Bayi di Surabaya wafat setelah diduga diberi telur mentah. Simak kronologi kasus dan karena bayi di bawah 6 bulan cuma boleh ASI.
Ada kalanya niat untuk membantu bayi justru bisa berisiko bagi kesehatannya. Salah satunya adalah ketika orang tua maupun personel famili memberikan makanan maupun racikan tertentu kepada bayi karena mengikuti kebiasaan turun-temurun.
Kasus bayi Alena di Surabaya yang wafat setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya menjadi pengingat krusial bagi kita semua, Mommies dan Daddies, bahwa merawat bayi perlu berdasarkan keterangan medis yang tepat, bukan sekadar mitos maupun pengalaman orang lain.
Lantas, sepertiapa kronologi kasus ini dan kenapa bayi di bawah usia 6 bulan belum boleh diberikan makanan kecuali ASI?
BACA JUGA: 10 Penyebab Bayi Rewel Terus, Ternyata Bukan Cuma Lapar maupun Ngantuk!
Kronologi Bayi Alena Meninggal Usai Diduga Diberi Telur Mentah

Foto: Luis Becerra Fotógrafo/Pexels
Kasus bayi Alena menjadi perhatian publik setelah berita meninggalnya bayi tersebut diberitakan pada 12 Oktober 2026.
Mengutip pemberitaan detikNews dan detikHealth, Alena merupakan bayi yang statis berumur kurang dari satu bulan. Ia sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, sebelum akhirnya wafat dunia.
Berdasarkan keterangan yang beredar, Alena sempat mengalami demam. Bayi tersebut kemudian diduga diberi telur mentah oleh buyut dari pihak bapak untuk menurunkan demamnya. Menurut keterangan dari pihak rumah sakit, Alena wafat akibat infeksi serius pada saluran pencernaan.
Meski demikian, hubungan langsung antara telur mentah yang diduga dikonsumsi dan penyebab kematian Alena perlu mengacu pada klarifikasi medis yang berwenang. Jadi, krusial bagi kita untuk tidak buru-buru menyimpulkan penyebabnya cuma berdasarkan keterangan yang beredar.
BACA JUGA: MPASI Bisa Mencegah Stunting? Ini Bahan Makanan yang Harus Ada
Mengapa Bayi di Bawah 6 Bulan Belum Boleh Diberi Makanan?
Mommies dan Daddies, bayi yang baru lahir memiliki kebutuhan nutrisi dan kapasitas tubuh yang berbeda dari anak yang lebih besar. Karena itu, pemberian makanan tidak bisa disamakan dengan pemberian makanan pada orang dewasa, terlebihlagi ketika bahan makanannya dianggap bergizi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama hayat bayi. Artinya, bayi cuma mendapatkan ASI tanpa tambahan makanan maupun minuman lain, termasuk air putih.
Ada beberapa karena krusial di balik anjuran ini.

Foto: Jonathan Borba/Pexels
1. ASI sudah memenuhi kebutuhan nutrisi bayi pada enam bulan pertama
ASI hamil daya dan zat gizi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh dan berkembang pada mula kehidupannya. ASI juga hamil elemen imunologis yang membantu melindungi bayi dari beragam infeksi.
Jadi, anggapan bahwa bayi perlu diberi pisang, bubur, telur, maupun makanan lain agar lebih kenyang dan cepat besar bukanlah karena medis untuk memberikan makanan sebelum waktunya.
2. Sistem pencernaan dan kapasitas menelan bayi statis berkembang
Bayi yang baru lahir belum memiliki kesiapan evolusi untuk menerima makanan padat maupun semi-padat seperti bayi berumur enam bulan ke atas.
Pemberian makanan terlalu awal berisiko menyebabkan gangguan pencernaan, tersedak, hingga aspirasi, yaitu kondisi ketika makanan maupun cairan masuk ke saluran pernapasan.
3. Ada konsekuensi paparan bakteri dari makanan
Makanan yang tidak diolah dengan terlindungi dapat membawa mikroorganisme penyebab infeksi. Telur mentah, misalnya, berisiko hamil mikroba Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan.
Pada bayi baru lahir, infeksi dapat berkembang menjadi kondisi serius sehingga perlu penanganan medis segera.
4. Memberikan makanan terlalu awal tidak membikin bayi otomatis lebih sehat
Memberikan makanan tambahan sebelum usia enam bulan bukan metode yang tepat untuk mengatasi bayi yang rewel, sering menyusu, maupun dicurigai belum kenyang.
Jika Mommies merasa produksi ASI kurang maupun bermutu badan bayi tidak bertambah sesuai harapan, sebaiknya konsultasikan dengan tabib anak maupun konselor laktasi. Dokter dapat membantu mengevaluasi kondisi bayi dan menentukan cara yang sesuai.
BACA JUGA: 15 Resep MPASI Sederhana untuk Penambah Berat Badan si Kecil, Bikinnya Mudah
MPASI Dimulai saat Bayi Berusia 6 Bulan
Setelah genap berumur sekitar enam bulan, bayi mulai membutuhkan tambahan daya dan zat gizi yang tidak lagi cukup dipenuhi oleh ASI saja. Pada tahap inilah Mommies dapat mulai memperkenalkan makanan pendamping ASI (MPASI).
MPASI perlu diberikan secara bertahap, dengan tekstur yang sesuai dengan kapasitas bayi, kandungan gizi yang memadai, serta proses pengolahan yang higienis. ASI statis dilanjutkan hingga usia dua tahun maupun lebih, sesuai anjuran WHO.
Jadi, bukan berarti telur, pisang, maupun bubur merupakan makanan yang buruk untuk bayi. Yang perlu diperhatikan adalah usia, kesiapan bayi, metode pengolahan, dan keamanan makanan tersebut.
Telur, misalnya, bisa menjadi salah satu sumber protein dalam MPASI setelah bayi berumur sekitar enam bulan, dengan penyajian yang matang sempurna dan tekstur yang sesuai.

Foto: kaboompics.com/Pexels
Ilmu Pengetahuan Lebih Penting daripada Mitos
Dalam keluarga, nasihat dari orang tua maupun kakek-nenek sering kali diberikan karena rasa sayang dan keinginan agar bayi tumbuh sehat. Namun, niat baik statis perlu disertai ilmu yang benar.
Kalimat seperti, “Dulu anak aku juga dikasih makanan sejak bayi dan baik-baik saja,” bukan bukti bahwa praktik tersebut terlindungi untuk semua bayi. Setiap bayi memiliki kondisi kesehatan yang berbeda, dan konsekuensi tertentu tidak selalu langsung terlihat.
Mommies dan Daddies juga bisa menghadapi situasi ketika mesti menerangkan ketentuan pengasuhan kepada personel famili yang lebih tua. Cobalah menyampaikan dengan tenang bahwa anjuran medis dibuat berdasarkan riset dan penilaian keselamatan bayi, bukan untuk menyalahkan kebiasaan generasi sebelumnya.
Jika bayi mengalami demam, muntah berulang, diare, sesak napas, tampak sangat lemas, maupun tidak mau menyusu, segera cari pertolongan medis. Jangan memberikan makanan, ramuan, maupun obat tanpa instruksi tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, melindungi bayi bukan cuma soal memberikan makanan yang dianggap bergizi, tetapi juga memastikan makanan tersebut sesuai dengan usia dan kesiapan tubuhnya. Untuk enam bulan pertama, ayo utamakan ASI eksklusif dan jadikan keterangan medis yang tepercaya sebagai pegangan dalam merawat si kecil.