. Maksudnya, hati manusia hanya bakal menemukan ketenangan saat menyebut lafadz Allah. Demikian pula jiwa manusia bakal merasa senang ketika mengenal Allah SWT.

Penolakan Pendapat Pertama dan Kedua:

Imam ar-Razi, Imam Khalil, dan Imam Syibawaih menolak kedua pendapat di atas. Mereka beranggapan bahwa lafadz Allah tidak berasal dari kata apapun, melainkan merupakan isim alam (nama nan berdiri sendiri) nan menjadi identitas bagi Allah SWT. Nama ini tidak mempunyai makna unik dan tidak dapat dijangkau oleh logika manusia.

Argumen mereka adalah jika lafadz Allah berasal dari kata lain, maka bakal mempunyai makna nan luas dan beragam. Namun, lafadz Allah tidak mempunyai makna nan beragam, melainkan mempunyai makna tunggal dan mutlak.

Asal usul lafadz Allah tetap menjadi perdebatan di kalangan ulama. Pendapat nan paling kuat adalah bahwa lafadz Allah merupakan isim alam nan tidak berasal dari kata apapun dan mempunyai makna tunggal dan mutlak. Hal ini menunjukkan keagungan dan karakter Allah SWT nan tidak dapat dipahami oleh manusia sepenuhnya.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah