Beriman Dan Beramal Saleh (bag. 1)

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Di dalam kitabullah ada beberapa ayat nan mempunyai pembahasan tema nan serupa. Coba perhatikan ayat-ayat berikut ini, kira-kira kalimat apa nan sering terulang?

Ayat pertama,

Allah ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Barangsiapa mengerjakan kebaikan saleh, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka pasti bakal Kami berikan kepadanya kehidupan nan baik dan bakal Kami beri jawaban dengan pahala nan lebih baik dari apa nan telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Donasi Semarak Ramadan YPIA

Ayat kedua,

وَاَمَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهٗ جَزَاۤءً ۨالْحُسْنٰىۚ

“Adapun orang nan beragama dan mengerjakan kebaikan saleh, maka dia mendapat (pahala) nan terbaik sebagai balasan.” (QS. Al-Kahfi: 88)

Ayat ketiga,

اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ شَيْـًٔا ۙ

“Kecuali orang nan bertaubat, beragama dan mengerjakan kebaikan saleh, maka mereka itu bakal masuk surga dan tidak dizalimi (dirugikan) sedikit pun.” (QS. Maryam: 60)

Ayat keempat,

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ

“Dan sampaikanlah berita ceria kepada orang-orang nan beragama dan melakukan kebaikan saleh, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga nan mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. Al-Baqarah: 25)

Ayat kelima,

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“Dan orang-orang nan beragama dan mengerjakan kebaikan saleh, mereka itu penunggu surga. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 82)

Baca juga: Kapan Dibolehkan Menceritakan Amal?

Jika kita amati, kalimat nan sering terulang pada ayat-ayat di atas adalah beragama dan beramal saleh. Iman adalah syarat diterimanya kebaikan saleh. Terdapat banyak dalil syari nan menunjukkan bahwa syarat diterimanya kebaikan dan berbuah pahala ada tiga yaitu, islam, tulus dan mutaba’ah (mengikuti sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ketiga syarat ini terkumpul dalam firman Allah ta’ala,

وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا

“Dan barangsiapa nan menghendaki kehidupan alambaka dan berupaya ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang dia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang nan usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)

Allah ta’ala menjelaskan tiga syarat diterimanya kebaikan pada ayat di atas, yaitu: menginginkan alambaka (ikhlas), bersungguh-sungguh dalam beramal (mutaba’ah), dan mukmin.

Beramal saleh adalah salah satu upaya kita sebagai hamba Allah untuk mendapatkan akhir nan baik ialah surga. Walaupun sebenarnya kebaikan saleh semata bukanlah nan memasukkan kita ke dalam surga, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam di dalam sabda Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu,

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

“Tidak ada ibadah seorangpun nan bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, selain dengan rahmat dari Allah.” (HR. Muslim no. 2817)

Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Khalaf Al-Barbahariy rahimahullah mengatakan,

واعلم أنه لا يدخل أحد الجنة إلا برحمة الله

“Ketahuilah bahwasanya tidak ada seorangpun nan masuk ke dalam surga selain dengan rahmat Allah.”

Syekh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan maksud pernyataan di atas. Sisi nan pertama, “Surga itu mahal lagi tinggi dan tidak bisa digapai dengan amal. Betapa pun banyak ibadah seseorang, walaupun dia mengerjakan segala macam ketaatan. Sesungguhnya amalannya tidak sebanding dengan nikmat nan bakal diraih ialah surga. Maka walaupun seandainya surga ditakar dengan amal, kebaikan tidak bakal pernah setara dengannya, tidak bakal ada ibadah nan tersisa.”

Sisi nan kedua, “Sesungguhnya surga itu mahal dan tidak ada nan setara dengannya dari segala jenis amalan, kekayaan alias selainnya, tidak ada nan mengetahui keagungan surga selain Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi Allah memasukkan orang-orang mukmin ke dalamnya dengan rahmat-Nya disebabkan ibadah mereka. Maka kebaikan hanya menjadi karena saja dan bukan agunan seseorang pasti masuk surga, juga bukan sebagai tiket masuk ke dalamnya, oleh karenanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لن يدخل أحد منكم الجنة بعمله

“Tidak bakal masuk surga seorangpun di antara kalian dengan amalnya.”

Hadis ini mengingatkan agar seseorang tidak ujub dengan amalannya dan bukan berfaedah seseorang meninggalkan kebaikan (tidak beramal). Allah ta’ala berfirman,

ادخلوا الجنة بما كنتم تعملون 

“Masuklah ke dalam surga dengan (sebab) kebaikan nan kalian kerjakan.” (QS. An-Nahl: 32)

Huruf ba’ pada ayat merupakan ba’ as-sababiyah ialah lantaran karena ibadah nan kalian lakukan, dalilnya adalah sabda berikut,

لن يدخل أحد منكم الجنة بعمله، قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟ قال: ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمته

“Tidak bakal masuk surga seorangpun di antara kalian dengan amalnya. Mereka (para sahabat) berkata, “Dan tidak pula Engkau, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Tidak pula denganku selain jika Allah meliputiku dengan rahmat-Nya.” (Muttafaqun ‘alaih. Dikeluarkan oleh Al Bukhari (5349) dan Muslim (2816) dari sabda Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Maka seorang hamba tidak sepantasnya merasa ujub dengan amalnya. Seseorang tidak bakal masuk surga selain dengan karena amal. Maka jika seseorang tidak beramal dia tidak bakal masuk surga lantaran dia tidak mendatangkan sebabnya.”

Lanjut ke bagian 2: [Bersambung]

Baca juga: Ladang Amal Ibu Hamil dan Ibu Menyusui di Ramadan

Penulis: Atma Beauty Muslimawati

Artikel Muslimah.or.id

Referensi :

  • Al-Qur’anul Karim (tafsirweb.com)
  • Meneladani Akhak Generasi Terbaik (Terj), Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil dan Baha`Uddin bin Fatih Uqail, 2017, Darul Haq, Jakarta
  • Syarhus Sunnah lil Imam Muhammad Hasan bin Ali bin Khalaf al-Barbahariy, Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan, 1429H/2008M, Maktabah al-Hadi al-Muhammadi, Mesir
  • Syuruthu Qabulil A’malish Shalih, Dr. Shalih Abdul Aziz ‘Utsman Sindi, 1424H/2013M, Darul Lu`luah, Libanon-Beirut
Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id