Berprasangka Baik Kepada Allah

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Perintah berprasangka baik kepada Allah

Nabi ﷺ bersabda,

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku.’”  (HR. Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Wasilah bin Asqa’, dia berbicara bahwa Rasul ﷺ bersabda,

قال اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Maka, berprasangkalah kepada-Ku menurut apa nan dikehendakinya.’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no. 16.016 dan Al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih Al-Jami’, no. 4316.)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda,

قال اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Jika dia bersangka baik kepadaku, maka (kebaikan) itu untuknya dan jika dia bersangka buruk, maka itu untuknya.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no. 9076 dan Al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih Al-Jami’, no. 4315.)

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ tiga hari sebelum wafatnya bersabda,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati, melainkan dia kudu berhusnuzan pada Allah.” (HR. Muslim no. 2877)

Termasuk ibadah hati nan paling agung dan tanggungjawab ketaatan nan mulia adalah husnuzan billah (berbaik sangka kepada Allah). Sesunggguhnya berbaikan sangka kepada Allah mempunyai kedudukan nan tinggi dalam kepercayaan nan mulia ini. Allah tidaklah membikin kecewa hamba nan berbaikan sangka kepada-Nya. Karena Allah tidak bakal mengecewakan angan orang nan berambisi dan tidak menganggap ibadah orang nan beramal. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱصۡبِرۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan bersabarlah, lantaran sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang nan melakukan kebaikan.” (QS. Hud:115)

Terdapat banyak dalil nan menunjukkan agungnya berbaikan sangka kepada Allah dan akibat bagi pelakunya berupa kedudukan nan terpuji dan pengaruh nan besar serta buah manis keberkahan di bumi dan akhirat. Betapa agung kedudukannya, lantaran ini merupakan ibadah dan ketaatan nan mulia lagi utama. Semakin kuat berbaikan sangka kepada Allah, maka bakal semakin menghasilkan buah nan manis bagi pelakunya dan memberikan akibat keberkahan serta pujian baik di bumi maupun di  akhirat.

Mengenal nama dan sifat Allah bakal membuahkan berprasangka baik kepada Allah

Berbaik sangka kepada Allah merupakan bagian dari mengenal Allah. Sesungguhnya andaikan seorang hamba semakin besar pengenalannya kepada Allah terhadap nama dan sifat Allah (bahwasanya rahmat dan pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu, bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Allah Maha Penerima tobat dan Maha Pemurah, nan Maha memberikan kebaikan, menerima tobat hambanya, dan mengampuni beragam dosa, Allah tidak melipatgandakan jawaban dosa, apalagi Dia sangat luas ampunan-Nya, dan sifat kemuliaan serta keagungan lainnya), maka bakal bertambah pula sifat berbaikan sangka kepada Allah. Hal ini lantaran sumber dari berbaikan sangka kepada Allah adalah baiknya pengenalan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah. Setiap nama Allah dan setiap sifat Allah mempunyai nilai peribadatan dan sifat berbaikan sangka kepada Allah nan berasosiasi dengannya. Ini adalah perkara nan hendaknya diketahui dan dipahami dalam masalah ini.

Jika seorang muslim mengetahui bahwa di antara nama-nama Allah adalah Al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun), maka dia bakal berbaikan sangka dengan beristigfar dan memperbanyak istigfar serta perhatian dan senantiasa konsisten untuk terus meminta maaf kepada Allah terhadap semua dosa, ketergelinciran, dan kesalahannya.

Jika seorang hamba mengetahui bahwa di antara nama Allah adalah At-Tawwab (Yang Maha Menerima tobat) dan Allah menerima tobat dari hamba serta mengampuni kesalahannya, maka dia bakal mempunyai sifat berbaikan sangka kepada Allah dengan bertobat kepada-Nya setiap dia melakukan dosa dan terjerumus dalam kesalahan. Apabila kesalahannya besar, maka Allah Mahaluas ampunan-Nya dan Dia bakal menerima tobat bagi orang nan bertobat seberapa pun besar dosa dan kesalahan hamba. Allah Ta’ala berfirman,

قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku nan malampaui pemisah terhadap diri mereka sendiri, janganlah Anda berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah nan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)

