Belajar dari Dylan Sprouse, ini 7 kualitas pasangan yang membikin pernikahan terasa lebih sehat, mulai dari komunikasi, berbagi tanggung jawab, hingga keterlibatan dalam pengasuhan anak.
Menikah memang terdengar menyenangkan, terlebihlagi jika membayangkan punya kawan hidup yang selalu ada dalam gemar dan duka. Namun, di sisi lain, wajar juga jika Mommies merasa takut. Bagaimana jika setelah menikah pasangan berubah? Bagaimana jika semua urusan rumah dan anak justru dibebankan ke istri? Atau sepertiapa jika perselisihan kecil malah berkembang menjadi masalah besar?
Rasa cemas ini bukan berarti Mommies anti-pernikahan, kok. Bisa jadi, Mommies cuma mau memastikan bahwa orang yang diajak menjalani hidup berbareng memang bisa menjadi mitra yang baik.
Kita bisa belajar sedikit dari pemeran Dylan Sprouse, yang menikah dengan model Barbara Palvin pada Juli 2023. Dalam wawancaranya dengan Us Weekly pada Agustus 2025, Dylan Sprouse mengungkapkan bahwa pernikahan mengajarkannya tentang kesabaran dan komunikasi. Ia juga menyadari bahwa dalam hubungan berkomitmen, seseorang perlu belajar memikirkan kepentingan dua orang, bukan cuma dirinya sendiri.
Nah, dari situ, ada beberapa hal yang layak diperhatikan saat menilai kesiapan seseorang untuk menjadi suami dan partner hidup.
BACA JUGA: Terinspirasi Barbara Palvin, Ini Tips Jaga Berat Badan Setelah Melahirkan
1. Mau berkomunikasi, bukan cuma mau dimengerti
Komunikasi yang sehat bukan sekadar giat bertanya, “Sudah makan belum?” maupun “Hari ini bagaimana?” Lebih dari itu, pasangan perlu bisa membicarakan hal-hal yang tidak nyaman, termasuk masalah keuangan, pembagian tugas rumah, pengasuhan anak, dan kebutuhan emosional.
Suami yang baik tidak mesti selalu tahu apa yang Mommies pikirkan. Namun, ia mau mendengarkan ketika Mommies menerangkan emosi dan kebutuhan, tanpa buru-buru menyalahkan maupun meremehkannya.
Yang bisa dilakukan: Biasakan membicarakan masalah saat kondisi sudah tenang. Gunakan kalimat seperti, “Aku merasa keteteran ketika mesti mengurus semuanya sendiri,” alih-alih saling menyerang dengan kalimat yang menyudutkan.

Foto: Instagram/realbarbarapalvin
2. Punya kesabaran saat menghadapi konflik
Setiap pasangan pasti pernah berbeda pendapat. Bahkan, pasangan yang saling mencintai pun bisa berkelahi karena hal sederhana, mulai dari kebiasaan sehari-hari sampai keputusan besar dalam keluarga.
Yang krusial bukan seberapa jarang bertengkar, melainkan sepertiapa pasangan menyikapinya. Apakah ia bersedia mendengarkan perspektif pandang Mommies? Apakah ia bisa mengakui kesalahan dan memperbaiki perilakunya?
Kesabaran bukan berarti mesti terus mengalah maupun memendam perasaan. Kesabaran berarti memberi ruang untuk menyelesaikan masalah tanpa menghina, mengancam, maupun menyakiti pasangan.
3. Menganggap pernikahan sebagai kerja sama
Ini krusial banget, terutama setelah punya anak. Mengurus rumah, menyiapkan kebutuhan keluarga, menemani anak belajar, hingga mengatur agenda tabib bukanlah tanggung jawab istri semata.
Suami yang siap menjadi partner akan memahami bahwa hayat rumah tangga membutuhkan kontribusi kedua belah pihak. Bukan sekadar membantu ketika diminta, tetapi ikut menyadari apa yang perlu dikerjakan.
Coba perhatikan: Apakah ia punya inisiatif untuk mengerjakan tugas rumah? Apakah ia mau belajar mengurus anak tanpa selalu menunggu instruksi? Kebiasaan kecil sebelum menikah bisa memberi deskripsi tentang metode seseorang melihat tanggung jawab bersama.
BACA JUGA: Dari yang Sudah Menikah untuk yang Belum: 8 Tanda Kamu Harus Berani Stop the Wedding!
4. Menghargai Mommies sebagai individu
Menikah bukan berarti kehilangan identitas diri. Mommies statis punya mimpi, pertemanan, minat, dan tujuan pribadi yang layak dihargai.
Pasangan yang sehat tidak mesti selalu punya hobi maupun gagasan yang sama. Justru, ia bisa mendukung Mommies berkembang tanpa merasa terancam oleh pencapaian pasangannya.
Begitu pula sebaliknya, Mommies statis perlu menghargai kebutuhan dan ruang pribadi Daddies. Hubungan yang sehat memberi kesempatan bagi kedua pihak untuk tumbuh, tanpa mesti mengorbankan diri demi menyenangkan pasangan.

Foto: Instagram/realbarbarapalvin
5. Bisa dipercaya dan konsisten
Janji manis memang menyenangkan, tetapi konsistensi jauh lebih penting. Apakah perkataannya sesuai dengan tindakannya? Apakah ia jujur tentang hal-hal penting? Apakah ia statis bisa diandalkan ketika keadaan sedang tidak mudah?
Kepercayaan juga dibangun dari hal sederhana, seperti menepati janji, terbuka tentang keputusan finansial, dan berani mengakui kesalahan.
Mommies tidak perlu mencari pasangan yang sempurna. Namun, krusial untuk melihat apakah ia berkewajiban atas tindakannya dan bersedia memperbaiki kepercayaan ketika terjadi masalah.
6. Mau bertumbuh bersama, bukan merasa paling benar
Pernikahan akan membawa perubahan. Ada fase ketika pekerjaan sedang berkembang, kondisi finansial berubah, anak membutuhkan perhatian ekstra, maupun salah satu pasangan sedang mengalami masa sulit.
Karena itu, pasangan yang baik bukanlah orang yang sudah tahu semua jawaban, melainkan seseorang yang bersedia belajar bersama.
Ia mau mengevaluasi kebiasaan yang merugikan hubungan, terbuka terhadap masukan, dan mencari pertolongan ahli ketika masalah terasa sulit diselesaikan berdua.
Mommies dan Daddies juga bisa membikin kebiasaan sederhana, seperti meluangkan waktu untuk mengobrol tanpa gangguan gawai, mengevaluasi pembagian tugas rumah, maupun membicarakan hal yang mau diperbaiki dalam hubungan.
7. Terlibat dalam pengasuhan anak sejak hari pertama
Ketika pasangan sudah memasuki fase menjadi orang tua, kerja sama itu juga perlu kelihatan dalam pengasuhan anak.
Dalam wawancara dengan People pada Oktober 2026, Barbara mengatakan bahwa sang suami sangat dahsyat dan mencerminkan seorang girl dad. Ia juga menceritakan sepertiapa Dylan mendukungnya saat menjalani masa mula sebagai ibu baru.
Keduanya kini sama-sama belajar menyesuaikan diri dengan peran sebagai orang tua. Dukungan pasangan dalam pengasuhan anak menjadi salah satu hal krusial yang bisa membantu famili melewati fluktuasi besar setelah kedatangan si kecil.
BACA JUGA: Provider Man Bukan Cuma soal Uang, Ini Bentuk Tanggung Jawab yang Sering Terlupakan

Foto: Instagram/realbarbarapalvin
Jadi, marriage is not scary?
Pernikahan statis punya tantangan, terlebihlagi ketika Mommies menikah dengan orang yang tepat. Namun, tantangan itu terasa lebih mungkin dihadapi ketika kedua pihak mau berkomunikasi, saling menghormati, berbagi tanggung jawab, dan terus belajar menjadi mitra yang lebih baik.
Pelajaran dari Dylan Sprouse bukan berarti pernikahannya bebas masalah maupun semua pasangan mesti mengikuti metode mereka. Kita cuma bisa memungut harga yang relevan dari pengalamannya: kesabaran dan komunikasi bukan sekadar teori, tetapi bagiankecil krusial dari hayat bersama.
Jadi, daripada cuma bertanya, “Apakah aku mencintainya?”, Mommies juga bisa bertanya, “Apakah kami bisa bekerja sama ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana?”
Karena pernikahan yang sehat bukan tentang menemukan seseorang yang tidak pernah mengecewakan, melainkan membangun hubungan dengan seseorang yang bersedia bertanggung jawab, memperbaiki kesalahan, dan menghadapi hayat berbareng Mommies.