Berlari Menuju Allah

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Ibadah “berlari menuju Allah” (الفرار الى الله) adalah berlari menuju Allah untuk mendapatkan keselamatan alias perlindungan dari murka Allah dan dari api neraka. Ibadah ini mempunyai kedudukan nan agung. Demikian pula, Allah telah menyiapkan jawaban bagi orang-orang nan bersegera berlari menuju Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Adz-Dzariyat,

فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ إِنِّي لَكُم مِّنۡهُ نَذِير مُّبِين

“Maka segeralah berlari menuju kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya saya seorang pemberi peringatan nan nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)

Dalam perihal ini, manusia terbagi menjadi dua, ialah orang nan berbahagia dan orang nan celaka. Orang nan berbahagia ialah orang nan segera berlari menuju Allah Ta’ala. Mereka adalah orang-orang nan mencari kebahagiaan dan kesuksesan bumi alambaka dengan bersegera berlari menuju Allah. Adapun orang nan celaka ialah orang nan berlari meninggalkan alias menjauh dari Allah, mereka tidak berlari menuju Allah. Ini adalah jalan dan karena kebinasaan dan kesengsaraan di bumi dan akhirat.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata ketika menafsirkan firman Allah di atas, “Berlarilah menuju Allah dan beramallah dengan menaati-Nya.” (Tafsir Ats-Tsa’labiy, 24: 562; Tafsir Al-Baghawi, 7: 379)

Ulama nan lain mengatakan, “Bebaskanlah dirimu dari balasan Allah menuju pahala dari Allah dengan ketaatan dan ketaatan.“ (Tafsir Al-Baghawi, 7: 379)

Segala sesuatu nan ditakuti hamba, dia bakal berlari menjauh darinya, selain Allah. Contoh, orang nan takut api, dia bakal berlari menjauh dari api agar tidak terbakar. Orang nan takut hewan buas, dia bakal berlari menjauh darinya. Namun, tidak demikian kondisi orang nan takut kepada Allah. Karena barangsiapa nan takut kepada Allah, maka justru dia bakal berlari mendekat dan menuju Allah. Allah Ta’ala berfirman menceritakan tobatnya tiga orang nan tidak ikut perang Tabuk,

حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ وَضَاقَتۡ عَلَيۡهِمۡ أَنفُسُهُمۡ وَظَنُّوٓاْ أَن لَّا مَلۡجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيۡهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡ لِيَتُوبُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ  

“Hingga andaikan bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah nan Maha penerima tobat lagi Maha penyayang.” (QS. At-Taubah: 118)

Seseorang nan berlari menuju Allah Ta’ala pasti menghadapi banyak halangan dan rintangan, ialah beragam jenis pelanggaran syariat, baik lahir maupun nan batin, nan bakal menghalang alias apalagi menghentikan perjalanannya menuju Allah. Secara umum, terdapat tiga penghalang dan hambatan, ialah 1) syirik kepada Allah; ini merupakan penghalang paling berat; 2) perbuatan bidah di dalam agama; dan 3) beragam macam kemakisatan. Seseorang bisa selamat dari perbuatan syirik andaikan memurnikan tauhid; seseorang bisa selamat dari bidah andaikan berpegang teguh dengan sunah; dan seseorang bisa selamat dari maksiat andaikan bertobat dengan tulus.

Seseorang nan berlari menuju Allah memerlukan tiga perihal nan kudu dia ilmui dan amalkan, yaitu:

Pertama, mengenal siapa nan menjadi tujuannya berlari, ialah Allah.

Mengenal Allah adalah dengan mengenal nama, sifat, keagungan, kesempurnaan, dan juga mengenal kerasnya balasan dan siksaan (azab) Allah. Semakin besar pengenalan seorang hamba kepada Allah, maka bakal semakin sigap pula proses berlarinya menuju Allah. Allah Ta’ala berfriman,

إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ

“Sesungguhnya nan takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fatir: 28)

Siapa saja nan mengenal Allah, maka dia bakal takut dengan-Nya, antusias dalam ibadah, serta menjauhkan diri dari bermaksiat kepada-Nya.

Kedua, mengenal jalan nan ditempuh ketika berlari menuju Allah, ialah konsisten dalam melakukan ketaatan.

Oleh lantaran itu, telah kita sebutkan sebelumnya bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata ketika menafsirkan firman Allah di atas, “Berlarilah menuju Allah dan beramallah dengan menaati-Nya.” (Tafsir Ats-Tsa’labiy, 24: 562; Tafsir Al-Baghawi, 7: 379)

Jalan nan kudu ditempuh oleh orang nan berlari menuju Allah adalah konsisten di atas jalan Allah nan lurus, tidak menyimpang, tidak berbelok, dan tidak berpaling. Bahkan, dia terus konsisten (istikamah) menempuhnya dengan lurus menuju Allah dengan melakukan beragam macam tanggungjawab dan menjauhi beragam larangan dalam rangka mencari rida dan pahala dari Allah.

Ketiga, mengenal tujuan akhir dari jalan ini, ialah kesuksesan mendapatkan surga dan rida Allah.

Orang nan berlari menuju Allah bakal selamat dari murka Allah dan mendapatkan kebahagiaan dengan keridaan Allah. Orang nan berlari menuju Allah adalah mereka nan selamat pada hari hariakhir dari neraka dan masuk ke dalam surga. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan bumi itu tidak lain hanyalah kesenangan nan memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

Tiga perihal di atas terkumpul dalam firman Allah Ta’ala,

وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِن فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورا

“Dan barangsiapa nan menghendaki kehidupan alambaka dan berupaya ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang nan usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’: 19)

Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Allah menyebut keadaan upaya nan dibalas baik dengan tiga hal, yaitu: 1) menghendaki kehidupan akhirat; 2) mengerahkan upaya dengan sungguh-sungguh; dan 3) pelakunya adalah orang mukmin.” (Fathul Qadir, 3: 258)

Kedudukan semacam ini tidak bisa didapatkan dengan berlambat-lambat, bermalas-malasan, alias menunda-nunda. Akan tetapi, hanya bakal diraih dengan bergerak sigap dan bersegera. Allah Ta’ala berfirman,

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَة مِّن رَّبِّكُمۡ

“Dan bersegeralah Anda kepada pembebasan dari Tuhanmu.“ (QS. Ali Imran: 133)

سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَة مِّن رَّبِّكُمۡ

“Berlomba-lombalah Anda kepada (mendapatkan) pembebasan dari Tuhanmu.“ (QS. Al-Hadid: 21)

Barangsiapa nan tidak berlari menuju Allah ketika berada di bumi ini, maka kelak di alambaka dia bakal berkata, “Kemanakah tempat berlari?” Padahal, tidak ada lagi tempat (tujuan) berlari ketika itu, lantaran semuanya sudah terlambat. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا بَرِقَ ٱلۡبَصَرُ  ؛ وَخَسَفَ ٱلۡقَمَرُ ؛ وَجُمِعَ ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ ؛ يَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ يَوۡمَئِذٍ أَيۡنَ ٱلۡمَفَرُّ ؛ كَلَّا لَا وَزَرَ

“Maka andaikan mata terbelalak (ketakutan), dan andaikan bulan telah lenyap cahayanya, dan mentari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata, “Ke manakah tempat berlari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!” (QS. Al-Qiyamah: 7-11)

Allah Ta’ala juga berfirman,

مَا لَكُم مِّن مَّلۡجَإ يَوۡمَئِذ وَمَا لَكُم مِّن نَّكِير

“Kalian tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu).” (QS. Asy-Syura: 47)

Maksudnya, tidak ada bagimu pelindung nan bakal melindungimu, dan tidak ada pula tempat nan menutupimu sehingga engkau bisa berlindung dari penglihatan Allah. Bahkan, Allah meliputimu dengan ilmu, penglihatan, serta kekuasaan-Nya. Maka tidak ada tempat perlindungan selain hanya kepada Allah. (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 215)

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk bisa bertobat dengan setulus-tulusnya dan menjadi hamba nan senantiasa berlari menuju kepada Allah dengan sebaik-sebaiknya. Dialah satu-satunya tempat kembali dan tempat bergantung, tidak ada daya dan kekuatan selain dari Allah semata.

Baca juga: Berjuang Menundukkan Hawa Nafsu

***

@Rumah Kasongan, 19 Syawal 1445/ 28 April 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 33; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah