“beragama Itu Yang Biasa-biasa Saja”

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Salah satu ucapan nan sering terdengar ketika sedang membahas topik kepercayaan adalah “beragama itu biasa saja”, “beragama nan normal saja”, “beragama sesuai tabiat manusia”, dan lain sebagainya. Seringkali, ucapan seperti ini terlontar untuk menjustifikasi alias menganggap betul suatu perbuatan, alias mencela suatu perilaku dan menjelaskan letak kekeliruannya.

Untuk itu, mari kita bedah ucapan ini dan kita tinjau ulang konsep berakidah secara biasa ini.

Apa maksud dari konsep berakidah secara biasa?

Meski ucapan seperti ini sering terdengar, tetapi nyaris tidak pernah bisa kita dapati ada nan dapat menjelaskan maksudnya. Sehingga, atas dasar apa sesuatu itu disebut sebagai perilaku berakidah biasa? Atau suatu perilaku keluar dari standar berakidah biasa?

Terlebih, jika ucapan tersebut menjadi suatu patokan alias norma menilai suatu perbuatan. Sehingga, ucapan itu bukan sekadar kata-kata alias istilah, tetapi berubah menjadi standar nan digunakan masyarakat untuk menghakimi suatu hal. Orang-orang pun dapat menolak, menerima, menyukai, dan memperbolehkan sesuatu berasas sifat “biasa”, “normal”, dan “sesuai tabiat manusia”. Maka, sebelum kita menjadikan ucapan semacam itu sebagai sebuah dalil pembenaran, mari berpikir sejenak, “Dasar apa nan dipakai untuk menilai sesuatu itu biasa, normal, sesuai tabiat manusia?”

Sayangnya, pertanyaan demikian tidak pernah terlintas di akal “mereka” nan biasa menggunakannya. Padahal, ucapan semacam itu sering digunakan untuk menganggap betul suatu opini alias perilaku dan menolak perintah agama. Hal seperti ini merupakan suatu corak ketidakilmiahan dalam bersikap. Alih-alih menelusuri ucapan-ucapan semacam itu, lampau dia kajian dan kembalikan kepada norma dan usul syariat, malah ucapan itulah nan menjadi norma untuk menghakimi norma dan usul syariat.

Kemungkinan maksud “beragama secara biasa”

Jika dikatakan pola berakidah tertentu adalah biasa alias normal, bisa jadi maknanya berakidah nan pertengahan, tidak berlebihan dan tidak menambah-nambah norma syariat. Normal, biasa, dan sesuai fitrah manusia. Maknanya, dia sesuai dengan dalil-dalil syariat, tidak terpengaruh faktor-faktor baru nan melenceng dari agama. Sehingga, maksud pengucap adalah membedakan antara berakidah nan terpengaruh dengan aspek tertentu dan berakidah nan sesungguhnya, ialah nan sesuai hukum dan bebas dari pengaruh eksternal. nan demikian, berfaedah maksud pengucap adalah kembali ke berakidah nan sesuai syariat.

Berdasarkan maksud tersebut, maka berakidah secara biasa dan normal hakikatnya adalah berakidah mengikuti hukum dan tidak menyelisihi norma syariat.

Jika maksudnya demikian, maka itu adalah maksud nan sangat bagus. Sebab, berisi penekanan terhadap norma manhaj nan sangat penting, ialah kembali kepada dalil-dalil di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ.

Hanya saja, ada suatu keganjilan dalam penamaan istilah berakidah secara biasa, normal, dan sesuai tabiat manusia. Sebab, penamaan tersebut mempunyai ambiguitas dan kerancuan makna. Sehingga, perihal nan perlu diperhatikan betul di sini adalah penekanan bahwasanya wajib bagi nan menggunakan istilah seperti ini agar menjadikan kritik nan dia tujukan kepada suatu pemikiran alias suatu pendapat nan dibangun di atas status pemikiran alias pendapat itu, apakah menyelisihi hukum alias tidak; dan juga dia kudu mempunyai niat nan tulus untuk membujuk manusia kembali ke hukum kepercayaan Islam.

Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam ini

Agar seseorang tepat dalam menggunakan istilah semacam ini, maka kudu memperhatikan dua perihal ini:

Pertama: Orang nan mengucapkan kudu betul-betul memastikan ajakannya adalah betul-betul bagian dari syariat

Sehingga, dia tidak memberikan ilusi seolah dia membujuk kepada syariat, padahal bukan dari syariat. Sehingga, dia memasukkan unsur-unsur adat, budaya, alias bangunan sosial ke dalam agama, dengan sangkaan hal-hal tersebut bagian dari agama. Namun, perihal ini bukan berfaedah budaya alias kebiasaan disingkirkan secara mutlak. Akan tetapi, tidak dibenarkan seseorang mengangkatnya ke level norma syariat, lampau dia ajak orang lain melakukan budaya itu, lantaran menganggapnya bagian dari norma hukum Islam.

Kedua: Orang nan mengucapkan tidak membujuk kepada perihal nan menyelisihi hukum dengan klaim berakidah secara biasa

Jika rayuan berakidah secara biasa menyelisihi hukum alias menolak sesuatu nan diperintahkan syariat, maka tidak boleh menyatakan berakidah secara biasa dengan maksud berakidah mengikuti syariat. Karena, hakikatnya dia membujuk orang lain melakukan sesuatu nan menyelisihi syariat. Contoh: Beberapa orang menolak alias menganggap enteng tanggungjawab mengenakan hijab, menjaga salat lima waktu di masjid, dan menjaga amalan-amalan sunah dengan klaim hal-hal itu terlalu ekstrem dan berlebihan. Sebab, bagi dia “beragama itu nan biasa-biasa saja.” Jika seperti itu, maka klaim berakidah nan biasa hakikatnya adalah bermaksiat kepada Allah Ta’ala.

Dengan memahami dua perihal di atas, kita bakal memahami celah kekeliruan dari ucapan-ucapan semacam itu. Sebab, bagi pengucapnya, memenuhi hal-hal nan wajib dan menjauhi hal-hal nan haram adalah tanda-tanda berakidah nan fanatik, berlebihan, alias ekstrim. Kemudian, andaikan kita dakwahi si empunya ucapan, dia mengelak, “Jadi orang jangan baper, santuy aja ngomongin urusan begini.”

Baca juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu nan Angkuh dan Sombong

Sebab kemunculan ucapan semacam ini

Pola pikir semacam ini muncul ketika berakidah secara biasa ala mereka didasari hal-hal nan biasa mereka lakukan alias perilaku-perilaku nan tersebar di masyarakat. Maka, andaikan seseorang terbiasa bertransaksi ribawi, menganggap enteng menutup aurat, terlalu “toleran” dalam masalah menundukkan pandangan, bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan musuh jenis, mendengarkan musik, maka standar normal bagi dia tidaklah patut dinormalisasi. Kita kudu tetap menganggap hal-hal tersebut sebagai perihal nan serius. Sebab, norma Allah tidak mengalami pembaruan. Tidak pula menghalalkan nan haram hanya lantaran argumen sudah menjadi budaya nan tersebar. Demikianlah, Allah Ta’ala sudah memperingatkan,

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika Anda mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka bakal menyesatkanmu dari jalan Allah. nan mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membikin kebohongan.” (QS. Al-An‘ām: 116)

Sehingga, menganggap suatu pola berakidah tertentu sebagai berlebihan lantaran menyelisihi kebiasaan masyarakat adalah dugaan nan keliru. Sebab, Allah sendirilah nan telah memberi tahu bahwa kebanyakan manusia di muka bumi tidak berada di atas kebenaran.

Imam Malik rahimahullah juga pernah berbicara ketika menjelaskan standar kebenaran, mana nan harusnya menjadi patokan,

كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ إِلا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ ﷺ

“Setiap orang ucapannya dapat diterima alias ditolak, selain pemilik kubur ini (yaitu Rasulullah).” [1]

Di dalam Ensiklopedia Akidah (Al-Mawsū‘ah Al-‘Aqā’idiyyah) dorar.net, juga dijelaskan bahwa salah satu norma dalam mengetahui kebenaran adalah

الحقُّ ما وافق الدَّليلَ من غيرِ التفاتٍ إلى كثرةِ المُقبِلينَ، أو قِلَّة المعرِضينَ؛ فالحَقُّ لا يوزَن بالرِّجالِ، وإنَّما يوزَن الرِّجالُ بالحَقِّ، ومجرَّدُ نُفورِ النَّافِرينَ، أو محبَّةُ الموافِقينَ لا يدُلُّ على صِحَّةِ قَولٍ أو فسادِه.

“Kebenaran dinilai berasas kesesuaiannya dengan dalil, bukan banyaknya orang nan menerima alias sedikitnya orang nan menolak. Sebab, kebenaran tidak ditimbang berasas opini seseorang. Akan tetapi, opini seseorang nan perlu ditimbang dengan kebenaran. Ketiadaan orang nan menerima kebenaran alias cintanya orang-orang “munafik” terhadap suatu hal, tidak membikin suatu ucapan menjadi betul alias salah.” [2]

Kesimpulan

Jangan sampai kita menjadikan hawa nafsu kita sebagai injakan dalam menilai suatu perbuatan. Sehingga, sesuatu nan memang bagian dari aliran Islam disebut ekstrem alias berlebihan. Apalagi, jika ucapan tersebut terlontar ketika memandang kawan alias saudaranya mulai berhijrah memperbaiki dirinya dengan menjalankan hukum Islam dan mempelajari kepercayaan dengan serius. Kepada orang-orang demikian, kami katakan sebagaimana nan Allah firmankan,

أَفَنَجْعَلُ ٱلْمُسْلِمِينَ كَٱلْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ أَمْ لَكُمْ كِتَـٰبٌۭ فِيهِ تَدْرُسُونَ إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ

“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang (menjalankan syariat) Islam itu seperti orang-orang berdosa? Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian membikin keputusan? Atau apakah kalian mempunyai kitab nan kalian baca? Sehingga kalian bisa mempunyai apa pun nan kalian pilih?” (QS. Al-Qalam: 35-38)

Sehingga, sikap nan tepat manakala memandang seseorang nan giat beragama dan menuntut pengetahuan adalah:

Pertama: Berusaha menjadi sepertinya

Kedua: Apabila tidak mampu, maka bermohon agar menjadi sepertinya

Ketiga: Apabila tetap tidak mampu, maka paling tidak jangan nyinyir alias merendahkannya dengan berucap, “Beragama nan biasa-biasa saja to.”

Sebab, jika sudah berani mengucapkan perkataan seperti itu, maka bisa dipastikan, si empunya ucapan tidak mempunyai penghormatan terhadap aliran Islam alias kurang ilmu, tetapi tidak berupaya mencerdaskan diri, sehingga menjadi arogan dengan sedikit pengetahuan nan dia miliki. Maka, jadilah orang nan rendah hati seperti nan dikatakan Imam Syafi‘i rahimahullah,

أحب الصالحين ولست منهم لَعَلّي أَن أَنالَ بِهِم شَفاعَه

“Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun saya bukan bagian dari mereka. Semoga dengan membersamai mereka, saya mendapat syafaat.” [3]

Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah

***

Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho

Artikel: Muslim.or.id

Sumber:

Diintisarikan dari kitab Zukhruf Al-Qaul pada Bab 30 dengan titel Al-Tadayyun Al-Ṭabī‘i dengan beberapa tambahan.

Catatan kaki:

[1] As-Sakhāwi. 1985. Al-Maqāṣid Al-Hasanah fī Bayāni Kaṣīrin min Al-Ahādīṣ Al-Musytahirah ’alā Al-Alsinah. Beirut: Dār Al-Kitāb Al-‘Arabi. Hlm. 513

[2] https://dorar.net/aqeeda/149/المبحث-الخامس-من-قواعد-الرد-على-المخالفين-الحق-لا-يعرف-بالرجال،-فإذا-عرف-الحق-عرف-أهله

[3] https://www.aldiwan.net/poem24674.html

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah