Bersenggama Setelah Batal Puasa Di Siang Ramadhan, Wajib Kafarat?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Di bulan Ramadhan, seseorang kudu melakukan ibadah puasa menahan lapar dan dahaga. Tidak hanya itu, seluruh umat Muslim diperintahkan menahan diri untuk tidak bersenggama di waktu puasa Ramadhan. Siapapun nan berasosiasi intim saat puasa Ramadhan, maka dia terkena hukuman berat kafarat.

Akan tetapi, nafsu birahi bisa datang kapan saja. Jika tak kuat menahan, seseorang pasti tunduk mematuhi titahnya. Orang nan sudah dikuasai birahi, bakal berupaya agar syahwatnya segera terlampiaskan. Tak peduli bulan Ramadhan dan hukuman nan bakal dijatuhkan, nan krusial rencana birahi bisa terpenuhi.

Orang nan dikuasai nafsu birahi biasanya pandai mengakali sanksi. Nah, agar terlepas dari hukuman lantaran bersenggama di bulan Ramadhan, dia makan terlebih dulu baru kemudian bersetubuh dengan sang istri. Pertanyaannya, gimana norma sengaja membatalkan puasa Ramadhan? Apakah orang nan bersenggama setelah makan ketika puasa Ramadhan tetap dikenai hukuman kafarat?

Kita tahu, bahwa puasa Ramadhan hukumnya wajib. Jika seseorang sudah masuk melakukan perbuatan wajib, maka dia kudu menyempurnakannya dan haram menggagalkan alias membatalkannya di tengah jalan. Oleh lantaran itu, haram hukumnya sengaja makan saat siang puasa Ramadhan nan tengah dijalani apalagi menurut Malikiyah dan Hanafiyah, pelakunya wajib bayar kafarat.

Oleh lantaran haram membatalkan puasa nan sedang dilaksanakan, maka seorang istri haram hukumnya menaati perintah suami nan mengajaknya makan di siang Ramadhan, apalagi tujuannya untuk menyiasati hukuman senggama.

Mengenai hukuman kafarat orang nan bersenggama setelah sengaja makan, ustadz terbelah menjadi dua kubu. Mazhab Syafi’iyah menyatakan bahwa orang tersebut tidak wajib bayar kafarat. Sedangkan Jumhur Ulama (Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah) menyatakan tetap kudu bayar kafarat.

Pendapat Imam Mazhab 

الشافعية قالوا : ما يوجب القضاء والكفارة ينحصر في شيء واحد وهو الجماع بشروط الى ان قال السادس : أن يكون الجماع مستقلا وحده في إفساد الصوم فلو أكل في حال تلبسه بالفعل فإنه لا كفارة عليه وعليه القضاء فقط. الفقه على المذاهب الأربعة (ج ١ / ص ٩٠٣). 

يجب القضاء والكفارة مع التعزير وإمساك بقية اليوم، بشيء واحد، وهو الجماع الذي يفسد صوم يوم من رمضان بشروط أربعة عشر وهي : – الى ان قال – أن يفسد الصوم بالجماع وحده: فإن أكل ثم جامع، لا كفارة عليه، ولا كفارة بغير الجماع كالأكل والشرب والاستمناء باليد، والمباشرة فيما دون الفرج المفضية إلى الإنزال. الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (ج ٣ / ص ١٧٢٢). 

Artinya: “Bersenggama merupakan perihal nan dapat merusak puasa dan orang nan melakukannya wajib mengganti (qadla’) puasanya, bayar kafarat, mendapat ta’zir serta menahan diri di sisa hari puasa dengan syarat:–yang keenam, puasanya rusak karena jimak bukan nan lain. Jika seseorang makan terlebih dulu lampau bersenggama, maka dia tidak wajib bayar kafarat. Tidak ada kafarat karena selain senggama seperti makan, minum, onani/masturbasi dan hal-hal nan menyebabkan ejakulasi lainnya selain bersenggama.”

وأما المسألة الأولى : وهي هل تجب الكفارة بالإفطار بالأكل والشرب متعمدا فإن مالكا وأصحابه وأبا حنيفة وأصحابه والثوري وجماعة ذهبوا إلى أن من أفطر متعمدا بأكل أو شرب أن عليه القضاء والكفارة المذكورة في هذا الحديث. وذهب الشافعي وأحمد وأهل الظاهر إلى أن الكفارة إنما أفطر في الإفطار من الجماع فقط. بداية المجتهد – الرقمية (ج ١ / ص ٣٠٢).

Artinya: “Masalah pertama, apakah makan dan minum dengan sengaja mewajibkan kafarat? Imam Malik dan Abu Hanifah beserta murid-muridnya, Ats-Tsaury, dan sekelompok ustadz beranggapan bahwa orang nan membatalkan puasanya secara sengaja dengan langkah makan alias minum wajib bayar kafarat nan tertera dalam hadits. Sementara Imam syafi’i, Imam Ahmad, dan aliran skripturalis beranggapan bahwa hanya senggama nan mewajibkan kafarat.”

وَكَذَلِكَ الْمُجَامِعُ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ إِذَا تَعَدَّى أَوْ شَرِبَ الْخَمْرَ أَوَّلًا ثُمَّ جَامَعَ ، قَالُوا : لَا تَحِبُ عَلَيْهِ الْكَفَّارَةُ ، وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ ؛ فَإِنَّ إِضْمَامَهُ إِلَى إِثْمِ الْجمَاعِ إِثْمَ الْأَكْلِ وَالشَّرْبِ لَا يُنَاسِبُ التَّخْفِيفَ عَنْهُ ، بَلْ يُنَاسِبُ تَغْلِيظَ الْكَفَّارَةِ عَلَيْهِ. إعلام الموقعين عن رب العالمين (ج ١ / ص ٤٩٦).

Artinya: “Termasuk siasat (hilah) nan tidak diperbolehkan adalah, orang nan melakukan senggama di siang bulan Ramadhan tetapi dia makan alias minum khamr terlebih dulu lampau bersenggama. Menurut sementara ulama, orang tersebut tidak wajib bayar kafarat. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Seharusnya, dia mendapatkan hukuman seberat-beratnya dengan bayar kafarat lantaran dia telah mengumpulkan dua pelanggaran, ialah bersenggama dan sengaja makan alias minum saat puasa Ramadhan.”

ومن أكل ثم جامع لزمته الكفارة وكذالك كل مفطر وطئ والامساك يلزمه. المحرر في الفقه على مذهب الامام احمد بن حنبل (ج ١/ص ٢٣٠).

Artinya: “Barang siapa makan kemudian bersenggama, maka dia wajib bayar kafarat. Demikian pula orang nan membatalkan puasanya nan melakukan senggama sementara dia wajib menahan diri (untuk makan, minum, senggama, dan semacamnya).” 

Demikian Wallahu a’lam bishawab.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah