Jakarta -
Dari era peradaban antik hingga era modern, emas telah menjadi mata duit pilihan dunia. Namun, gimana sebaiknya Bunda berinvestasi emas saat ini?
Karakteristik emas yang unik membedakannya dari investasi lain. Selain kilaunya, persediaan logam yang terbatas dan sifatnya yang tidak dapat dihancurkan telah berkontribusi pada stabilitasnya sebagai penyimpanan nilai jangka panjang.
Berbeda dengan saham alias obligasi, emas berkarakter konkret. Emas mempunyai likuiditas tinggi di pasar dunia dan diakui secara universal sebagai aset berharga, terlepas dari kondisi politik alias ekonomi, alias ketidakstabilan geopolitik.
Penyebab nilai emas condong naik
Dilansir dari laman detikcom, nilai emas sempat mencetak rekor baru. Emas batangan keluaran Antam pernah menembus level tertinggi sepanjang masa di nilai Rp2.487.000 per gram, setelah naik Rp78.000 per gram.
Perencana Keuangan Finante, Rista Zwestika, CFP, WMI, WPS, pun menjelaskan beberapa penyebab nilai emas condong naik. Berikut di antaranya:
- Inflasi dan pelemahan mata uang: Ketika dolar Amerika Serikat (AS) melemah alias inflasi tinggi, penanammodal dunia beranjak ke emas.
- Kondisi geopolitik dan ekonomi global: Ketidakpastian (Seperti bentrok Rusia-Ukraina, Timur Tengah, alias perlambatan ekonomi AS-China) membikin permintaan emas meningkat.
- Kebijakan suku bunga: Saat The Fed menurunkan suku bunga, penanammodal mencari aset non-bunga seperti emas.
“Fakta 2025, ialah nilai emas bumi per Oktober 2025 berada di kisaran US$2.430-2.500/oz, rekor tertinggi sepanjang sejarah, akibat ketidakpastian ekonomi dunia dan ekspektasi penurunan suku kembang AS,” ujar Rista kepada HaiBunda, Rabu (22/10/2025).
Meskipun demikian, emas tetap menjadi aset lindung nilai (safe haven) yang krusial dalam portofolio.
Jenis emas yang tepat untuk investasi
Pada kesempatan ini, Rista juga menjelaskan bahwa masing-masing jenis emas mempunyai kelebihan dan kekurangan. Berikut rinciannya yang dapat Bunda perhatikan:
1. Emas batangan alias logam mulia
- Kelebihan: Nilai tinggi, mudah dijual, dan diakui global
- Kekurangan: Perlu tempat yang aman
2. Emas perhiasan
- Kelebihan: Bisa dipakai dan mempunyai nilai estetika
- Kekurangan: Potongan biaya pembuatannya tinggi
3. Emas digital
- Kelebihan: Praktis, bisa mulai dari yang kecil, dan tersimpan aman
- Kekurangan: Tidak bisa disentuh langsung
“Untuk investasi murni, pilih emas batangan alias digital bersertifikat seperti antam, UBS, dan Brankas Digital,” jelas Rista.
Risiko investasi emas
Sebelum memilih investasi emas, Bunda perlu memperhatikan beberapa kemungkinan akibat yang bakal timbul. Berikut di antaranya:
- Tidak menghasilkan cashflow: Berbeda dengan saham alias reksa biaya pendapatan tetap, emas tidak memberikan dividen alias bunga.
- Fluktuasi nilai jangka pendek: Dalam 3-6 bulan, nilai bisa naik turun cukup tajam.
- Risiko penyimpanan: Untuk emas fisik, akibat lenyap alias dicuri perlu diantisipasi dengan brankas alias jasa safe deposit box.
- Spread nilai beli-jual: Selisih nilai beli dan jual bisa cukup besar (sekitar 3-5 persen).
Cara menentukan jumlah investasi emas bagi pemula
Rista menjelaskan ada beberapa langkah yang dapat Bunda lakukan jika baru pertama kali investasi emas. Berikut di antaranya:
- Tentukan tujuan. Rista menjelaskan, “Misalnya seperti biaya darurat jangka menengah, alias pelindung nilai”.
- Hitung keahlian menabung. Alokasikan maksimal 10-15 persen penghasilan bulanan untuk emas.
- Mulai dari kecil, tetapi konsisten. “Lebih baik beli rutin setiap bulan (metode dollar cost averaging) daripada menunggu nilai paling murah,” tutur Rista.
Strategi investasi emas yang tepat
Ada pula beberapa perihal yang perlu Bunda perhatikan ketika melakukan investasi emas. Berikut strateginya:
- Pahami tujuan dan jangka waktu: Apakah untuk lindung nilai, tabungan, alias investasi jangka panjang.
- Mulai rutin dan konsisten: Gunakan sistem autodebet bulanan.
- Gunakan platform resmi
- Cek nilai harian dan selisih beli jual: Tidak perlu panik saat nilai turun sesaat.
- Hindari perhiasan untuk tujuan investasi murni: Nilai jualnya lebih rendah.
- Hindari mengalokasikan semua duit untuk investasi emas: Tetap diversifikasi dengan instrumen lain.
“Emas bagus untuk menjaga nilai, tapi kurang optimal untuk menumbuhkan nilai. Untuk biaya pensiun (jangka lebih dari 10 tahun), emas bisa menjadi pelengkap portofolio (10-20 persen), sementara porsi utama sebaiknya di instrumen yang memberi imbal hasil lebih tinggi seperti saham alias reka biaya indeks,” ujar Rista.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·