Jika seorang hamba tertimpa musibah alias sakit, maka dia bakal berprasangka baik kepada Allah lantaran sesungguhnya Allah adalah Asy-Syafi nan tidak ada kesembuhan selain kesembuhan nan berasal dari Allah Ta’ala. Sebagaimana perihal ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim Khalilurrahman nan disebutkan Allah dalam Al Qur’an,

وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ

“Dan andaikan saya sakit, Dialah nan menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara’: 80)

Ini adalah merupakan corak berprasangka baik kepada Allah. Apabila seorang hamba mengalami musibah alias sakit, maka dia akan  berprasangka baik kepada Allah bahwasanya Allah bakal menyembuhkan dan menghilangkan kesulitannya.

Jika berkurang apa nan dimilikinya alias ditimpa kekurangan dan kefakiran, maka dia berbaikan sangka kepada Allah lantaran sesungguhnya Allah sangat luas karunia-Nya dan banyak pemberian-Nya. Dan sesungguhnya apa nan ada padanya adalah di antara nikmat nan Allah anugerahkan. Maka, dengan demikian, bisa dipahami bahwa berbaikan sangka kepada Allah senantiasa melekat pada diri seorang mukmin dalam setiap kondisi dan keadaannya dan dalam seluruh kebaikan dan ibadahnya.

Itu semua dibangun di atas iktikad nan kokoh dan ketaatan nan kuat di hati orang beragama dan percaya kepada Allah. Tidaklah seorang hamba berbaikan sangka kepada Allah dan menjadi pribadi nan jujur dalam berbaikan sangka kepada Allah, selain Allah bakal membalas persangkaannya, dan semua kebaikan berasal dari Allah. Maka, setiap hamba mengharapkan kebaikan dan menginginkannya untuk dirinya alias untuk orang lain semuanya berasal dari Allah.

Kedudukan mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya nan mulia merupakan kedudukan nan agung, serta mempunyai buah manis dan akibat keberkahan serta pujian bagi hamba nan beragama di kehidupan bumi maupun akhiratnya. Oleh lantaran itu, di antara perkara besar nan bisa menumbuhkan rasa berbaikan sangka kepada Allah adalah memahami persoalan ini ialah tentang makrifatullah (mengenal Allah).

Berprasangka baik kepada Allah diwujudkan dengan banyak beramal

Berprasangka baik kepada Allah tidak selayaknya dibarengi dengan sifat meremehkan, menyia-nyiakan, menelantarkan, dan juga mengikuti syahwat, namun hendaknya dibarengi dengan kebagusan kebaikan dan kesempurnaan dalam menghadap kepada Allah. Adapun orang nan jelek perangainya dan pelaku kemaksiatan, maka dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya bakal menjauhkan dirinya dari sikap prasangka baik kepada Allah.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin adalah nan paling baik prasangkanya kepada Allah dan paling baik amalnya, Adapun orang fajir adalah nan paling jelek prasangkanya kepada Allah dan paling jelek dalam beramal.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushanaf no. 37925.)

Ibnul Jauzy rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa benarnya angan seorang mukmin terhadap karunia dan pemberian Allah bakal menyebabkan sikap berprasangka baik kepada Allah. Bukanlah prasangka baik kepada Allah seperti apa nan diyakini oleh orang-orang tolol berupa angan kepada Allah, namun disertai dengan beragam perbuatan maksiat. Permisalan mereka dalam perihal ini seperti orang nan berambisi hasil panen, namun tidak menanam; alias berambisi anak, tetapi tidak menikah. Adapun orang nan bijak, maka dia bertobat kepada Allah dengan angan diterima, dan melakukan ketaatan dengan angan mendapat pahala.“ (Kasyful Musykil min Hadis As Shahihain)

Hendaknya setiap hamba menasihati dirinya untuk bersungguh-sungguh dalam memperbagus kebaikan nan merupakan buah dari sikap berprasangka baik kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan orang-orang nan berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, betul-betul bakal Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah betul-betul beserta orang-orang nan melakukan baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

***

Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.S.

Artikel: Muslim.or.id

Referensi:

Kitab Ahadits Ishlahil Quluub Bab 34, karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah