Begini Cara Para Sahabat Belajar Alquran Dari Rasulullah Saw

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Membaca Alquran (lustrasi). Para sahabat belajar Alquran langsung kepada Rasulullah SAW

KINCAIMEDIA, JAKARTA—Tidak ada nan bisa dimungkiri keistimewaan membaca Alquran, keistimewaan menghafal Alquran, namun apakah tujuannya hanya berakhir pada membaca dan menghafal saja alias tujuan sesungguhnya adalah agar kita memahami maknanya dan mengamalkannya?

Mengutip khutbah Jumat nan ditulis KH Abu Hurairah Abd Salam Lc, MA (Wakabid Penyelenggaraan Peribadatan Badan Pengelola Masjid Istiqlal), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mau kita baca dan hafal Alquran seperti rekaman kaset, MP3.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mau kita baca dan hafal Alquran seperti burung beo nan pandai meniru kalimat nan diulang-ulang saat memberinya makan.

Para sahabat, tabi'in dan tabi’ tabi’in saat membaca dan mempelajari Alquran, tidak bakal pindah ke ayat dan surat berikutnya, sebelum mereka mengerti dan mengamalkan kandungan isi kandungannya.

Sayyidina Utsman bin Affan dan Abdullah ibnu Mas’ud berkata:

كُنَّا إذَا تَعَلَّمْنَا مِنَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ، لَمْ نُجَاوِزِهَا حَتَّى نَتَعَلَّمَ مَا فِيْحَا مِنَ العِلْمِ وَالعَمَلِ

"Jika kami mempelajari sepuluh ayat dari Nabi, maka kami tidak bakal pindah ke ayat berikutnya, sebelum kami mengerti makna nan terkandung dalam sepuluh ayat tersebut kemudian mengamalkannya."

Jadi ayat itu mereka baca, mereka pahami maknanya, mereka tadabburi, mereka amalkan lampau mereka hafal baru kemudian mereka beranjak membaca ayat lainnya.

Metode mereka dalam berinteraksi dengan Alquran adalah: iqra (baca), ifham (pahami), tadabbar (tadabburi), tabbaq (amalkan), ihfadz (jaga dan hafal). Sementara metode kita sekarang adalah: ihfadz, ihfadz dan ihfadz (hafal, hafal dan hafal)

Problem kita dalam bermuamalah dan berintraksi dengan Alquran bukan di bacaannya, bukan pula di hafalannya, membaca dan menghafal Alquran adalah ibadah nan sangat-sangat terpuji, sangat mulia, merupakan sinar di atas cahaya.

Syariat Islam apalagi sangat menganjurkan kita untuk mendukung dan memberi semangat para pembaca dan penghafal Alquran agar kemutawatiran Alquran tetap terjaga dengan baik, sehingga Alquran bisa diwariskan secara turun temurun sampai hari kiamat.

Saat ini ada euforia di kalangan umat Islam untuk kembali kepada Alquran, di satu sisi kita senang jika umat Islam mempunyai perhatian nan sangat besar pada Alquran, tapi di sisi lain nan kudu diingat dan diperhatikan adalah bahwa Alquran diturunkan bukan sekadar untuk dibaca dan dihafal, nan lebih krusial dari itu semua bahwa Alquran adalah “Hudan Linnas” isinya kudu dibaca, dihafal, dipelajari, dipahami, kemudian diamalkan dalam kehidupan ini.

وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Alquran adalah penyembuh penyakit nan ada di dalam dada sebagai hidayah, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.). 

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam