Setiap insan yang beragama tentu meyakini bahwa kehidupan bumi ini bukanlah tujuan akhir. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, tempat manusia diuji dengan ketaatan dan kesabaran sebelum menuju tempat kembali yang abadi: surga alias neraka. Dua tempat ini bukan sekadar kisah simbolik, melainkan realita yang pasti terjadi, sebagaimana diberitakan dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Dengan memahami gambaran surga dan neraka sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan sunnah, seorang mukmin bakal terdorong untuk berlomba dalam ketaatan dan menjauh dari maksiat. Ia tidak lagi tertipu oleh gemerlap dunia, lantaran dia menyadari bahwa di kembali kehidupan fana ini, ada jawaban kekal yang menanti setiap kebaikan perbuatan dan mobilitas geriknya.
Gambaran surga
Tentu saja gambaran surga tidak bakal terlepas dari segala kenikmatannya yang tiada tara sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam sabda qudsi,
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ
“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku siapkan bagi para hamba-Ku yang saleh (kenikmatan) yang tidak pernah mereka lihat, tidak pernah terdengar sebelumnya oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam akal manusia.” (HR. Bukhari no. 4779 dan Muslim no. 2824)
Berikut ini adalah beberapa gambaran singkat mengenai surga dan beragam kenikmatan di dalamnya yang telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala dan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:
Penghuni surga bakal mempunyai paras yang tampan alias elok jelita dan tidak pernah menua
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً لَا يَبُولُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ وَلَا يَتْفِلُونَ وَلَا يَمْتَخِطُونَ أَمْشَاطُهُمْ الذَّهَبُ وَرَشْحُهُمْ الْمِسْكُ وَمَجَامِرُهُمْ الْأَلُوَّةُ الْأَنْجُوجُ عُودُ الطِّيبِ وَأَزْوَاجُهُمْ الْحُورُ الْعِينُ عَلَى خَلْقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلَى صُورَةِ أَبِيهِمْ آدَمَ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي السَّمَاءِ
“Sesungguhnya golongan pertama yang bakal masuk surga adalah orang-orang yang wajahnya ibaratkan rembulan di malam purnama. Kemudian yang setelahnya, ibaratkan bintang di atas langit yang sangat terang cahayanya, mereka tidak pernah buang rencana dan air kecil, tidak buang ingus dan ludah. Sisir yang mereka pakai terbuat dari emas, keringat yang keluar dari tubuhnya seperti misk, sanggulnya berupa kayu gaharu, istri-istri mereka adalah bidadari, mereka diciptakan di atas satu orang, dengan paras bapak mereka Adam, sepanjang enam puluh dira’ menjulang ke langit.“ (HR Bukhari no. 3245 dan Muslim no. 2834)
Ketampanan alias kecantikan penunggu surga selalu diperbarui setiap hari dengan angin sepoi-sepoi yang berembus ke arah mereka. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إنَّ في الجَنَّةِ لَسُوقًا، يَأْتُونَها كُلَّ جُمُعَةٍ، فَتَهُبُّ رِيحُ الشَّمالِ فَتَحْثُو في وُجُوهِهِمْ وثِيابِهِمْ، فَيَزْدادُونَ حُسْنًا وجَمالًا، فَيَرْجِعُونَ إلى أهْلِيهِمْ وقَدِ ازْدادُوا حُسْنًا وجَمالًا، فيَقولُ لهمْ أهْلُوهُمْ: واللَّهِ لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنا حُسْنًا وجَمالًا، فيَقولونَ: وأَنْتُمْ، واللَّهِ لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنا حُسْنًا وجَمالًا
“Sesungguhnya di surga terdapat pasar yang mereka datangi setiap Jumat. Angin utara berembus ke wajah dan busana mereka sehingga mereka bertambah elok dan tampan. Ketika mereka kembali kepada family mereka, mereka telah bertambah elok dan tampan. Keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, kalian telah bertambah elok dan tampan sepeninggal kami.’ Mereka menjawab, ‘Demi Allah, kalian juga telah bertambah elok dan tampan.'” (HR. Muslim no. 2833)
Seluruhnya adalah keabadian
Para penunggu surga bakal kekal di dalamnya selama-lamanya dengan segala kenikmatannya yang abadi. Allah Ta’ala berfirman,
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 89)
Segala perihal yang diinginkan hati tersedia, penghuninya bebas memilih sesuai selera dan kehendaknya
Allah Ta’ala berfirman,
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan Anda kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)
Di antaranya ada beragam jenis buah-buahan dan daging burung. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ , وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ
“Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al-Waqi’ah: 20-21)
Terdapat juga segala jenis minuman, di antaranya adalah sungai dan lautan dengan empat rasa: air susu, madu, khamr, dan air segar. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an,
مَّثَلُ ٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى وُعِدَ ٱلْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَآ أَنْهَٰرٌ مِّن مَّآءٍ غَيْرِ ءَاسِنٍ وَأَنْهَٰرٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُۥ وَأَنْهَٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّٰرِبِينَ وَأَنْهَٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۖ
“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa adalah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari arak yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring.” (QS. Muhammad: 15)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
إنَّ في الجنَّةِ بحرَ الماءِ ، وبحرَ الخمرِ ، وبحرَ العسَلِ ، وبحرَ اللَّبنِ ، ثمَّ تشقَّقُ بعدُ منهُ الأنهارُ
“Sesungguhnya di surga ada lautan air, lautan khamr, lautan madu, dan lautan susu. Kemudian sungai-sungai bakal mengalir darinya.” (HR. Tirmidzi no. 2571 dan Ahmad no. 20052)
Bidadari dan istri-istri yang suci
Allah Ta’ala telah berbincang mengenai perihal ini dalam firman-Nya,
وَحُورٌ عِين # كَأَمۡثَٰلِ ٱللُّؤۡلُوِٕ ٱلۡمَكۡنُونِ
“Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan apik.” (QS. Al-Waqi’ah: 22-23)
Allah Ta’ala menjelaskan sifat bidadari yang lainnya,
إِنَّآ أَنشَأۡنَٰهُنَّ إِنشَآءا # فَجَعَلۡنَٰهُنَّ أَبۡكَارًا # عُرُبًا أَتۡرَابا
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) tanpa proses melahirkan. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al-Waaqi’ah: 35-37)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bercerita,
وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْهُ رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Kalau seandainya wanita masyarakat surga melongokkan kepalanya ke dunia, tentu cahayanya bakal menerangi langit dan bumi, serta menyebarkan aroma wangi ke seluruh sudutnya. Dan sungguh penutup kepala yang dipakai (bidadari) itu lebih baik dari bumi dan seisinya.“ (HR. Bukhari no. 2796)
Melihat wajah Allah
Melihat wajah Sang Pencipta merupakan puncak dari segala corak kenikmatan, perihal ini Allah khususkan bagi para penunggu surga, sebagai corak pemuliaan kepada mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah sabda sahih yang diriwayatkan dari sahabat Shuhaib Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ – قَالَ – يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ – قَالَ – فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ثم تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ { لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ }
“Apabila masyarakat surga telah masuk ke dalamnya, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berkata, ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu yang Aku tambah lagi bagi kalian?’ Mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah menjadikan wajah kami putih berkilau? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga serta menyelamatkan kami dari neraka?’ Nabi meneruskan, ‘Pada saat itu, Allah membuka tabir yang menutupi-Nya. Dan tidak ada yang diberikan kepada mereka sesuatu yang paling mereka cintai melainkan diberinya kenikmatan bisa memandang Rabbnya.’ Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Bagi orang-orang yang melakukan baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan (kenikmatan memandang Allah).” (QS. Yunus: 26). (HR. Muslim no. 181)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ # إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)
Baca juga: Empat Kunci Masuk Surga
Gambaran neraka
Sebaliknya, gambaran neraka tidak jauh dari segala azabnya yang sangat-sangat mengerikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا قَالَ فَمَا أَتَى عَلَى أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمٌ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ غَطَّوْا رُءُوْسَهُمْ وَلَهُمْ خَنِيْنٌ
“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka saya tidak memandang tentang kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya Anda mengetahui apa yang saya ketahui, Anda betul-betul bakal sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR Muslim no. 2359)
Berikut adalah beberapa gambaran kengerian neraka:
Penghuninya bakal menjadi bahan bakar api neraka
Allah Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Disebutkan dalam sebuah hadis, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan komparasi untuk menjelaskan sungguh panasnya api neraka. Beliau bersabda,
نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ
“Api yang dipergunakan untuk memasak oleh anak cucu Adam, panasnya hanyalah bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya neraka Jahanam.“ (HR. Bukhari no. 3265 dan Muslim no. 2843)
Makanan dan minuman masyarakat neraka sangatlah menjijikkan
Disebutkan beberapa makanan mereka, di antaranya adalah pohon dhari’, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
لَّيۡسَ لَهُمۡ طَعَامٌ إِلَّا مِن ضَرِيع
“Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri.” (QS. Al-Ghasyiyah: 6)
Dhari’ adalah sejenis pohon yang mempunyai duri besar, yang rasanya sangat pahit dan sangat panas lagi berbau busuk.
Allah Ta’ala juga berfirman,
إِنَّ شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ * طَعَامُ الْاَثِيْمِ * كَالْمُهْلِ ۛ يَغْلِيْ فِى الْبُطُوْنِۙ * كَغَلْيِ الْحَمِيْمِ
“Sesungguhnya pohon zaqqum itu (adalah) makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut. Seperti mendidihnya air yang banget panas.“ (QS. Ad-Dukhan: 43-46)
Dan tetap banyak lagi dalil dalil yang menjelaskan makanan menjijikkan lainnya bagi penunggu neraka.
Allah Ta’ala berfirman menggambarkan minuman masyarakat neraka,
وَسُقُوا مَاءً حَمِيماً فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ
“…dan mereka diberi minum air yang mendidih sehingga memotong usus mereka.” (QS. Muhammad: 15)
Nanah dan darah juga menjadi minuman mereka. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنۡ غِسۡلِين
“Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) selain dari darah dan nanah.” (QS. Al-Haqqah: 36)
Adapula cairan tembaga yang mendidih yang menjadi minuman mereka. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقاً
“Dan jika mereka meminta pertolongan, mereka bakal diberi pertolongan dengan air seperti cairan tembaga yang mendidih yang membakar wajah. Itulah minuman yang paling jelek dan tempat rehat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi: 29)
Azab yang perih dan bertingkat-tingkat
Sebagaimana di surga, jawaban di neraka bakal sesuai dengan amalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berfirman tentang penunggu neraka,
مِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى حُجْزَتِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى تَرْقُوَتِهِ
“Di antara para penunggu neraka, ada yang disiksa dengan tenggelam dalam api sampai mata kakinya, ada yang sampai ke lututnya, ada lagi yang sampai ke pusar, dan ada yang tenggelam sampai ke lehernya.“ (HR. Muslim no. 2845)
Sedangkan balasan neraka yang paling ringan adalah dengan diletakkan bara api pada telapak kaki penghuninya hingga mendidihlah otaknya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
إنَّ أهْوَنَ أهْلِ النَّارِ عَذابًا يَومَ القِيامَةِ، لَرَجُلٌ تُوضَعُ في أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَةٌ، يَغْلِي مِنْها دِماغُهُ
“Sesungguhnya orang yang paling ringan azabnya di neraka pada hari hariakhir adalah seseorang yang diletakkan bara api di telapak kakinya sehingga otaknya mendidih.” (HR. Bukhari no. 6561 dan Muslim no. 213)
Waliyadzubillah.
Penutup
Setelah kita merenungi dahsyatnya balasan neraka dan indahnya kenikmatan surga, sudah sepantasnya hati ini tergerak untuk bertobat, memperbanyak kebaikan saleh, dan memperkuat iman. Surga bukanlah tempat bagi orang yang hanya berambisi tanpa usaha, dan neraka bukanlah takdir yang tak dapat dihindari bagi mereka yang bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah Anda kepada pembebasan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Āli ‘Imrān: 133)
Jadikan surga sebagai cita-cita tertinggi dan jadikan takut kepada neraka sebagai pengingat agar langkah kita tidak menyimpang. Semoga Allah Ta’ala meneguhkan hati kita di atas ketaatan, melindungi kita dari bujukan bumi yang menipu, dan mengumpulkan kita kelak di dalam surga-Nya. Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.
Baca juga: Empat Permohonan Penduduk Neraka
***
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·