Berapa Besar Pahala Memberi Utang? Begini Penjelasannya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Sedekah adalah ibadah nan sangat dianjurkan dalam aliran Islam. Seseorang nan memberi infak harta, faedah hartanya bisa dirasakan oleh orang nan memerlukan dan tidak terlalu membutuhkan. Akan tetapi, orang nan memberi utang sudah pasti hartanya dipinjamkan kepada orang nan sangat membutuhkan. 

Berikut ini penjelasan Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengenai keistimewaan bagi orang nan memberi utang alias meminjamkan hartanya kepada orang nan memerlukan bantuan.

Nabi Muhammad SAW menyebut tentang seorang laki-laki nan suka melakukan maksiat dan dosa. Ketika laki-laki itu dihadirkan di Hari Penghitungan amal, maka tidak satu kebaikan pun ada pada dirinya. 

Lalu laki-laki itu ditanya, "Pernahkah engkau melakukan satu kebaikan?" Jawabnya, "Demi keagungan dan kemuliaan-Mu ya Allah, saya tidak mempunyai kebaikan nan bisa saya banggakan di hadapan-Mu. Akan tetapi, saya doyan memberi utang (pinjaman) kepada orang-orang miskin dalam perniagaan nan saya jalani, dan saya katakan kepada para penagih piutangku, 'Beri maaf dan tangguhkanlah utang itu kepada orang-orang miskin nan belum sanggup membayar, dan maafkan serta bebaskanlah utang orang-orang miskin nan sungguh tidak sanggup lagi membayarnya'." 

Kemudian Allah SWT berfirman, "Aku lebih berkuasa dan Maha Mengetahui daripada engkau untuk melakukan semua itu." Lalu Allah memudahkan perhitungannya dan mengampuni seluruh dosanya, serta memasukkannya ke dalam surga-Nya nan dinaungi kenikmatan serta keridhaan dari sisi-Nya." (Diriwayatkan Imam Muslim dari hadits Abu Mas'ud Radhiyallahu anhu)

Dalam kitab Ihya Ulumuddin dijelaskan bahwa semua itu disebabkan infak tidak selalu jatuh ke tangan orang-orang miskin nan sangat membutuhkan. Akan tetapi, terkadang malah disalurkan kepada mereka nan kurang membutuhkan. Sedangkan meminjamkan sesuatu jelas sekali arahnya bakal selalu kepada mereka nan sangat membutuhkannya.

Termasuk utang-piutang juga adalah jika seseorang menjual suatu peralatan tanpa ada pembayaran langsung pada saat transaksi dilakukan. 

Pernah diriwayatkan bahwa Imam al-Hasan al-Bashri Rahimahullah menjual seekor keledai kepada seseorang seharga 400 Dirham dengan langkah kredit. 

Pada saat jatuh tempo pembayaran, si pembeli (orang nan berutang) berbicara kepada al-Hasan, "Wahai Abu Sa'id (al-Hasan al-Bashri), maafkanlah lantaran saya belum bisa bayar sepenuhnya dari utangku kepadamu." 

Al-Hasan al-Bashri menjawab, "Aku memaafkanmu, dan saya kurangi utangmu 100 Dirham." 

Lalu si pembeli berkata, "Engkau telah melakukan baik kepadaku dengan memberiku pinjaman, wahai Abu Sa'id." 

Lalu al-Hasan al-Bashri menyambung, "Aku bebaskan lagi utangmu 100 Dirham." 

Akhirnya al-Hasan al-Bashri hanya menerima pembayaran utang sebesar 200 Dirham. Karenanya, si pembeli berkata, "Bukankah nilai keledai itu jatuh menjadi setengahnya?" 

Al-Hasan al-Bashri menjawab, "Beginilah semestinya kita melakukan baik kepada seseorang dalam urusan perniagaan, terutama kepada orang-orang nan belum bisa membayarkan pinjamannya."

Jadi, sikap ihsan dalam berniaga adalah mengampuni kepada nan belum bisa membayar, dan alias mengurangi sebagian dari utangnya. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Ambillah hakmu dengan mengampuni pembayaran utang orang nan berutang, baik itu dengan langkah menganggap lunas seluruhnya maupun sebagiannya saja. Sebab, Allah SWT bakal memudahkan hisab orang nan melakukan baik dalam berniaga." (Diriwayatkan Imam Ibnu Majah dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu)

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam